Dari Pagi ke Pagi
Bung Hatta mempunyai kebiasaan jika sarapan selalu seorang diri. Ia mulai kira-kira pada pukul 6.30 pagi, dan sesudah itu selalu mendengarkan dengan patuhnya siaran RRI pukul 7.00 pagi. Seingat saya mungkin telah lebih dari 50 kali saya mendampingi Bung Hatta di meja sarapan, tetapi keramahan Bung Hatta tak pernah berubah. Belum lagi saya duduk pertanyaan telah keluar, yaitu: “Bung Halim mau minum apa?”
Karena seperti saya katakan di atas saya telah terlalu sering datang, maka ada kalanya saya berkata: “Bung, saya tak usah ditanyai lagi, saya bisa minta atau mengambil sendiri!”
Tetapi Bung Hatta tak pernah menggubris, begitupun ejekan-ejekan saya atas kesetiaannya mendengarkan RRI tiap pagi dianggap sepi, sebab tiap kali saya datang pagi di rumahnya, maka selalu melihat kebiasaan yang sama. Kadang-kadang ada kalanya setelah saya mengucapkan selamat pagi saya tidak ikut duduk, tetapi terus berjalan ke belakang menuju jenjang yang berakhir di bibliotik Bung Hatta. Ruang bibliotik itu cukup luas dan berisi buku-buku yang sangat besar jumlahnya. Selain itu ada meja panjang untuk meletakkan bermacam-macam gulungan warta berita dari aneka warna kantor berita. Juga ada kalanya terjadi bahwa pintu tengah yang biasanya dipergunakan, masih tertutup dan dalam hal demikian saya masuk melalui spen dan terus naik ke bibliotik tanpa diketahui Bung Hatta.
Paling-paling ada kalanya setelah siap di bibliotik, saya melalui spen lagi keluar dan berpapasan dengan Sdr. Wangsa yang biasanya menegur saya, “Siapa kasih izin masuk rumah orang seenaknya saja?”
Dalam hal demikian saya jawab, “Mana pula saya masuk, saya sekarang mau keluar menuju rumah sakit. Kirim salam sama your Boss”.
A. Halim, Pribadi Manusia Hatta, Seri 12, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply