Bukti Kami Bersatu
Ada kabar yang dibawa oleh Sdr. Soepeno ke rumah pondokan para mahasiswa putus sekolah tersebut, bahwa beberapa hari lagi (hari dan tanggalnya saya sudah lupa) akan diadakan malam perkenalan, silaturrahmi dengan Bung Karno dan Bung Hatta, dan bahwa semua penghuni Cikini 71 harus hadir pada malam pertemuan itu. Sdr. Soepeno meminta supaya saya menjadi kepala rombongan, karena ia akan pulang sebentar ke Jawa Tengah. Saya tidak tahu apa pertimbangan Sdr. Soepeno untuk menyerahkan hal itu kepada saya. Saya berpikir tidak ada soal, sekadar menjadi kepala rombongan.
Pertemuan itu diadakan, jika tak salah, di bekas gedung Deutsches Haus di Jalan Merdeka Barat sekarang. Saya sudah lupa satu per satu, siapa-siapa dari tokoh-tokoh politik yang hadir pada pertemuan itu, sebab seingat saya sewaktu rombongan kami sampai di gedung itu, tempat itu telah penuh sesak, dan semua hadir dalam keadaan berdiri.
Yang jelas ialah, ada suara yang minta supaya wakil para pelajar muncul ke depan untuk menyambut. Terus terang, harus saya akui saya kaget, sebab secara mental saya tidak siap untuk itu. Tidak ada persiapan sedikit pun untuk angkat bicara; dan pesan Sdr. Soepeno pun memang seperti sambil lalu, seperti pemberitahuan saja bahwa ada malam perkenalan dengan Bung Karno dan Bung Hatta, dan saya diminta menjadi kepala rombongan.
Tetapi walau bagaimana pun, saya sudah menerima penugasan dan tentulah anggota-anggota rombongan lainnya lebih tidak siap. Saya terpaksa muncul ke depan.
Bung Hatta sudah pernah datang ke pemondokan kami di Menteng Raya, jadi saya sudah pernah bertemu dengan beliau. Beliau berdiri di samping Bung Karno yang baru kali itu saya lihat wajahnya.
Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan dalam peristiwa yang begitu penting. Saya pun tidak ingat lagi apa saja yang telah saya ucapkan, tentu tidak banyak.
Tetapi yang terlintas seketika dalam pikiran saya dari literatur yang terbatas sekali yang pernah saya baca ialah bahwa dua orang gembong politik yang kini berdiri berdampingan di muka kami itu, semua pernah berlainan siasat dalam menggembleng rakyat untuk perjuangan mencapai kemerdekaan bangsa dan rakyat Indonesia. Kiranya dapat dipahami kalau timbul pertanyaan, bagaimanakah mereka selanjutnya menghadapi situasi sesudah mereka bebas dari pembuangan dan muncul kembali di tengah-tengah masyarakat dalam situasi baru, di mana tentara Jepang sudah menguasai seluruh Kepulauan Indonesia.
Jadi seingat saya dalam kata sambutan saya yang singkat itu ada yang saya katakan antara lain dan kurang lebih sebagai berikut: Dengan adanya kedua pemimpin nasional ini kembali di tengah-tengah kita, semoga kita tahu ke arah mana mereka membawa kita.
Bung Karno angkat bicara, dengan spontan dan demonstratif merangkul Bung Hatta di muka hadirin, maka Bung Karno berkata: “Ini bukti kami bersatu.”
Dalam rangkulan kedua belah tangan Bung Karno dan berdiri tetap secara berdampingan, seingat saya Bung Hatta tidak berkata apa-apa, kecuali tertawa lebar secara spontan pula. Kami hadirin tidak dapat menafsirkan ketawa itu melainkan sebagai tanda persetujuan dan hadirin pun turut secara spontan pula ketawa. Ada pula yang menyambutnya dengan tepuk tangan tanda persetujuan dan gembira. Itulah yang saya ingat tentang pertemuan kembali kedua tokoh nasional tersebut di muka umum dalam suasana berkecamuknya Perang Dunia II, dan berkuasanya tentara Jepang di seluruh Kepulauan Indonesia.
Momen itulah yang nantinya menjadi awal mula tertempanya pengertian politik Dwitunggal. Saya kira memang demikian.
Sejak itu mereka berdua selalu berdampingan di muka umum. Memang kedua tokoh Proklamator ini dalam pembawaannya saling mengisi. Sejak zaman pendudukan Jepang kalau kedua tokoh nasional ini muncul dalam rapat-rapat umum, maka hadirin yang tajam pendengarannya dan mau merenungkan dan memikirkan apa yang telah dipidatokan, pasti lebih tertarik pada isi pidato Bung Hatta dan tidak dilupakan begitu rapat umum bubar.
Pidato Bung Hatta memang memberi arah, namun tidak kurang artinya sifat pidato-pidato Bung Karno. Tetapi sifat itu lebih terarah pada massa yang memang senang dengan agitasi yang menggledek dan semboyan-semboyan yang membakar. Kita tentunya masih ingat akan semboyan di zaman pendudukan tentara Jepang yang dikumandangkan Bung Karno yang berbunyi: Amerika kita setrika, Inggris kita linggis. Saya tidak bisa membayangkan semboyan semacam ini diciptakan oleh Bung Hatta. Sejak pertemuan ataupun malam perkenalan di bekas Deutsches Haus itu, saya turut mengantar Bung Hatta dan Bung Karno dalam pertemuan-pertemuan lebih kecil dan terbatas, antara lain di “Club Indonesia” di Jalan Salemba Jakarta, sesudah itu boleh dikata tidak ada kontak langsung lagi antara saya dengan kedua tokoh nasional itu.
Boerhanoedin Harahap , Pribadi Manusia Hatta, Seri 8, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply