Bacalah yang Tidak Terlihat
Dunia berkembang selama milyaran tahun. Dinosaurus mencapai masa kejayaannya dan punah oleh hantaman meteor. Mamoth berevolusi menjadi gajah. Gunung es mencair dan berubah jadi lautan. Bangsa-bangsa dan kerajaan di dunia timbul tenggelam menyisakan peradapan yang mengagumkan. Jejak kaki sejarah umat manusia bertebaran di mana-mana, di lembaran lontar, prasasti, tugu, Injil, Al-Quran, Zabur, Tripitaka, bahkan di dinding-dinding bangunan. Hingga kini, manusia terus berusaha mencari misteri alam. Sementara pencarian yang tidak pernah berakhir adalah pencarian tentang Tuhan. Kenapa Tuhan harus dicari? Bagaimana cara membuktikan Tuhan itu ada? Bukankah bukti itu dimungkinkan sejauh kemampuan manusia mengindra, merasa, berpikir, yang selalu berubah dan berkembang? Seberapa meyakinkankah bukti tentang adanya Tuhan itu? Tak lain dan tak bukan karena manusia telah membaca tanda-tanda ciptaan-Nya.
Coba buka mata Anda dan rasakan udara yang Anda hirup. Ingatlah kesegaran air yang Anda minum. Pandangi bentangan gunung yang menjulang tinggi. Dari manakah semua itu berasal? Ketika Anda dilahirkan, orangtua mengajari Anda bagaimana mengeja alam di sekitar Anda. Beberapa saat setelah Anda mulai beranjak dewasa, guru mengatakan bahwa alam dan seisinya itu ciptaan Tuhan. Lalu di manakah Tuhan berada? Di atas langit, di dasar laut, atau di sudut-sudut lembah? Jawabannya, Tuhan ada dalam hati manusia. Manusia diajar untuk peka terhadap tanda-tanda penciptaan Tuhan. Mereka dianugerahi akal dan naluri untuk mengenal penciptaan Tuhan. Manusia melakukan proses penemuan lewat pembacaan kitab-kitab pengetahuan. Lewat kitab suci, manusia berusaha menemukan Tuhan.
Seringkali manusia mencari kesamaan Tuhan dengan dirinya secara fisik, mungkin Anda salah satunya. Manusia memiliki organ tubuh untuk bergerak dan dapat dilihat wujudnya. Beberapa orang beranggapan bahwa keberadaan Tuhan baru benar-benar ada jika Dia dapat dilihat dan disentuh.
H. Garin Nugroho & Nurjannah Intan, Who is God? Mencari Tuhan Lewat Google, Pustaka Grhatama, 2009
Leave a Reply