Bukan Menjadikan Pak Turut
Pada tahun 1932 Bung Hatta kembali ke Indonesia setelah 11 tahun menuntut ilmu di Eropa. Pada tahun itu pula ia terjun ke arena politik di tanah air dengan jalan memegang tampuk pimpinan Pendidikan Nasional Indonesia, ialah suatu organisasi politik baru yang didirikan pada tahun 1931 berdasarkan konsepsinya sendiri.
Kedatangan Bung Hatta ke dalam arena politik di tanah air membawa cara perjuangan baru, ialah metode perjuangan rasional. Perjuangan tidak berdasarkan pada metode agitasi dan demonstrasi membangunkan semangat dan emosi rakyat, melainkan melalui dasar pendidikan politik, menanamkan pengertian dan kesadaran politik, dan terutama membina mental/spiritual, membina watak dan menanamkan semangat percaya diri sendiri serta menanamkan rasa tanggung jawab.
Pendidikan politik ini dilakukan kepada kader-kader agar sadar akan hak dan kewajibannya. Bung Hatta memiliki pandangan jauh ke muka, yaitu bahwa perjuangan politik di tanah jajahan yang menuntut kemerdekaan tanah air, menuntut para pemimpinnya untuk memiliki landasan keteguhan watak. Sebab itu kader-kader harus dibina wataknya agar tahan uji dalam menghadapi macam-macam percobaan dalam perjalanan perjuangannya. Oleh karena itu politik di tanah jajahan, menurut Bung Hatta, lebih mengandung arti pendidikan. Pendidikan adalah senjata utama untuk mencapai kemerdekaan tanah air.
Bung Hatta tidak mendidik kader-kadernya agar menjadi “Pak Turut” yang mengkutuskan pemimpinnya, melainkan mendorong agar para kader dapat melaksanakan ajarannya dan konsepsinya. Pendidikan Nasional Indonesia (PNI), sekalipun mendapat rintangan yang bagaimanapun, tidak boleh dibubarkan. Penderitaan harus diartikan sebagai latihan untuk mencapai kemerdekaan.
Sebab itu setelah formasi personalia Pimpinan Umum Pendidikan Nasional Indonesia yang diketuai oleh Bung Hatta ditangkap dan dibuang ke Digul oleh Pemerintah Belanda, maka muncul formasi II melanjutkan pimpinan partai.
Ketika kemudian formasi II sampai dengan VII juga ditangkap Belanda, juga berturut-turut dibuang ke Digul, PNI tetap saja berdiri, berjuang di bawah tanah. Formasi VIII tidak keburu ditangkap Belanda karena Jepang mendarat. Semua ini adalah hasil metode pendidikan Hatta.
Kader-kader Bung Hatta, tatkala diterima menjadi anggota Pendidikan Nasional Indonesia, harus menyatakan kesediaannya untuk mengabdikan dirinya demi kepentingan rakyat dan tidak mengharapkan balas jasa. Berjuang mengandung arti berkorban, demi kepentingan rakyat dan bukan mencari keuntungan untuk kepentingan pribadi.
Maskun Sumadiredja, Pribadi Manusia Hatta, Seri 7, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply