Abduracman Baswedan, Jurnalis Pemersatu Umat
A.R. Baswedan merupakan jurnalis terkemuka dalam mengusung tema persamaan antara orang-orang peranakan Arab dan pribumi.
Abduracman Baswedan lahir di Bangil pada 18 September 1908. Pendidikan formalnya di tempuh di Madrasah, ampel, Surabaya, dan IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta pada 1971, namun tidak selesai. Pandangannya luas sebagai seorang jurnalis ataupun politikus yang memainkan peranan di zaman pergerakan. Beliau merupakan sosok yang unik dalam sejarah Indonesia.
Sejak berusia 17 tahun, Beliau aktif sebagai mubalig uhammadiyah dan menjadi anggota Jong islamieten Bond. Beliau menyadari bahwa penyebaran ide yang efektif bisa dilakukan melalui media massa. Pada 1932, Beliau menjadi anggota redaksi harian Sin Tit Po. Dalam rentang 1932-1934, Beliau masuk ke harian Soeara Oemoem banyak yang menulis mengenai nasionalisme yang dicita-citakan PBI. Cita-cita PBI itu sejalan dengan pikiran Baswedan, yakni kerja sama antar sesama bangsa Indonesia tanpa memedulikan keturunan dan agama.
Selepas dari Soeara Oemoem, Baswedan hijrah ke Kudus karena sakit. Lalu, setelah sembuh, Beliau kembali ke Semarang dan menjadi redaktur surat kabar Matahari. Pada 1 Agustus 1934, harian Matahari memuat tulisan Baswedan tentang nasionalisme orang-orang peranakan Arab. Beliau menghimbau warga Arab agar bersatu membantu perjuangan Indonesia. Beliau mengajak warga Arab agar menganut asas kewarganegaraan ius soli, “Di mana saya lahir, di situlah tanah airku”.
Setelah pemuatan artikel yang menghebohkan itu, pada Oktober 1934, beliau mengumpulkan para peranakan Arab di Semarang. Lalu, berdirilah Partai Arab Indonesia (PAI), dan Beliau diangkat sebagai ketua. Sejak menjadi Ketua PAI, Beliau pindah ke Jakarta dan menerbitkan majalah Sadar.
Sebelum mundurnya Jepang akibat tragedi pemboman Hirosima dan nagasaki, AR Baswedan diangkat menjadi anggota Chuoo-Sangi-Kai. Itu semacam dewan penasihat yang anggota-anggotanya diangkat oleh penguasa dan dipilih oleh Syuu-Sangi-Kai, yaitu dewan karesidenan.
Pada 1945, Baswedan diangkat sebagai Ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat). Pada 1946, Beliau ditunjuk sebagai Menteri Muda Penerangan. Jabatan itu masuk dalam Kabinet Syahriri 3 dari Masyumi. Lalu, Beliau kembali diangkat sebagai anggota misi diplomatik RI ke Timur Tengan pada 1947. Misi ini untuk mengadakan hubungan diplomatik dengan negara-negara Timur Tengah. Misinya itu berhasil, negara-negara Timur Tengah mengakui kedaulatan RI. Sebelum turundari kancah politik pada 1955, Beliau pernah menyandang anggota Parlemen dan konstituante.
Seusai tahun 1950, A.R. Baswedan aktif memimpin majalah Nusaputra. Beliau juga aktif mengelola mingguan Hikmah di Jakarta sekaligus menjadi kontributor tulisan di berbagai media. Meskipun telah turun dari arena perpolitikan, jiwanya sebagai seorang jurnalistik tidak surut. Pada Maret 1986, ketika belum sempat merampungkan autobiografinya, Beliau wafat dalam usia 78 tahun.
Sumber: Salman Iskandar, 99 Tokoh Muslim Indonesia, PT Mizan Pustaka, 2009
Leave a Reply