Ekspedisi Pointer: Festival Kampung Sumberbendo
Pada hari Senin 27 Juli 2009, Bagian Cara Hidup KSU Pointer Tini Wulandari dan Bagian Umum FX Rizal Hartanto mengadakan Ekspedisi Pointer ke Festival Kampung Sumberbendo yang berlokasi di Desa Sumberbendo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Jaraknya sekitar 500 meter dari P-WEC (Petungsewu-Wildlife Education Center). Tujuan dari Festival Kampung Sumberbendo ini untuk melestarikan budaya tradisional di Sumberbendo.
Festival kampung Sumberbendo diselenggarakan selama 5 hari (23-27 Juli
2009) mulai pukul 14.00-22.00, di mana suasana desa ditata dengan nuansa tempo dulu, di pinggir jalan banyak warung yang menjual jajanan dan mainan tradisional. Karcis masuk ke Festival Kampung Sumberbendo Rp 2.000 per orang. Semua panitia berdandan mengenakan pakaian tradisional, bagi yang laki-laki menggunakan pakaian serba hitam dan yang perempuan menggunakan kebaya.
Selain melihat dari dekat Festival Kampung Sumberbendo, kami juga melakukan wawancara langsung dengan Ketua Panitia yaitu Bapak Suprianto. Informasi dari beliau, “Acara yang utama di Festival Kampung Sumberbendo adalah Sedekah Bumi (bahasa Jawa: bedol desa). Sedekah Bumi merupakan perwujudan masyarakat dalam rangka bersyukur kepada Tuhan, atas kehidupan yang telah diberikan kepada masyarakat Sumberbendo khususnya para petani. Acara Sedekah Bumi ini diikuti 4 RT Sumberbendo yang terdiri dari 7 Dukuh. Setiap RT membuat 1 ancak besar dan beberapa ancak kecil. Ancak besar
dibuat dari papan yang dibentuk persegi empat kemudian dimasukkan sebatang pohon pisang. Bagian bawah dari ancak besar tersebut adalah nasi beserta lauk-pauknya sedangkan batang pohon pisang diisii dengan lauk-pauk, buah-buahan, krupuk, uang, dan makanan ringan yang dipasang dengan cara ditancapkan menggunakan tusuk bambu. Ancak kecil dibuat dari pelepah pisang, dibentuk persegi empat kemudian di bagian bawah diberi anyaman bambu, dan di alasi dengan daun pisang. Isinya nasi dan lauk-pauk kemudian ditutup dengan 2-3 lembar daun pisang. Ancak besar dibawa oleh 4 orang laki-laki dengan cara dipanggul sedangkan ancak kecil dibawa oleh 1 orang perempuan dengan cara digotong di atas kepala. Ancak-ancak tersebut dibawa dengan diiringi arak-arakan banteng, kuda lumping, barongsai, orang putih (Bahasa Jawa: wong putih), dan orang hitam (Bahasa Jawa: wong ireng). Wong ireng merupakan simbol
dari warga Sumberbendo yang dulunya suka bercocok tanam dan tidak berpengalaman dalam hal apapun, sedangkan wong putih merupakan simbol dari hati yang bersih. Ancak besar ditaruh di depan panggung dan dilindungi wong ireng dan wong putih sedangkan ancak kecil ditaruh di samping kiri panggung. Keunikan lain yang dituturkan oleh Pak Suprianto adalah, “Semua masyarakat Desa Sumberbendo belum ada yang menjadi Pegawai Negeri Sipil, mereka hanya bekerja sebagai petani”. Menurut beliau, “Festival Kampung Sumberbendo diadakan setahun sekali tetapi tanggalnya tidak sama dengan tahun sebelumnya. Untuk tanggal dan harinya dihitung menurut hitungan jawa”.
Acara ini dihadiri oleh perangkat desa setempat yaitu Kepala Desa Sumberbendo Abdul Karim, Kepala Dusun Sumberbendo Kasum, dan Kepala Desa Petungsewu Supardi. Sebagai wujud penghormatan, setiap perangkat desa yang hadir diminta untuk menari tari Jawa Timuran didampingi oleh salah satu penari. Setelah selesai memberi penghormatan, acara dilanjutkan dengan doa bersama dan grebek akhirnya dimulai, dari anak kecil hingga orang tua ikut memperebutkan isi dari ancak besar dan kecil tersebut. Tujuannya supaya mendapat berkah dan keselamatan.
Tini ikut turun berebut dengan masyarakat sekitar dan mendapatkan kerupuk. Dalam suasana yang ramai ada seseorang anak memberi satu tusuk isi ancak besar yang berisi sarmiler (kerupuk yang terbuat dari singkong) dan kue kucur (kue yang terbuat dari tepung beras kemudian digoreng).
Setelah acara grebek usai ekspedisi kami lanjutkan dengan meliput kegiatan warga yang sedang memainkan lesung padi, dengan cara dipukul dan
menghasilkan musik yang indah. Disebelahnya terdapat 4 orang yang sedang menggiling jagung dengan menggunakan alat tradisional dan menghasilkan tepung, nasi jagung (bahasa Jawa: segoh empok), dan dedak. Kami juga melihat anak-anak yang sedang bermain enggrang (salah satu mainan tempo dulu yang terbuat dari bambu).
Semoga tahun depan kita bisa ekspedisi ke Sumberbendo dan meliput dari pembukaan sampai penutupan seperti Festival Malang Kembali.
Koleksi foto Ekspedisi Sumberbendo:





























Leave a Reply