Buah Kemiskinan
Tanggal 01 Mei 2005, mama Andrie meninggalkan kami semua untuk selamanya. Seorang ibu yang luar biasa! Pekerja keras, sederhana, jujur, penuh kasih, dan tanggung jawab. Keesokan harinya setelah selesai prosesi penguburan di Lawang - Malang, Andrie mengajak seluruh keluarga bernostalgia menyusuri jejak langkah dari rumah sewa ke rumah sewa yang lain bekas mereka tinggal dulu selama di Malang.
Cerita nostalgia masa kecil pun dimulai dari ujung mulut sebuah gang, di ujung gang tersebut terdapat sebuah restoran, setiap hari keluar mau kemana pun, aku pasti lewat sini, lewat saja tetapi belum pernah masuk. Namanya orang susah, bisanya cuma manjangin leher, berusaha ngelongok ke dalam dan menghirup panjang wangi bau masakannya. Sebuah gang sudah terlewati, akhirnya tiba lagi di sebuah gang buntu, Andrie pun menunjukkan, “Itu, rumahku dulu. Rumah itu cuma punya satu kamar dihuni lima orang, ranjangnya susun sedang tembok pemisah dengan tetangga hanyalah anyaman bambu, bawahnya baru tumpukan batu bata yang tidak diplester. Perjalanan pun diteruskan, masih menyusuri gang berikutnya, Andrie pun tiba-tiba menunjuk tempat orang berkumpul bermain catur. Aku dulu juga suka main catur karena murah, tidak perlu biaya dan aku selalu jadi juara terus dan terkenal di kampungku. Di dalam permainan catur banyak hal yang bisa aku pelajari diantaranya, strategi, kesabaran, ketenangan, konsentrasi, dan sebagainya. Selain bermain catur, aku juga diboleh ikut kungfu, alasannya murah dan tidak mengeluarkan biaya. Dari kungfu, aku belajar disiplin, sikap ksatria, sportif, semangat, keyakinan, keberanian, dan ulet.
Mamaku waktu itu menanamkan kepada kami, kerja dulu baru boleh yang lain, tidak bekerja berarti tidak makan. Makanya aku dan kakakku harus giat membantu menyelesaikan pekerjaan dulu baru diizinkan untuk bermain dan beraktivitas lainnya.
Inilah beberapa cuplikan kisah masa lalu Andrie, dari situ saya semakin mengerti dari mana lahirnya semangat pantang menyerah yang dipunyai Andrie, seberapa kuat tekadnya untuk mengubah nasib, disertai dendamnya pada masa kecil yang serba kurang atau miskin. Ungkapan ini cocok dengan kata-kata mutiara yang sering diucapkan Andrie:
“Memang di kehidupan ini tidak ada yang pasti, tetapi kita harus berani memastikan dan memperjuangkan apa-apa yang pantas kita raih.”
Karena sesungguhnya:
“Cita-cita yang tinggi tidak menjamin seseorang dapat meraih kesuksesan, tetapi orang yang sukses pasti mempunyai cita-cita yang tinggi.”
Setahun kemudian setelah pernikahan kami, adik Andrie menikah di Malang. Tidak lama kemudian terdengar berita istrinya hamil. Dari peristiwa itulah, saya berpikir sudah tiga tahun lama pernikahan kami tetapi tidak segera punya momongan. Kami pun akhirnya mulai rajin mengunjungi dokter kandungan, tiga dokter semua menyatakan kami berdua sehat. Kami juga ke Singapura untuk pemeriksaan tapi juga tak kunjung dapat hasilnya. Akhirnya kami memutuskan berhenti mengunjungi dokter setelah bertemu dengan Dokter Rizal Sini, beliau memberi masukan yang sangat menyejukkan. “Dari hasil data laboratorium dan pemeriksaan saya, kalian berdua sehat. Kalian masih muda, tidak perlu terlalu cemas dengan masalah kehamilan. Saya anjurkan makan makanan yang sehat, jangan punya pikiran yang berlebih, konsentrasikan dan berdoa saja”.
Setelah saya mengulas balik ke belakang, rasanya ada pelajaran yang di petik dari peristiwa lamanya ketidakhamilan saya itu, yaitu peranan kekuatan pikiran bawah sadar yang terbukti sangat luar biasa. Akhirnya lewat pengaturan alam, saya pun hamil, anak pertama, bayi perempuan, lahir normal pada 28 Oktober 1990 dan kami memberi nama Vicky Andryanti Wongso. Rasa syukur, senang, dan haru bercampur jadi satu! Syukur karena telah melewati semuanya dengan selamat, senang karena saya merasa telah komplit menjadi seseorang.
Pepatah yang berbunyi, ‘Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalah’, rasanya sangat tepat! Baru saya resapi dan mengerti makna kata-kata itu setelah saya menjadi seorang ibu, merasakan kehamilan sembilan bulan, mengalami sulit dan sakitnya proses melahirkan. Begini ternyata rasanya jadi ibu, bekerja tanpa pamrih, mengurus rumah tangga, standby 24 jam setiap hari, kebingungan kalau anak menangis, harus menjadi teladan dan menjaga tutur sapa, belum lagi kalau harus bekerja sebagai tulang punggung keluarga juga!
Wahai ibu-ibu, berbanggalah menjadi seorang wanita dan ibu. Dan kalimat: ‘Surga di telapak kaki ibu’, adalah ungkapan kata-kata yang patut dimaknai dengan kedalaman rasa dan pikiran kita. Semoga dengan kesadaran ini membuat kaum bapak bisa lebih mengerti, menyayangi, mencintai, dan menghargai jerih payah, pengorbanan dan setiap kekurangan dan kelebihan kaum istri dan para ibu. Karena dari rahim seorang ibulah, setiap anak manusia, putra bangsa lahir dan hadir di muka bumi pertiwi ini.
Bravo untuk setiap ibu!
Sumber : Andrie Wongso ; Sang Pembelajar

Leave a Reply