Ekspedisi Pointer: Mengunjungi Rumah Industri di Kampung Tegal Pakis Kabupaten Banyuwangi
Senin 17 Agustus 2009 adalah hari kedua rombongan KSU Pointer di Banyuwangi. Hari ini, kami diajak pemandu ke Kampung Tegal Pakis yang terletak di wilayah Kalibaru Wetan. Kampung Tegal Pakis dikenal sebagai rumah industri pengrajin peralatan rumah tangga, seperti: dandang, wajan, panci, oven, rantang, sotel, kompor, cetakan kue, dan masih banyak lagi.
Entah sejak kapan kawasan Kampung Tegal Pakis mulai dikenal sebagai kawasan rumah industri. Menurut Pak Kamto (pemandu kami), kawasan rumah industri ini berdiri sekitar tahun 1960-an. Pengrajin pertama adalah Haji To, begitu orang-orang memanggilnya. Beliau sekarang menjadi pemasok bahan baku (alfalum, stainless, dan aluminium) untuk para pengrajin. Bahan baku diperoleh dari Surabaya dan Jakarta. Jumlah rumah industri yang berkembang saat ini ada sekitar 20 dan merupakan usaha turun temurun.
Saya berhasil mewawancarai Ibu Kartini, pemilik rumah industri “Bintang Terang”. Beliau menjalankan usaha ini sudah sekitar 20 tahun. Omzet yang dihasilkan menurun sejak adanya krisis moneter yang melanda Indonesia. Kebanyakan para pelanggannya mengambil sendiri ke tempat ini.
Salah satu saudara Ibu Kartini menjelaskan, untuk membuat peralatan yang bentuknya cembung, seperti: wajan dan saringan santan, bahan baku terlebih dulu dibakar sebentar agar mudah dibentuk. Ketika saya berkunjung ke sana, ada 2 karyawan yang sedang bekerja. Yang satu membuat oven dan yang satunya lagi membuat loyang. Dalam satu hari bisa menghasilkan 2 oven dan lebih dari 10 loyang.
Perjalanan saya lanjutkan ke rumah industri milik H. Abdul Halim, sayang sekali saya tidak bertemu dengan beliau. Rumah industri ini memiliki banyak karyawan. Saya sempat bertanya kepada salah satu karyawan yang sedang membuat kompor minyak tanah. Dalam satu hari bisa menghasilkan 10 kompor berukuran sedang dan dijual Rp 30 ribu per kompor.
Kemudian saya lanjutkan ke pembuatan dandang, masih milik H. Abdul Halim. Alat yang digunakan untuk membuat dandang adalah rol besi, drip, gunting, jangka, palu, rel berbentuk huruf U, dan press pantat. Sebelumnya pekerja harus menggunting aluminium sesuai ukuran. Setelah itu aluminium dicetak dengan rol besi. Lalu memasang paku pegangan, pasang pantat, pasangan filter, dan tutup dandang.
Pembuatan pantat dandang, filter, dan tutup dandang memerlukan jangka besi untuk membentuk lingkaran.
Pembuatan dandang sendiri membutuhkan 4-5 orang karyawan yang memiliki tugas sendiri-sendiri. Ada yang membuat badan dandang, pegangan dandang, membuat filter, tutup dandang, dan penyelesaian. Dalam sehari para pengrajin bisa menghasilkan kurang lebih 100 dandang. Harga yang ditawarkan bervariasi sesuai dengan ukuran, dari Rp 50 ribu sampai Rp 200 ribu-an, dan ada yang lebih mahal.
Ada juga pekerja yang sedang membuat wajan. Pertama-tama, bahan baku digunting sesuai pola kemudian dipanaskan s
ebentar. Selanjutnya beberapa lapis bahan baku ditempa menggunakan tempat semacam lesung dengan menggunakan palu. Untuk membuat pinggiran dan pegangan wajan dibutuhkan pipa besi yang sudah dibentuk sedemikian rupa. Pemasangan pegangan memakai paku keling. Dalam sehari bisa menghasilkan 20 wajan.
Untuk membuat wajan, selain diperlukan tenaga yang kuat juga diperlukan ketelitian dan kehati-hatian. Jika terlalu keras dalam memukul wajan yang akan dibuat, wajan tersebut bisa bolong atau rusak. Hal tersebut selain akan memperlambat proses pembuatan wajan, juga akan memengaruhi kualitas wajan yang dibuat.
Menurut Pak Kamto, hasil para pengrajin ini dipasarkan ke luar pulau, seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Irian. Ada juga yang mengambil langsung dan dijual kembali.
Tak terasa kunjungan kami ke Kampung Tegal Pakis sudah selesai. Kami berharap, semoga usaha para pengrajin semakin sukses. Sebagai kenangan bahwa kami pernah ke tempat ini, beberapa peserta rombongan ada yang membeli barang untuk dibawa pulang, Yahya suamiku membeli wajan kecil seharga Rp 25 ribu, harga yang ditawarkan Rp 45 ribu. Wah, pintar juga suamiku menawar… Ada juga Riyanto yang membeli mug stainless seharga Rp 17 ribu, harga yang ditawarkan Rp 25 ribu. Bu Fariati membeli dandang. Bu Sulis dan Bu Herawati juga tidak mau ketinggalan, mereka membeli berbagai macam peralatan dapur.
Jika Anda sedang berkunjung ke Banyuwangi, jangan lupa singgah ke tempat ini.








Dear sahabat semua
Kami ingin tau alamat dan omer tlp pengrajin tersebut. Teman kami dari Jepang berminat memasarkan beberapa perabot tersebut ke Jepang.
Atas bantuannya kami sampaikan terimakasih.
Hanna
Sdri Hanna coba hubungi Kalibaru Cottages telp 0333-897333, mungkin bisa menghubungkan Anda dengan para pengrajin.
ass…saya membutuhkn plat stainles jenis Monel 0,4-0,8mm lebar dan panjang >8cm!kalu bersedia silahkan kirim sms terkait harga per kilonya ke 085223026623 via sms!trims…
ass.buat saudara-saudara semua, kami menjual plat aluminium zincalume 0.20 s/d 0.70 silahan hubungi ke 085 2225 72 72 8 via sms