Di Magelang
Dari uraian di atas saya berkesimpulan bahwa Bung Hatta selalu jelas dan rasional dalam mengambil kebijaksanaan. Sederhana cara menjelaskannya, sehingga sulit bagi pihak yang tidak setuju untuk mendapat celah guna menentangnya.
Cara beliau menatar kami dalam Pancasila dan UUD 1945 adalah sederhana. Bagi saya, penataran beliau itu tetaplah merupakan modal pangkal. Diadakannya waktu latihan bersama semua panglima dan komandan-komandan brigade/sub teritorial di Magelang, yang dipimpin langsung oleh Pak Dirman. Di sana Bung Hatta memberikan materi ideologi negara, Pak Dirman menyampaikan “jiwa TNI”, dan saya memberikan materi “perang rakyat total”.
Bung Hatta menjelaskan Pembukaan UUD 1945, kalimat demi kalimat dengan latar belakang dan maknanya, sehingga dalam keseluruhan cara beliau menerangkan dasar dan tujuan nasional tetap mengesankan. Betapa konsistennya Bung Hatta dalam melaksanakan dan membela kebijaksanaannya. Sekali diputuskan suatu kebijakan, maka beliau konsisten memegangnya. Seperti dalam pelaksanaan rasionalisasi TNI, ia tidak pandang bulu berhadapan dengan siapa pun.
Suatu contoh lain dari konsisten beliau, adalah ketika Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI) melucuti Brimob di Gemolong. Saya dipanggil untuk menerima perintah Bung Hatta, agar tentara mengembalikan senjatanya. Tetapi di pihak lain Panglima Besar sebagai Bapak TNI, yang mendapat laporan tertentu dari Solo, tidaklah begitu saja menyalahkan anak-anak tentara laut itu. Saya diping-pong antara kedua beliau, tidak ada yang mundur, tetapi syukurlah, setelah pecah Wild West Solo, maka soalnya otomatis beres.
Saya ingat, misalnya sesudah Soekarno-Hatta kembali ke Yogya dari tempat tawanan di Bangka, tetapi belum resmi berlakunya cease-fire. Pertempuran-pertempuran masih terus terjadi di luar Yoyga, dan ke tangan kita jatuh copy surat perintah operasi panglima Belanda di Jawa Tengah. Maka Yogya, mengadakan manuver sehingga waktu itu terjadi pengerahan kendaraan-kendaraan sipil. Bung Hatta memanggil kami, menegaskan bahwa pokok kebijaksanaan strateginya bukanlah di bidang militer dan semua kendaraan harus segera dikembalikan.
Begitu pula di masa berlangsungnya KMB, telah berkali-kali dipersoalkan bahwa TNI dan pasukan gerilya merasa sulit menerima “negara-negara van Mook”. Walaupun Republik telah mengakui mereka, kami meneruskan pemerintahan bayangan dari desa sampai ke atas, bahkan saya kirimkan berkeranjang-keranjang uang ORI ke situ, sedangkan Yogya dibanjiri oleh “uang merah” dari pihak Belanda.
Setelah KMB, diadakan rapat Dewan Siasat Militer. Bung Hatta menjelaskan tentang hasil-hasil KMB. Maka Bung Karno berbisik pada saya agar saya mengajukan persoalan TNI tersebut. Reaksi Bung Hatta betul-betul tegas: persetujuan itu beliau nyatakan sebagai keputusan wakil presiden yang telah mendapat persetujuan Kabinet. Harus dijalankan!
Namun setelah TNI mengoper keamanan sepenuhnya dari Belanda ke daerah-daerah yang bersangkutan, bersama rakyat diakhirilah eksistensi “negara-negara van Mook” itu. Hanya di Makasar dan Maluku saja terjadi perlawanan bersenjata, di samping adanya “bom-bom waktu” seperti aksi Westerling di Bandung, Jakarta, dan lain-lain.
Tindakan kami tadi menyulitkan Bung Hatta, karena kami dianggap melanggar perjanjian. Beliau dengan kesal menyebut kami mendobrak pintu yang sudah terbuka. Sebenarnya beliau pun sedang mengusahakan Republik Kesatuan kembali via jalan politik, tetapi kami, anak-anak TNI tidak dapat menunggu.
Mengenang pengalaman bertugas di masa Bung Hatta menjabat sebagai Menteri Pertahanan di Yogya dahulu, saya praktis berkali-kali dalam seminggu dipanggil atau menghadap beliau. Kesimpulan saya tentang pribadi beliau sebagai pejabat adalah persisten dan konsisten membawakan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang telah ditentukan. Dalam suasana revolusi dan suasana “bapak-isme” kala itu, serta masih banyak terjadi daulat-mendaulat, maka untuk menghadapi kondisi yang demikian memang diperlukan sebuah kepribadian yang kuat.
A.H. Nasution, Pribadi Manusia Hatta, Seri 7, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply