Memaksimalkan Otak Kiri-Kanan dengan Coretan Berwarna
Mengubah kebiasaan dengan memperkenalkan pengalaman baru tak lepas dari pro-kontra. Seperti dialami Murbadi Yohanes, guru kelas IV di Sekolah Dasar Katolik Mater Dei di Pamulang, Tangerang, saat memperkenalkan metode pemetaan pikiran (mind map) kepada anak didiknya empat tahun lalu. Murbadi tidak hanya ditertawakan, tetapi juga dicemooh orangtua murid dan guru karena memakai metode yang belum pernah dilakukan sebelumnya. ”Dua tahun pertama berat. Banyak kendala. Orangtua murid kerap protes kenapa anak tidak mencatat di sekolah. Yang ada coretan anak yang tak mereka mengerti,” kata Murbadi, Rabu (9/9).
Murbadi mulai menyosialisasikan metode ini kepada orangtua murid. Akhirnya muncul kesadaran metode itu membuat anak lebih bebas dan ekspresif. Untuk sementara, kata Murbadi, metode ini baru dilakukan di kelas IV dan V SD pada semua mata pelajaran. Adapun untuk kelas I dan II SD metode ini digunakan pada pembuatan rencana kegiatan belajar. ”Yang penting anak senang dan tahu cara belajar,” kata Murbadi.
Namun, menurut Kepala Sekolah SDK Mater Dei, Sr Veronique Marie SPM, tak semua mata pelajaran bisa dipaparkan dengan metode itu. Tak semua anak juga cocok dengan metode itu karena tiap anak memiliki gaya belajar berbeda. ”Kuncinya di kreativitas guru,” ujarnya.
Di tempat terpisah, Heri Purnomo, guru kelas I dan II SMA Regina Pacis, Jakarta, juga tidak mengharuskan anak didiknya memakai metode yang dapat digunakan anak untuk menelusuri materi pelajaran yang pernah dipelajari itu. ”Metode ini bisa membantu rencana kegiatan belajar. Anak jadi tahu nanti harus melakukan apa,” kata Heri.
Berpikir radian
Djohan Yoga, instruktur pemetaan pikiran dari IndoMind Map®, Selasa, mengatakan, metode ciptaan Tony Buzan tahun 1970-an itu adalah alat berpikir yang memakai otak kiri (kata, angka, logika) dan kanan (gambar, warna, ritme, imajinasi) secara simultan dan sinergis yang menjadi alat visualisasi sederhana membantu berpikir lebih cepat, menata ide pikiran, solusi masalah, dan membuat keputusan dengan cepat.
Penggunaan otak kanan tak maksimal karena sistem pendidikan Indonesia membiasakan penggunaan otak kiri dengan hanya mengembangkan kecerdasan verbal dan logika.
Sumber: Kompas, Kamis, 10 September 2009


Leave a Reply