Catatan Harian
Pertama kali saya mendapat hadiah dari Bung Hatta, pada saat hari ulang tahunku, berupa Short Stories karangan Hemmingway. Waktu itu bahasa Inggris saya masih sngat sedikit, tapi saya sanggup untuk dapat mengerti cerita itu.
Di sekolah saya terpaksa belajar ekonomi dengan baik dan berusaha untuk mendapatkan angka tinggi. Malu kalau memperlihatkan rapor jelek pada Kak Hatta. Dia selalu senang kalau angka untuk ekonomi baik, walaupun saya aebetulnya tidak begitu tertarik pada pelajaran itu.
Bung Hatta gemar mendaki gunung dan berjalan kaki. Ia berjalan dengan sangat cepat, seperti orang Barat. Satu ketika saya turut mendaki gunung di Kaliurang. Wah, jalannya seperti lari saja. Saya mencoba mengejar, akibatnya kelelahan hingga muntah. Dengan penuh keheranan Bung Hatta melihat saya dan bertanya, “Mengapa? Apa saya terlalu cepat?” Malah Bung Hatta tidak merasa!
Di Yogya dan di Jakarta tiap pagi setelah sembahyang subuh, Bung Hatta berkeliling kota naik sepeda, sambil melihat keadaan kota dan untuk sport. Waktu masih sehat Bung Hatta juga senang bermain golf. Ketika itu permainan ini belum populer. Di masa muda ia terkenal menjadi back di clup sepak bola. Rasa disiplin Bung Hatta dan ketepatan mengenai waktu adalah ciri khasnya.
Walaupun berjiwa kerakyatan tidak berarti bahwa dia tidak mengindahkan protokol dan sopan-santun. Sebaliknya, ia sangat memberi perhatian. Pernah ia menyuruh kepala protokol menegur seorang duta besar yang datang berkunjung dengan membawa rokok menyala di tangan. Tetapi ia tidak pernah memaki di depan orang lain. Dimarahi atau dinasihati selalu secara empat mata, berdua dan tidak juga memakai kata kasar. Aklibatnya orang yang dinasihati justru berusaha untuk memperbaiki kesalahanya.
“Raharty Subijakto, Pribadi Manusia Hatta, Seri 1, Yayasan Hatta, Juli 2002″
Leave a Reply