Cara Bung Hatta Menghargai Jerih Payah Orang Lain
Non Meutia bertanya kepada saya, “Mbah Ip, selama bekerja pada Ayah, apa yang paling diingat oleh Mbah?” saya menjawab, “Tunggu sebentar ya Non!” dan masuk ke kamar tidur. Saya mengambil pigura kecil yang tergantung di dinding, di sisi tempat tidur saya, kemudian ke luar dan menunjukkan pigura itu kepada Non Meutia. Ia segera membaca isinya, yaitu sepucuk surat yang ditandatangani Tuan Besar di bawahnya, yang berbunyi sebagai berikut:
Surat Keterangan
Dengan ini saja menerangkan bahwa jang memegang surat ini bernama: Sujatmi (Surip) sudah 25 tahun berturut-turut bekerdja di rumah saja sebagai pembantu rumah tangga, terutama sebagai djuru masak. Ia bekerdja baik dan menjenangkan keluarga saja.
Djakarta, 12 April 1972
ttd
Mohammad Hatta
Bunyi surat itu sederhana, tapi artinya saya rasakan sangat mendalam. Karena dari situ tercermin apa fungsi dan peran saya dalam kehidupan rumah tangga Bapak Dr. Mohammad Hatta. Beliau, tempat saya mengabdi sejak tahun 1947 hingga wafatnya, akan selalu saya kenang sebagai majikan saya yang paling baik, yang tidak pernah marah kepada saya selama saya bekerja pada beliau.
Saya selalu memanggil Bapak Hatta dengan sebutan “Tuan” atau “Tuan Besar”. Sebaliknya beliau selalu memanggil saya “Surip”, sedangkan anggota keluarga Tuan yang lain memanggil saya “Surip, Mbah Ip, atau Ippy”.
Bekerja pada rumah tangga sudah merupakan pekerjaan saya sejak muda. Mula-mula saya bekerja momong anak pada orang Belanda di Bandung, sehingga saya bisa mengerti bahasa Belanda sedikit-sedikit. Kemudian, kira-kira pada tahun 1936, di Bandung itu juga saya mulai bekerja pada Bapak dan Ibu Rachim, yang saya panggil dengan sebutan Ndara Kakung dan Ndara Putri. Mereka adalah orang tua Ibu Hatta, yang waktu itu berusia sepuluh tahunan. Karena suami saya, Sumomihardjo, pindah kerja ke Yogya, saya terpaksa berhenti bekerja. Waktu suami saya dan anak saya meninggal dunia, dua-duanya karena sakit, maka saya yang tinggal sendirian diterima kembali bekerja pada Ndara Kakung dan Ndara Putri yang waktu itu sudah pindah ke Yogya karena pernikahan Ibu Rahmi dengan Bapak Hatta. Mereka tinggal bersama di Jalan Reksobayan No. 4, Yogya, sehingga otomatis saya menjadi juru masak keluarga Wakil Presiden. Tepatnya, waktu Non Meutia berumur kira-kira enam bulan, pada tahun 1947.
Pada waktu itu, kakak kandung saya Suyati, sudah lebih dahulu bekerja pada keluarga wakil presiden. Jadi sebelum saya masuk kerja, saya sudah lebih dahulu mengenal nama Bung Hatta dari kakak saya dan dari berita-berita tentang perjuangan. Malahan, Tuan sudah mengirimkan bahan baju untuk saya, waktu Lebaran, sebab saya adalah adik Suyati.
Waktu saya dipanggil menghadap Bapak Hatta, beliau berkata dengan lembut, “Ini adik Mak?”
Saya jawab, “Ya, Tuan”. Suyati dikenal dengan sebutan Mak oleh teman-teman sekerja, sehingga semua ikut memanggilnya Mak.
Tuan lalu melanjutkan, “Kau diterima bekerja di sini. Kerja baik-baik ya?” saya mengiyakan lagi.
Hanya itu saja percakapan kami yang pertama kalinya. Namun saya dapat membuktikan bahwa saya ternyata mampu menepati janji saya, untuk bekerja baik selama 33 tahun mengabdi kepada Tuan Besar. Walaupun sekali-sekali saya melakukan kesalahan, masak makanan yang terlalu asin atau terlalu pedas, tidak pernah saya ditegur dengan kemarahan.
Selama 33 tahun mengabdi itu, terlalu banyak suka-duka yang saya alami.
Suyatmi Surip, Pribadi Manusia Hatta, Seri 4, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply