Bersifat Correct
Pada tahun 1936, Bung Hatta sudah dipindahkan ke Bandaneira dari Digul bersama Bung Sjahrir. Dalam kasus Pimpinan Umum Pendidikan Nasional Indonesia, saya yang berkedudukan di Surabaya pada tahun 1938 ditangkap juga oleh Pemerintah Hindia Belanda, kemudian dibuang juga ke Boven Digul bersama Soepiman, Suparman, dan Soeprapto, serta dua orang lainnya dari Jakarta, yaitu T.A. Moerad dan Bambang Sindhu.
Pada akhir bulan Januari 1940, kami semua telah berada di Digul. Tanpa istirahat lagi, saya mengirimkan surat kepada Bung Hatta ke Bandaneira, untuk meminta beliau memimpin saya belajar sejarah dunia dan sosiolagi. Bung Hatta menerima dengan baik niat saya untuk belajar jarak jauh secara tertulis, dari Bandaneira.
Secara korektif, saya dibawa berkorespondensi dalam dua bahasa, Belanda dan Inggris. Saya balas surat-surat beliau itu dalam bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Saya tidak mengetahui benar, apakah balasan bahasa Belanda dan Inggris sampai dengan baik, sebab keterangan dari beliau tidak ada samasekali. Tetapi saya disuruh mempelajari buku Pick, Jan Roein (ahli sejarah Belanda) dan buku Toynbee (ahli sejarah Inggris) yang kenamaan itu.
Kata beliau, tiap-tiap mempelajari buku, pelajarilah sebaik-baiknya dari permulaan sampai akhir. Mempelajari buku sejarah jangan hanya sesukanya saja, tetapi harus dengan rajin dan dengan metode yang teratur. Kita harus dapat menentukan tipe tingkatan dari masa ke masa, kata beliau. Ditambahkan, mempelajari sejarah dunia bukan pekerjaan yang mudah. Begitu pula dengan mempelajari sosiologi. Mempelajari dua ilmu ini menjadi hobby saya selanjutnya.
Belajar dua ilmu ini dari Bung Hatta secara pribadi dari jauh telah membawa saya kepada dasar kematangan dan kedewasaan, sekalipun pada waktu itu berada dalam masa pembuangan dan keadaan serba rumit. Yang membesarkan hati saya hanyalah satu: Bung Hatta mampu membimbing saya belajar secara pribadi.
Bermawy Latief, Pribadi Manusia Hatta, Seri 6, Yayasan Hatta, Juli 2002.
Leave a Reply