Bila Diisolasi
Sejak tahun 1979 Bung Hatta di”asing”kan dari umum oleh karena komplikasi aneka-ragam penyakit yang dideritanya. Acara-acara formal tidak semua dapat diikutinya. Para dokter “memaksa”nya untuk beristirahat. Selain di kamar tidur, di kamar kerjanya juga ditempatkan sebuah tempat tidur. Ada pula seorang perawat yang menjaganya. Maka tidak jarang kalau saya “mengintip” di rumahnya, sering saya melihatnya hanya mengenakan baju tidur.
Sekretaris pribadinya, I. Wangsa Widjaja terpaksa menjadi “galak” bila ada tamu-tamu yang ingin menjumpainya. Pak Wangsa terpaksa menyeleksi dan bertanya maksud dari pertemuan. “Saya terpaksa harus menjadi palang pintu,” ujarnya waktu itu.
Kebiasaan ber”orhiba” secara teratur dan jalan kaki mengitari rumah menjadi kegemarannya sudah tidak dilakukan lagi. Sungguh pun begitu, Bung Hatta masih saja dapat dijumpai terutama di malam hari di waktu makan malam jam 20.00.
Daya ingatnya masih kuat. Ia tetap mengikuti perkembangan-perkembangan nasional dan internasional. Ia selalu berada di depan layar TV untuk mengikuti acara-acara warta berita. Masih saja ia mengulas dan menganalisa topik atau masalah yang menjadi pembicaraan umum.
Bacaan berbagai surat kabar juga tidak lepas dari perhatiannya. Walaupun kondisinya sudah tidak kuat lagi untuk membaca, ia menyuruh orang-orang yang berada di rumah membacakan surat kabar untuknya.
Harry Kawilarang, Pribadi Manusia Hatta, Seri 10, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply