Di Ujung Dialog dengan Bung Karno

Orang mengetahui bahwa Ayah dan Bung Karno adalah dua orang yang berbeda watak. Sebelum kemerdekaan, mereka sering saling berkeras satu sama lain. Sangat tampak hal itu dari tulisan-tulisan mereka. Namun pada suatu ketika, beliau berdua bersatu dalam menjalankan tugas memproklamasikan Kemerdekaan Negara Indonesia dan menjalankan pemerintahan negara yang masih sangat muda itu. Betapapun berlainnya sifat pribadi mereka, demi keutuhan bangsa, mereka bersatu karena negara membutuhkan kedwitunggalan mereka.
Orang juga mengetahui bahwa pada suatu ketika kebersamaan mereka tak dapat dipertahankan. Ayah melihat bahwa sudah waktunya keputusan lain diambil meletakkan jabatan sebagai wakil presiden, demi keutuhan bangsa pula.
Orang sering menganggap bahwa walaupun secara politis mereka berdua bertentangan, secara pribadi mereka selalu tetap baik satu sama lain. Sebagai seorang anak, dulu saya merasa bahwa pendapat ini ada benarnya tetapi tidak selalu demikian. Beberapa kali ucapan-ucapan Bung Karno dalam pidato-pidato beliau maupun dalam otobiografi beliau yang menyinggung peranan Ayah, misalnya tentang saat-saat Proklamasi Kemerdekaan atau tentang program koperasi Ayah, tidak menunjukkan sikap Bung Karno yang menghargai jasa Ayah dalam perjuangan mereka bersama. Hal ini, bagi seorang anak seperti saya cukup menyedihkan. Namun Ayah sendiri tak pernah menunjukkan sakit hati di muka kami, keluarganya. Kadang-kadang saja beliau setuju dengan komentar-komentar kami mengenai pose-pose Bung Karno dalam koran yang kami anggap berlebihan bagi seorang presiden. Tetapi tidak lebih daripada itu.
Walaupun demikian, Ibu mengatakan bahwa kemarahan mereka satu sama lain hanya dapar dipahami oleh mereka sendiri, sehingga orang yang tak mengenal Soekarno-Hatta mungkin bisa salah interpretasi. Pada saat-saatnya, mereka saling memaafkan satu sama lain dan pada saat-saat tertentu, respek Bung Karno terhadap Ayah atau sebaliknya, kelihatan.
Bung Karno pernah melupakan kecaman pedas Ayah dalam Daulat Rajat No. 80, November 1933 tentang dirinya, dan bersatu dalam perjuangan bersama untuk kemerdekaan Bangsa. Ayah sendiri pada akhirnya memaafkan ucapan-ucapan Bung Karno yang cenderung melupakan peranan Ayah dalam perjuangan bersama di masa lampau, sesudah Bung Karno tidak lagi menjadi presiden Republik Indonesia.
Guntur bercerita kepada suami saya bahwa ketika Bung Karno diberitahu bahwa beliau takkan dapat menyaksikan pernikahan Guntur, beliau terdiam, lalu berkata, “Mintalah kepada Bung Hatta untuk menjadi ganti saya.”
Lalu Guntur yang merasa betapa bapaknya pernah menyakitkan hati Ayah, dengan berat hati menyampaikan pesan ayahandanya itu. Jawaban Ayah terasa meringankan hatinya, “Baiklah, saya bersedia,” tanpa minta waktu untuk mempertimbangkan dulu.
Pada suatu hari Ayah mengajukan permohonan kepada Presiden Soeharto untuk menengok Bung Karno yang sakit berat. Sore harinya, beliau dijemput oleh Sekmil Presiden, Bapak Tjokropranolo, kini Gubernur DKI, untuk menengok Bung Karno. Saya, Gemala, dan Pak Wangsa ikut pula.
Kami melihat sesuatu yang mengharukan: pertemuan dua orang proklamator untuk yang terakhir kalinya.
Begitu masuk ruangan, Ayah langsung menuju ke tempat tidur Bung Karno sambil berkata, “Aa.. No…., apa kabar?”
Bung Karno diam saja, memandang Ayah beberapa lama. Kemudian mengucapkan kata-kata yang sulit kami tangkap, tetapi kira-kira berbunyi, “Hoe gaat het met jou? (Apa kabar?)”
Tak lama kemudian, beberapa kali air mata beliau menetes ke bantal, sambil memandang Ayah yang terus memijiti lengan Bung Karno. Beliau malah minta dipasangkan kacamata agar dapat memandang Ayah lebih jelas lagi.
Tak ada kata-kata lebih lanjut, namun kiranya hati keduanya saling berbicara. Mungkin juga beliau berdua mengenangkan suka-duka di masa perjuangan bersama sejak puluhan tahun yang silam, masa-masa pergaulan bersama dan mungkin saling memaafkan.
Pertemuan terakhir itu berlangsung skitar 30 menit. Dan beberapa hari kemudian Bung Karno menutup mata selama-lamanya. Tak terlihat emosi pada wajah Ayah, tidak juga waktu beliau menjenguk jenazah Bung Karno, tetapi saya tahu, hati ayah cukup sedih ditinggalkan kawan seperjuangan beliau yang utama.
Ayah dan Bung Karno kini telah sama-sama tiada. Setelah wafatnya ayah, banyak orang merasa perlu mempersatukan mereka kembali, terutama dalam arti mendampingkan makam keduanya dalam satu tempat.
Bagi saya, mereka berdua tetap merupakan pribadi yang berbeda satu sama lain, meskipun mempunyai tujuan sama: persatuan, kejayaan, keadilan dan kemakmuran bagi bangsa Indonesia. Pada awal Desember 1956, Ayah mundur demi persatuan bangsa, dengam memberi kesempatan kepada Bung Karno untuk menuruti jalannya sendiri mencapai apa yang diinginkan beliau bagi Indonesia. Hasilnya, baik-buruknya, telah kita lihat bersama.
Maka kini, jika orang tetap ingin mendampingkan mereka kembali “demi persatuan bangsa”, kali ini Bung Karno-lah yang harus ganti memberikan kesempatan kepada Ayah unuk menuruti keinginan beliau dimakamkan di Kota Jakarta, yang menurut kata-kata beliau, “tempat diproklamasikannya, Kemerdekaan Indonesia, di tengah-tengah rakyat yang nasibnya saya perjuangkan seumur hidup saya,”
Berarti, Bung Karno-lah yang mengikuti Ayah ke Jakarta, bila rakyat Indonesia memang menginginkan kebersamaan mereka dalam makam yang berdampingan.
Namun harapan saya tentu bukan sekedar bentuk konkrit ini. Lebih baik lagi bila rakyat Indonesia mampu memilih ciri-ciri yang dianggap baik dari pribadi Soekarno dan pribadi Hatta untuk dijadikan pedoman hidup mereka, agar cita-cita beliau berdua untuk persatuan, kejayaan, keadilan dan kemakmuran bangsa dapat dicapai dengan lebih baik lagi di masa yang akan datang.
Meutia Farida Swasono, Pribadi Manusia Hatta, Seri 2, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply