Awas Tsunami Rokok!
Tak sulit menemukan perokok di sekeliling kita. Tak hanya di kantor, tapi juga di rumah. Atau Anda juga termasuk perokok? Tak mengherankan, data Badan Kesehatan Dunia (WHO) 2008 menunjuk Indonesia sebagai negara terbesar ketiga pengguna rokok di dunia, di bawah Cina dan India. Tercatat, lebih dari 60 juta penduduk Indonesia adalah perokok aktif. Adapun kematian akibat adiksi nikotin mencapai 1.172 jiwa per hari atau lebih dari 400 ribu orang per tahun. Ini melebihi korban tsunami Aceh!
Para tokoh dunia pun mulai menoleh pada urusan pengendalian tembakau. Peneliti dari Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LDUI), Abdillah Ahsan, menyebutkan Presiden Swiss Pascal Couchepin dan Presiden Uruguay Tabare Vazquez pun turut menghadiri kegiatan pengendalian tembakau di Swiss beberapa waktu lalu. Berbeda dengan pimpinan negeri ini, yang malah menghadiri peresmian pabrik baru Philip Morris di Pacitan.
Padahal pemerintah seharusnya prihatin melihat konsumsi rokok di kalangan remaja Indonesia usia 15-19 tahun yang naik 139,4 persen selama 1995-2004. Menilik data itu, Imam menuding Philip Morris menggunakan anak-anak sebagai alat untuk memasarkan produk mereka. “Anak-anak dikasih dua pak gratis tiap harinya. Dan itu ada bukti dokumennya,” ia mengungkapkan.
Bahkan tak hanya laki-laki yang menjadi sasaran, tapi juga perempuan.
Pada kesempatan lain, spesialis jantung dr. Yoga Yuniadi menyebutkan, di kalangan perempuan, kebiasaan merokok juga semakin tinggi. Terlihat wanita dengan kebiasaan buruk itu bisa ditemukan dengan mudah. Ia pun menunjuk, perusahaan rokok tampaknya memang sudah membidik perempuan sebagai pangsa pasarnya.
Studi tentang perilaku merokok pada remaja dan wanita muda yang dilansir Koalisi untuk Indonesia Sehat beberapa waktu lalu juga menyebutkan, 34,75 persen perempuan berusia 13-15 tahun mengaku mudah mendapatkan rokok. Setelah dibagi tiga kelompok usia, ternyata merokok pernah dijajal oleh 21,44 persen remaja perempuan berusia 16-19 tahun dan 25,84 persen wanita muda usia 19-25 tahun. Rata-rata mulai bersentuhan dengan rokok saat berusia 14-15 tahun.
Alasan kaum Hawa mengisap “racun” itu kebanyakan untuk meringankan ketegangan dan stres (54,59 persen), tapi cukup besar juga yang didasari sekadar untuk bersantai (29,36 persen). Umumnya mereka merokok bersama teman-temannya. Sebanyak 10,22 persen remaja berusia 13-15 tahun dan 14,53 persen usia 16-19 tahun pernah ditawari sampel rokok gratis. Data ini semakin mengukuhkan kaum remaja putri memang sudah menjadi sasaran perusahaan rokok.
Di balik sebuah aksi sekadar untuk bersantai itu, kini lebih dari 5 juta jiwa di dunia meninggal akibat rokok setiap tahun. Angka itu melebihi kematian karena AIDS, tuberkulosis, dan malaria. Ironisnya, biaya kesehatan dan pendidikan orang miskin terdegradasi oleh konsumsi rokok, yang jauh lebih besar.
Hasil survei LDUI 2005 merilis, orang miskin mengeluarkan biaya Rp 113 ribu per bulan, lebih besar dibanding bantuan langsung tunai, sebesar Rp 100 ribu per bulan. Dan sekitar 12,43 persen pendapatan mereka dialokasikan buat rokok. Di Indonesia, pengeluaran kaum papa untuk rokok 15 kali lipat dari biaya yang dikeluarkan untuk membeli daging (lauk-pauk), 8 kali lipat dari biaya pendidikan, dan 6 kali lebih besar dibanding biaya kesehatan.
Pantas Masyarakat Peduli Bahaya Tembakau mendesak pemerintah meratifikasi Kerangka Konvensi Pengendalian Tembakau (FCTC), yang 160 negara telah menerapkannya. Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia yang belum meratifikasi FCTC. Jika FCTC ditetapkan, menurut Abdillah, salah satu implementasinya, cukai naik, yang berujung pada pembatasan penggunaan tembakau. Hasil simulasi LDUI mencatat, kenaikan tarif cukai sampai ke titik maksimal 57 persen dari harga jual eceran rokok bisa menambah pendapatan negara hingga Rp 50,1 triliun. Namun, sampai saat ini, Indonesia masih menerapkan 37 persen atau lebih kecil dibanding India, yang mematok 72 persen dan Thailand sebesar 63 persen.

Leave a Reply