Ekspedisi Pointer: Tari Barong
Minggu 19 Juli 2009 merupakan hari kedua ekspedisi saya ke Pulau Bali. Pada hari ini, pemandu wisata mengajak saya dan rombongan menyaksikan pertunjukan Tari Barong di Sekehe Barong Sila Budaya Puri Anom Batubulan Gianyar Bali. Pertunjukan tari barong ini dipentaskan setiap hari mulai pukul 09.30 waktu setempat. Untuk menyaksikan tarian ini, satu rombongan (satu bus) dikenakan biaya Rp250.000,-. Pertunjukan tari khas Bali ini mengundang banyak penonton baik lokal maupun mancanegara terbukti dengan penuhnya ruang pertunjukan, apalagi di hari libur seperti hari ini.
Tari barong merupakan peninggalan kebudayaan pra Hindu, menggunakan boneka berwujud binatang berkaki empat atau manusia purba yang memiliki kekuatan magis. Diduga kata barong berasal dari kata bahrwang yang berarti beruang, seekor binatang yang mempunyai kekuatan gaib dan dianggap sebagai pelindung. Barong yang berbentuk binatang mitologi ini banyak sekali macamnya, ada yang kepalanya berbentuk kepala singa, harimau, babi hutan jantan, gajah, lembu atau keket. Keket oleh orang Bali dianggap sebagai raja hutan yang disebut pula dengan nama banaspati. Barong biasanya dimainkan oleh dua orang laki-laki, seorang memainkan bagian kepala dan kaki depan, dan seorang lagi memainkan bagian kaki dan ekor.
Topeng barong dibuat dari kayu yang diambil dari tempat-tempat angker seperti kuburan, oleh sebab itu barong merupakan benda sakral yang sangat disucikan oleh masyarakat Hindu Bali. Tidak setiap benda berwujud barong dan rangda memiliki daya magis. Hal ini berkaitan dengan ada tidaknya proses sakralisasi melalui upacara. Proses ini penting karena perwujudan barong dan rangda akan menampakkan magisnya sehingga masyarakat merasa dekat secara spiritual. Sebelum upacara penyucian dilakukan terlebih dahulu dilaksanakan beberapa kegiatan, yaitu:
- menentukan hari baik untuk pembuatan barong dan rangda sehingga menjadi barang sakral,
- menentukan jenis kayu yang akan digunakan untuk barong dan rangda,
- pemberian warna pada sebuah topeng barong dan rangda merupakan hal penting, karena warna yang cocok dan serasi akan memberikan kesan hidup, agung, dan berwibawa,
- membuat kerangka barong dan rangda,
- memasang bulu dan hiasan lainnya.
Setelah proses pembuatan barong dan rangda selesai, maka pada hari yang telah ditentukan dilakukan upacara penyucian. Proses penyucian ini dilakukan dalam tiga tingkatan, yaitu: prayascita dan mlaspas, ngantep dan pasupati, serta masuci dan ngerehin. Setelah melalui ketiga tingkatan tersebut maka barong dan rangda dapat dikatakan telah suci, keramat, dan memiliki nilai magis.
Tari barong menceritakan pertarungan antara barong dan rangda. Barong adalah binatang purbakala yang melukiskan kebajikan sedangkan rangda adalah binatang purbakala yang menggambarkan kebatilan. Cerita ini dibawakan oleh kurang lebih 20 penari dan disajikan dalam enam bagian yang terdiri dari satu bagian gending pembukaan dan lima babak cerita inti.
Gending Pembukaan
Barong yang berwujud harimau dan kera sedang berada di dalam hutan yang lebat. Beberapa saat kemudian muncullah tiga orang bertopeng ke dalam hutan tersebut. Tiga orang bertopeng tersebut menggambarkan tiga orang yang sedang membuat tuak di tengah-tengah hutan. Anak dari salah seorang manusia bertopeng tersebut telah dimakan oleh harimau, sehingga ketiganya sangat marah dan menyerang harimau itu. Dalam perkelahian ini, hidung salah seorang dari manusia bertopeng itu digigit oleh kera.
Dua orang penari muncul. Mereka adalah pengikut-pengikut rangda yang sedang mencari pengikut Dewi Kunti. Para pengikut Dewi Kunti ini sedang melakukan perjalanan untuk menemui patihnya.
Pengikut-pengikut Dewi Kunti tiba. Salah seorang pengikut rangda berubah menjadi setan (semacam rangda) yang memasukkan roh jahat kepada pengikut Dewi Kunti sehingga mereka berubah menjadi pemarah dan jahat. Pengikut-pengikut Dewi Kunti tersebut menemui sang patih, kemudian bersama-sama menghadap Dewi Kunti.
Muncullah Dewi kunti bersama anaknya Sadewa. Dewi Kunti telah berjanji kepada rangda untuk menyerahkan anaknya sebagai korban. Sebenarnya Dewi Kunti tidak sampai hati menyerahkan anaknya untuk dikorbankan, tetapi setan telah memasukkan roh jahat kepada Dewi Kunti sehingga Dewi Kunti menjadi pemarah dan jahat. Dewi Kunti menyerahkan Sadewa kepada patihnya untuk dibawa ke dalam hutan dan diserahkan kepada rangda. Sang patih yang telah kemasukan roh jahat membawa Sadewa ke dalam hutan dan mengikatnya di depan istana sang rangda.
Babak Keempat
Turunlah Dewa Siwa dan memberikan keabadian hidup kepada Sadewa. Kejadian ini tidak diketahui oleh rangda. Kemudian rangda datang untuk mengoyak-ngoyak tubuh Sadewa, terjadilah pertempuran. Rangda tidak berhasil membunuh Sadewa karena kekebalan yang telah dianugrahkan Dewa Siwa kepada Sadewa. Rangda menyerah kepada Sadewa dan memohon untuk diselamatkan agar dia bisa masuk surga. Permintaan ini dipenuhi oleh Sadewa, rangda mendapat surga.
Salah seorang pengikut rangda yang bernama Kalika menghadap Sadewa, memohon agar dirinya juga diselamatkan sebagaimana rangda, tetapi permintaan ini ditolak oleh Sadewa. Penolakan ini membuat Kalika marah sehingga menyebabkan timbulnya perkelahian antara Kalika dengan Sadewa. Untuk memenangkan perkelahian ini, Kalika mengubah wujudnya menjadi babi hutan, tetapi Sadewa yang sakti tetap bisa mengalahkannya. Kalika kemudian mengubah wujudnya menjadi burung, tetapi Sadewa tetap bisa mengalahkannya. Akhirnya Kalika berubah wujud menjadi rangda. Rangda ini sangat sakti sehingga Sadewa tidak bisa membunuhnya. Kemudian Sadewa berubah wujud menjadi barong. Barong dan rangda sama-sama sakti, sehingga dalam pertarungan ini tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Dengan demikian pertarungan antara kebajikan dan kebatilan ini berlangsung terus sampai akhir zaman. Kemudian muncullah pengikut-pengikut barong yang masing-masing membawa keris. Para pengikut barong ini hendak membantu barong dalam pertarungannya melawan rangda, tetapi mereka juga tidak berhasil mengalahkan kesaktian rangda.
Bagian akhir menyajikan penari (pengikut barong) yang membawa keris. Mereka seperti kesurupan dan menusuk-nusuk dada mereka dengan keris tersebut, tetapi anehnya mereka tidak terluka, sepertinya mereka sudah kebal. Aksi menusuk badan sendiri dengan keris ini disebut ngurek. Kemudian muncul barong bersama seorang juru kunci yang membawa air suci. Kemudian satu persatu para penari tersebut ditolong oleh juru kunci dengan memercikkan air suci dan memberi doa kepada mereka.


































kalo kepengen pakai topeng barong itu harus bisa dngn tariannya ya?
Tergantung pada keperluan Anda, Jika Anda memakainya untuk menari tentu Anda harus bisa menarikan tariannya, tetapi kalau hanya ingin memakai sebentar saja untuk tujuan seni saya rasa juga tidak perlu bisa menarikan tariannya. Tidak semua orang bisa memakai topeng barong yang sudah disakralisasi, jika Anda ingin memakainya mintalah ijin atau konsultasikan dengan pemangku adat setempat. Tetapi untuk topeng barong yang tidak berdaya magis (belum disakralisasi melalui upacara) mungkin akan lebih leluasa untuk Anda pakai. Mengenai keinginan Anda ini, ada baiknya Anda bicarakan langsung dengan Penduduk Asli Bali yang lebih paham adat-istiadat daerah Bali.