Epidemi Penyakit Rokok Ancam Asia
Kebiasaan merokok masyarakat Asia sudah masuk kategori parah. Fakta yang dipaparkan pakar-pakar kesehatan dunia dalam Konferensi Dunia ke-14 tentang kesehatan atau tembakau itu memaksa pemerintah setiap negara lebih menggalakkan larangan merokok. Jika perlu, memperberat sanksi bagi mereka yang melanggar.
Mengutip data statistik Komunitas Kanker Amerika dan Yayasan Paru Dunia, Matthew Peters memperingatkan bahwa kebiasaan “membakar paru-paru” telah membuat Asia terancam epidemi paru dan penyakit pernafasan. “Akan ada banyak keuntungan nyata dan fisik bagi pemerintah yang serius memerintahkan warganya berhenti merokok,” tandas kepala bagian thorax Concord Hospital Sydney itu kepada Agence France Presse.
Keuntungan utamanya, kata Peters adalah terhindar dari epidemi penyakit paru dan pernafasan karena rokok. Sebab, kendati kawasan-kawasan bebas rokok semakin luas di Asia, pertumbuhan perokok aktif di benua tersebut tetap tinggi. Dalam satu dekade terakhir, usia perokok aktif di Asia semakin muda. Jumlah perempuan perokok juga meningkat pesat. Mayoritas “ahli isap” aktif asia adalah penduduk pinggiran kota.
Dalam konferensi internasional itu, para pakar kesehatan mencatat dua alasan utama meningkatnya jumlah pecinta tembakau aktif. Yakni, peningkatan ekonomi dan merajalelanya iklan rokok yang menarik. Hingga saat ini, tercatat sedikitnya 1,25 miliar orang yang kecaduan tembakau dalam berbagai versi penggunaan setiap hari, jenis penggunaan tembakau terbesar adalah merokok.
Kendati pabrik rokok banyak menyerap tenaga kerja dan menyumbangkan pendapatan yang tidak sedikit bagi negara, Peters tetap yakin kerugianya jauh lebih besar. “Kebiasaan merokok akan menambah beban perekonomian negara. Sebab, pemerintah harus menyediakan lebih banyak dana kesehatan dan asuransi. Selain itu, potensi produktivitas masyarakat juga menurun karena penyakit akibat rokok,” paparnya.
Belakangan, jumlah penderita TB (tuber culosis) di Asia meningkat menjadi 60 persen. Sebanyak 20 persen diantaranya disebabkan rokok. “Berhenti merokok adalah cara yang paling mudah untuk memberantas TB,” tandasnya dalam konferensi kemarin (12/3). Dia menambahkan, separo diantara jumlah total pengguna tembakau dunia berada di Tiongkok dan India. Karena itu, pemerintah Asia perlu segera mengambil tindakan tegas.
Dikutip dari Jawa Pos Jumat, 13 Maret 2009
Leave a Reply