Yang Antik Nan Cantik di Festival Malang Kembali IV (1)

Festival Malang Kembali IV (Malang Tempo Doeloe) yang digelar di sepanjang Jl. Ijen tanggal 21-24 Mei kemarin bisa dibilang cukup sukses menarik antusiasme warga sekitar kota Malang. Pasalnya, setiap hari festival tersebut tak pernah sepi dari pengunjung. Pengunjung dapat menikmati suguhan hiburan rakyat, makanan tradisional, dan juga menjadi ajang pameran benda-benda kuno (barang tempo doeloe). Setelah saya amati, sebenarnya barang tempo doeloe itu termasuk barang yang awet, namun karena model, bahan, maupun cara kerjanya kurang praktis, maka barang ini semakin ditinggal dan hanya menjadi kenangan. Beberapa barang tempo doeloe yang saya temui di Festival Malang Kembali IV kali ini antara lain:

1.      Sepeda

Ada banyak sepeda yang dipajang di Festival Malang Kembali IV (Malang Tempo Doeloe). Rata-rata sepeda jenis onta. Ada yang terawat, ada pula yang dipamerkan dalam keadaan permukaan sepeda sudah berkarat.

sepeda-007

2.       Sepeda motor

sepeda-motor-kuno-003Ada beberapa sepeda motor kuno yang dipajang di sepanjang Festival Malang Kembali IV (Malang Tempo Doeloe). Ada sepeda motor DKW 98 cc tahun 1935, HMW Foxinette 38 cc tahun 1940, model Puch 250 cc dari Inggris tahun 1952 yang dijual dengan harga Rp 5 juta.

3.       Telepon

telepon-engkolTelepon yang dipajang di Festival Malang Kembali IV (Malang Tempo Doeloe) kemarin rata-rata adalah jenis telepon putar tahun 1970-an. Namun ada satu telepon engkol. Telepon ini sejenis “interkom” karena tanpa nomor-nomor untuk menghubungi. Biasanya telepon engkol ini dipakai untuk pabrik atau stasiun kereta api.

4.       Alat cetak kertas

alat-cetak-kertas

Alat cetak kertas ini saya temui di depan stan Kantor Pos. Bahan dasarnya dari besi. Lumayan berat ketika saya coba untuk mengangkat atau menggesernya.

5.       Lumpang dan Alu

lumbung-dan-aluPada jaman dulu, lumpang ini digunakan untuk memisahkan kulit beras (merang). Selain itu, lumpang juga digunakan untuk menghaluskan beras, kopi, jagung, dan bahan makanan lain.

6.       Kwali dan Tungku

kwali-dan-tungkuSebelum ada kompor, orang dulu memasak menggunakan tungku. Bahan bakarnya adalah kayu. Sedang kwali digunakan sebelum panci diproduksi. Biasanya digunakan untuk memasak sayur, atau menanak nasi. Kwali ini terbuat dari tanah liat.

7.       Uang

uang-kuno-001Di Festival Malang Kembali (Malang Tempo Doeloe) ada beberapa stan yang memajang uang tempo dulu. Uang yang dipajang beragam, dari jaman penjajahan Belanda, Jepang, sampai uang sen dan rupiah model lama. Ada uang logam ada juga uang kertas.

8.       Buku

buku-001

Ada beberapa stan yang menjual buku dan majalah kuno.

9.       Koper

koper-001

Ada beberapa koleksi koper tempo doeloe di Festival Malang Kembali IV ini. Rata-rata kondisinya kurang terawat.

10.   Kursi

kursi

Kursi jaman kuno, rata-rata berbahan dasar kayu dan bambu. Kayunya pun tak sembarang kayu, biasanya yang dipakai adalah kayu jati. Makanya kursi jaman dulu jarang rusak, tak seperti kusi sofa jaman sekarang.

11.   Alat giling kopi

alat-giling-kopi

Alat giling kopi model tempo doeloe ini mempunyai ukuran kecil. Berbeda dengan mesin giling kopi yang sekarang, untuk menggiling kopi kita memerlukan sedikit tenaga ekstra dengan memutar bagian alat putarnya untuk mendapatkan kopi yang halus.  Alat giling kopi ini dijual dengan harga Rp 60 ribu.

12.   Damar sorot/biskop

damar-sorot

Damar sorot/biskop ini dipajang di depan stan Kantor Pos bersama dengan alat cetak kertas. Damar sorot ini digunakan untuk memutar film pada jaman dulu.

13.   Lampu minyak

lampu-minyak

Ada yang bilang teplok, paser, sentir, tapi umumnya orang menyebut simpel saja lampu minyak tanah, karena memang bahan bakarnya dari minyak tanah. Lampu ini bisa menjadi alternatif jika listrik sedang mati. Salah satu lampu antik yang saya temui, terbuat dari kaleng sebagai tempat minyaknya.

14.   Jam

jam-001Jam dinding dan jam weker tempo doeloe ini saya temui di dua stan. Ketika saya berkeliling tanggal 22, jam dinding ini masih ada 2 buah. Namun ketika saya berkeliling lagi tanggal 24 pagi, jam dindingnya hanya tinggal satu. Wah, cepat juga lakunya ya?

15.   Alat pemutar musik piringan hitam

piring-hitam-dan-alat-putarSebelum ada kaset, orang dulu mendengarkan musik dengan menggunakan piringan hitam. Piringan hitam yang saya temukan di Festival Malang Kembali (Malang Tempo Doeloe) ini ada 2 macam, yang satu berukuran kecil (diameter 18 cm), sedang satunya berukuran besar (diameter 36 cm). Salah satu alat putar yang saya temukan di sini bermerk National.

16.   Radio

radio-001

Ada beberapa merk radio yang bisa ditemui di Festival Malang Kembali IV kali ini, antara lain Zenith, Philips, Siera.

17.   Kentongan

kentongan

Pada jaman dulu, kentongan biasanya digunakan untuk mengumpulkan penduduk, atau memberi tanda bahaya. Sekarang, keberadaannya sudah jarang didapatkan, tergeser dengan telepon dan hp.

18.   Foto dan lukisan

gajah-mada

Ada beberapa foto dan lukisan yang saya temui. Salah satunya adalah lukisan Gajah Mada, Patih Kerajaan Majapahit pada masa kekuasaan Raja Hayam Wuruk.

19.   Wayang

wayang-kulit-001

Wayang yang dipajang di Festival Malang Kembali IV (Malang Tempo Doeloe) ini terbilang cukup lengkap. Dari wayang kulit sampai wayang klitik (terbuat dari kayu).

20.   Kamera

kamera-agfa-isolaKamera yang saya temukan ada 2 jenis, yaitu kamera Polaroid dan kamera Agfa Isola. Usut punya usut, ternyata kamera Agfa Isola ini asalnya dari Jerman. Diproduksi sekitar tahun 1957-1963. Modelnya terbilang cukup modern untuk kamera tempo doeloe.  Kamera ini dilengkapi lensa kaca, tubuh kamera terbuat dari plastik dan logam. Di Festival Malang Kembali, kamera ini sudah dilengkapi dengan tambahan lampu flash, tas kamera, dan tripod.

21.   Brangkas

brangkas

Brangkas yang saya temukan di Festival Malang Kembali (Malang Tempo Doeloe) ini berbahan dasar besi. Cukup berat ketika coba saya angkat. Brangkas ini sudah dilengkapi dengan gembok.

22.   Gembok

gembokSaya hanya bisa membayangkan, jangan-jangan ini gembok pernah dipakai tentara Marsose-Belanda untuk mengurung para pejuang Tanah Air? Atau gembok ini pernah dipakai di sebuah ruang penjara? atau di sebuah pintu gerbang rumah tuan tanah? Yang jelas, gembok-gembok ini merupakan saksi bisu sejarah. Sayang, gembok-gembok ini sepertinya kurang terawat. Bisa dilihat dari karat yang menyelimuti permukaaan gembok. Harga paling murah dari gembok ini Rp 50 ribu, dan yang paling mahal Rp 200 ribu.

23.   Wajan

wajan

Wajan yang ada di Festival Malang Kembali (Malang Tempo Doeloe) ini berukuran besar. Biasanya wajan ini dulu digunakan untuk membuat jenang, salah satu makanan tradisional tempo doeloe.

24.   Senter

senter

Di Festival Malang Kembali (Malang Tempo Doeloe) ini saya hanya menemukan 1 senter berukuran kecil.

25.   Tempat sirih untuk menginang

tempat-sirihOrang dulu mempunyai kebiasaan mengunyah sirih beserta kelengkapan yang lainnya seperti ditambah gambir (buah pinang kering), tembakau serta kapur putih, namun seiring kemajuan jaman kebiasaan ini mulai ditinggalkan. Padahal, menurut penelitian, menginang bisa memperkuat gigi. Wah, sayang juga ya?

26.   Kendi

Tempat air minum tempo doeloe ini sekarang semakin jarang digunakan. Orang kebanyakan tidak tahan dengan bau tanahnya ketika pertama kali dipakai. Padahal, jika dibandingkan, air minum akan lebih segar rasanya bila diletakkan di dalam kendi, dibanding di dalama teko plastik/kaca.

27.   Raket

raket

Berbeda dengan raket jaman sekarang, raket tempo doeloe ini bergagang kayu. Raket ini adalah raket yang digunakan untuk bermain tenis. Wah, antik juga ya?

28.   Mesin ketik

mesin-ketik-001

Mesin ketik yang saya temukan di Festival Malang Kembali (Malang Tempo Doeloe) berbahan dasar besi. Huruf-hurufnya masih terlihat jelas. Salah satu mesin ketik yang saya temukan bermerk Remington produksi Amerika. Wooow!!

29.   Tempat minum

tempat-minum-001

Tempat minum tempo doeloe ini berbahan dasar plastik dan alumunium. Kalau dilihat kondisinya masih cukup baik. Lapisan plastiknya tebal sehingga tidak mudah pecah.

30.   Bangku sekolah, kapur tulis, sabak, dan penghapus

bangku-sekolahJaman dulu, anak-anak yang bersekolah tidak mempunyai buku. Alat tulis yang digunakan adalah sabak, kapur tulis, dan penghapus. Setiap satu pelajaran berakhir, materi yang ditulis di sabaknya juga harus dihapus dan diganti dengan materi baru. Wah, terbayang ya bagaimana kuatnya daya ingat orang jaman dulu? Sekali menulis langsung menghafal. Bagaimana kalau diterapkan di jaman sekarang? Yang pasti tingkat ketidaklulusan akan naik pesat.

31.   Setrika

setrika-ayamSetrika yang saya temui rata-rata adalah setrika ayam. Setrika tempo doeloe ini berbahan dasar besi dan berbahan bakar arang. Cara pakainya cukup mudah, cukup masukkan arang yang sudah membara melalui lubang sirkulasinya, diamkan beberapa menit sampai panasnya menyebar, setrika sipa dipakai. Hasilnya? Jangan ditanya! Baju, kaos, jas, kemeja, celana bahan pun bisa jadi rapi jali. Kadangkala ketika si pengelola listrik negara sering byar pet, setrika ini masih ada gunanya. Bisa tetap gaya walau tanpa listrik.

32.   Dakon

dakon-001Mainan tempoe doeloe ini sudah sangat jarang dimainkan oleh anak-anak jaman sekarang. Keberadaannya kalah dengan playstation, boneka, video game, dll. Padahal, mainan ini termasuk mainan yang aman tanpa radiasi dan murah. Cara memainkannya juga cukup mudah, tinggal membagi biji-bijinya ke semua lubang dengan merata, kemudian dimainkan. Permainan ini bisa melatih anak-anak untuk belajar berhitung sambil bermain. Sayang sekali, keberadaan dakon ini tak lagi digemari.

Berikut adalah koleksi benda-benda antik lainnya:

Bagaimana? Meskipun barang-barang itu antik, tapi tetap cantik bukan?

Artikel terkait: Yang Antik Nan Cantik  di Festival Malang Kembali IV (2), Yang Antik Nan Cantik di Festival Malang Kembali IV (3)

7 Responses to “ Yang Antik Nan Cantik di Festival Malang Kembali IV (1) ”

  1. terima kasih atasmkerjasama selama ini semoga kita senantiasa bermitra atas dasar prinsip yang saling menguntungkan. pointer tetap jalan terus bersama kita OK..

  2. Pointer mengucapkan terima kasih atas kerjasama selama ini Pak. Mudah-mudahan Primkopad Dohar dan Primkopad Pusdik Arhanud terus maju dan mensejahterakan anggota.

  3. Mbak Nida, alat untuk menumbuk padi itu namanya lumpang bukan lumbung. Kalau lumbung itu tempat/gudang penyimpanan padi.

  4. Ya Mbak. Terima kasih koreksinya.

  5. Prend bisa saya di kasih tahu gilingan kopi dan jam diding itu masih adakah dan berapa?

    Terimakasih
    Paiton probolinggo.

  6. saya ada minat dngan brg2 diatas. untuk selanjutnya gmn cara saya mendapatkannya. mksh.

  7. Terimakasih To mba’ Anida atas liputannya selama acara FMK. saya Anton, salah satu peserta di festival malang kembali. Untuk semua pengunjung blognya mba’ Anida yang ingin mencari barang antik atau yang ada di gambar blog bisa mengunjungi blog saya di http://WWW.retromeneer.blogspot.com Thanks.

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>