Bung Hatta, “Manusia jam”
Di antara para wartawan ada lelucon yang menyebut Bung Hatta itu sebenarnya “manusia jam”. Seluruh irama hidupnya seakan disesuaikan dengan pembagian waktu. Tidur pada jam yang tepat, bangun pada jam yang tepat, makan pagi pada jam yang tepat, masuk kantor, makan siang, minum teh petang hari, waktu membaca, dan sebagainya. Celakalah kita kalau datang terlambat dari jam yang telah dijanjikan. Akan sukar sekalilah minta bertemu lagi, jika sekali terbukti kita tidak dapat menjaga waktu yang tepat.
Pada permulaannya saya merasa kaku dalam pertemuan-pertemuan dengan Bung Hatta. Sebagai wartawan, dan Bung Hatta sebagai wakil presiden, yang cukup aktif memperhatikan berbagai perkembangan perekonomian negara, saya memiliki banyak pertanyaan yang disampaikan. Sebelumnya, Wangsa Widjaja, sekretaris Bung Hatta, menyampaikan betapa Bung Hatta sangat kuatnya memegang jam, maka saya selalu berusaha untuk sedikitnya datang lima atau sepuluh menit lebih awal, dan selama saya berhubungan dengan Bung Hatta, jika berjanji melakukan pertemuan, syukur satu kalipun belum pernah saya datang terlambat.
Bung Hatta sangat menghargai waktu. Dia tidak senang kalau kita berbicara berputar-putar, tidak segera memasuki persoalan yang hendak ditanyakan atau dibicarakan. Tetapi jika pertanyaan kita tersusun rapi dan tepat, maka dia kelihatan senang, dan dia pun memberi jawaban secukupnya.
Bahasanya jernih, dan tidak berbelit-belit atau abstrak. Bung Hatta jarang tertawa terbahak-bahak seperti Bung Sjahrir. Jika sesuatu dianggapnya lucu, paling banyak dia tersenyum, dan jika kita berhasil menceritakan sesuatu padanya yang sungguh-sungguh amat lucu, barulah keluar gelaknya kecil-kecil. Jika dia tersenyum dan gelak kecil, matanya pun ikut bersinar.
Dalam situasi setegang apapun, dia senantiasa kelihatan tenang dan menguasai diri. Perbedaan pikirannya dengan Soekarno sudah timbul jauh sebelum Bung Hatta memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai wakil presiden. Setelah timbul peristiwa 17 Oktober (ketika tentara menggunakan laras-laras meriam ke Istana Merdeka), pernah saya mengatakan pada Bung Hatta bahwa bertambah banyak orang yang bepikir bahwa Soekarno merasa tidak puas dengan jabatan presiden konstitusional, tetapi ingin memegang kekuasaan yang lebih besar, dan mau langsung memerintah. Bung Hatta hanya tersenyum saja dan tidak mau mengeluarkan pendapatnya tentang Soekarno. Dalam berbagai pembicaraan dengan Bung Hatta, tak pernah Bung Hatta mengucapkan kata-kata yang memburukkan Soekarno, apalagi memaki-maki Soekarno. Kata yang paling keras yang saya dengar diucapkannya tentang Soekarno adalah setelah Soekarno dijatuhkan dari kekuasaannya, dan saya bertemu lagi dengan Bung Hatta setelah kami dibebaskan dari tahanan Orde Lama: “Soekarno salah hitung dengan orang komunis,” kata Bung Hatta singkat dan tegas.
Hubungan saya dengan Bung Hatta menjadi lebih dekat setelah saya keluar dari tahanan oleh rezim Soekarno. Kemudian, saya juga lebih sering datang berkunjung ke rumah Bung Hatta.
Kelihatan Bung Hatta agak kesepian, dalam arti teman-teman lama tidak begitu banyak mendatanginya selama tahun-tahun Soekarno berkuasa. Bung Hatta amat senang jika saya kunjungi dan saya bercerita padanya apa yang terjadi di dalam negeri, bagaimana keadaan di daerah-daerah yang saya kunjungi. Dan jika saya kembali dari luar negeri, Bung Hatta dengan amat senangnya mendengar cerita saya berbagai perkembangan yang terjadi di dunia luar.
Mochtar Lubis, Pribadi Manusia Hatta, Seri 10, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply