Di Skandinavia
Saya adalah orang awam, tidak ada hubungan keluarga dengan Bung Hatta, dan juga tidak pernah mempunyai hubungan pekerjaan. Hubungan pribadi dari tahun ke tahun terasa semakin dekat, semata-mata karena hubungan surat-menyurat mengenai soal-soal atau kejadian di Eropa, terutama di Inggris.
Pertama kali saya mengenal nama beliau ialah di rumah tempat kelahirannya, Jalan Payakumbuh No. 37 (sekarang Jalan Sutan Sjahrir), Bukittinggi, pada tahun 1939. Kebetulan saya termasuk teman sekolah dari anak-anak pamannya, Mohamad Saleh dan Haji Idris. Karena cukup sering bertandang ke rumah itu, lambat laun keluarga Haji Idris memperlakukan saya sebagai anak pula. Dari Ibu Maimunah (istri Haji Idris) saya mengetahui siapa Bung Hatta, setelah menanyakan satu-satunya potret yang tergantung di dinding keluarga, sebuah foto ukuran kartu pos, gagah dan rapi orangnya, berbaju stelan, pakai dasi dengan songkok. Mirip ala songkok Haji Agus Salim (seperti gambar Haji Agus Salim dalam majalah-majalah Islam).
Demikian seterusnya perkenalan mulai dari kenal nama itu, berkembang dengan mulai membaca tulisan dan karangan-karangannya di zaman Jepang. Perhatian beliau dan tulisan-tulisan beliau bertambah karena didikan di perguruan kebangsaan Taman Siswa. Selain itu, lingkungan kaum pedagang di Bukittinggi yang memiliki semangat nasional membuat perpustakaan. Banyak tersedia berbagai surat kabar dan buku-buku karangan Bung Hatta.
Akan tetapi saya kenal pribadi, bertemu muka dengan Bung Hatta baru tahun 1959 di Hotel Foresta, Stockholm. Beliau berkunjung ke sana untuk meninjau sistem dan cara bekerja koperasi Skandinavia.
Joesi Darik, Pribadi Manusia Hatta, Seri 9, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply