<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>KSU Pointer</title>
	<atom:link href="http://ksupointer.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ksupointer.com</link>
	<description>Melayani Sebaik Mungkin</description>
	<pubDate>Tue, 17 Apr 2012 02:37:42 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kelinci Si Penakut</title>
		<link>http://ksupointer.com/kelinci-si-penakut</link>
		<comments>http://ksupointer.com/kelinci-si-penakut#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2012 02:37:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lusia Sumarmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kutipan Internet]]></category>

		<category><![CDATA[Pandangan Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ksupointer.com/?p=42756</guid>
		<description><![CDATA[Kelinci memang dari dulu  terkenal sebagai hewan yang bernyali kecil, sering ketakutan tanpa  alasan yang jelas, sesegera mungkin menyingkir bila dia merasa terganggu  keamanannya.
Suatu hari, terlihat sekelompok kelinci sedang berkumpul di tepi sebuah  sungai, mereka sibuk berkeluh kesah meratapi nyalinya yang kecil,  mengeluh kehidupan mereka yang senantiasa dibayangi dengan mara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-42757" src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/kelinci-340x255.jpg" alt="kelinci" width="340" height="255" />Kelinci memang dari dulu  terkenal sebagai hewan yang bernyali kecil, sering ketakutan tanpa  alasan yang jelas, sesegera mungkin menyingkir bila dia merasa terganggu  keamanannya.</p>
<p>Suatu hari, terlihat sekelompok kelinci sedang berkumpul di tepi sebuah  sungai, mereka sibuk berkeluh kesah meratapi nyalinya yang kecil,  mengeluh kehidupan mereka yang senantiasa dibayangi dengan mara bahaya.  Semakin mereka ngobrol, semakin sedih dan ketakutan memikirkan nasib  mereka.</p>
<p>Alangkah malangnya lahir menjadi seekor kelinci. Mau lebih kuat tidak  punya tenaga, ingin terbang ke langit biru tidak punya sayap, setiap  hari ketakutan melulu. Mau tidur nyenyak pun sulit karena terganggu oleh  telinga panjang yang tajam pendengarannya sehingga matanya yang  berwarna merah pun semakin lama semakin merah saja.</p>
<p>Mereka merasa hidup ini tidak ada artinya. Daripada hidup menderita  ketakutan terus, mereka berpikir lebih baik mati saja. Akhirnya mereka  mengambil keputusan beramai-ramai hendak bunuh diri dengan melompat dari  tepian tebing yang tinggi dan curam. Maka para kelinci terlihat  berbondong-bondong menuju ke arah tebing.</p>
<p>Saat mereka melewati pinggir sungai, ada seekor katak yang terkejut  melihat kedatangan kelinci yang berjumlah banyak. Tergesa-gesa si katak  ketakutan dan segera meloncat ke sungai melarikan diri.</p>
<p>Walaupun si kelinci sering menjumpai katak yang melompat ketakutan saat  melihat kelinci melintas, tetapi sebelum ini mereka tidak peduli.  Berbeda untuk kali ini. Tiba-tiba ada seekor kelinci yang tersadar dari  kesedihannya dan langsung berteriak, &#8220;Hei, berhenti! Kita tidak usah  ketakutan sampai perlu harus bunuh diri. Karena lihatlah, ternyata ada hewan lain yang lebih tidak bernyali  dibandingkan kita yakni si katak yang terbirit-birit saat melihat kita!&#8221;</p>
<p>Mendengar kata-kata itu, kelinci yang lain tiba-tiba pikiran dan hatinya  terbuka, seolah-olah tumbuh tunas keberanian di hati mereka. Maka  dengan riang gembira mereka mulai saling membesarkan diri masing-masing,  &#8220;Iya, kita tidak perlu ketakutan!&#8221;. &#8220;Tuh kan, ada makhluk lain yang  lebih pengecut dari kita&#8221;, &#8220;Iya, kita harus semakin berani&#8221;.  Perlahan-lahan mereka berbalik arah kembali ke arah pulang dengan riang  gembira dan melupakan niatnya untuk bunuh diri.</p>
<p>Pembaca yang budiman,</p>
<p>Saat keberuntungan sedang tidak memihak kepada kita, jangan suka  meratapi nasib yang dirundung malang seakan-akan hanya kitalah makhluk  paling menderita di muka bumi ini. Lihatlah di sekeliling kita. Masih  begitu banyak orang yang lebih susah, sengsara, dan sial dibandingkan  kita. Jika mereka yang hidup dalam kekurangan tetapi mampu menjalaninya  dengan tegar dan tetap berjuang, kenapa kita tidak?</p>
<p>Apa pun keadaan kehidupan kita hari, seharusnya kita jalani dengan  optimis dan aktif, nasib tidak akan dapat kita rubah tanpa manusia itu  sendiri yang siap merubahnya, karena sesungguhnya &#8217;sukses adalah hak  setiap orang &#8220;<em>success is my right</em>, bagi siapa saja yang mau berjuang  dengan sungguh-sungguh.&#8221;</p>
<p>Salam sukses luar biasa!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ksupointer.com/kelinci-si-penakut/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kursi Feodal Bertabur Puntung Rokok</title>
		<link>http://ksupointer.com/kursi-feodal-bertabur-puntung-rokok</link>
		<comments>http://ksupointer.com/kursi-feodal-bertabur-puntung-rokok#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Apr 2012 06:04:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anida Etikawati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kutipan Internet]]></category>

		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>

		<category><![CDATA[Manufacturing Hope]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ksupointer.com/?p=42608</guid>
		<description><![CDATA[Manufacturing Hope 4
Senin, 12 Desember 2011
Gaji dan fasilitas sudah tidak kalah. Kemampuan orang-orang BUMN juga  sudah sama dengan swasta. Memang iklim yang memengaruhinya masih  berbeda, namun plus-minusnya juga seimbang. Apakah yang masih jauh  berbeda? Tidak meragukan lagi, kulturlah yang masih jauh berbeda. Di  BUMN pembentukan kultur korporasi yang sehat masih sering [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Manufacturing Hope 4</strong><br />
Senin, 12 Desember 2011</p>
<p>Gaji dan fasilitas sudah tidak kalah. Kemampuan orang-orang BUMN juga  sudah sama dengan swasta. Memang iklim yang memengaruhinya masih  berbeda, namun plus-minusnya juga seimbang. Apakah yang masih jauh  berbeda? Tidak meragukan lagi, kulturlah yang masih jauh berbeda. Di  BUMN pembentukan kultur korporasi yang sehat masih sering terganggu.</p>
<p>Terutama oleh kultur saling incar jabatan dengan cara yang curang:  menggunakan backing. Baik backing dari dalam?maupun dari luar. Backing  dari dalam biasanya komisaris atau pejabat tinggi Kementerian BUMN.  Tidak jarang juga ada yang menunggangi serikat pekerja. Sedangkan,  backing dari luar biasanya pejabat tinggi kementerian lain, politisi,  tokoh nasional, termasuk di dalamnya tokoh agama.?</p>
<p>Saya masih harus belajar banyak memahami kultur yang sedang  berkembang di semua BUMN. Itulah sebabnya sampai bulan kedua ini, saya  masih terus-menerus mendatangi unit usaha dan berkeliling ke  kantor-kantor BUMN. Saya berusaha tidak memanggil direksi BUMN ke  kementerian, melainkan sayalah yang mendatangi mereka.</p>
<p>Sudah lebih 100 BUMN dan unit usahanya yang saya datangi. Saya  benar-benar ingin belajar memahami kultur manajemen yang berkembang di  masing-masing BUMN. Saya juga ingin menyelami keinginan, harapan, dan  mimpi para pengelola BUMN kita. Saya ingin me-manufacturing hope.?</p>
<p>Dengan melihat langsung kantor mereka, ruang direksi mereka,  ruang-ruang rapat mereka, dan raut wajah-wajah karyawan mereka, saya  mencoba menerka kultur apa yang sedang berkembang di BUMN yang saya  kunjungi itu. Karena itu, kalau saya terbang dengan Citilink atau naik  KRL dan kereta ekonomi, itu sama sekali bukan untuk sok sederhana,  melainkan bagian dari keinginan saya untuk menyelami kultur yang lagi  berkembang di semua unit usaha.?</p>
<p>Kunjungan-kunjungan itu tidak pernah saya beritahukan sebelumnya. Itu  sama sekali bukan dimaksudkan untuk sidak (inspeksi mendadak),  melainkan untuk bisa melihat kultur asli yang berkembang di sebuah BUMN.  Apalagi saya termasuk orang yang kurang percaya dengan efektivitas  sidak.</p>
<p>Karena itu, kadang saya bisa bertemu direksinya, kadang juga tidak.  Itu tidak masalah. Toh, kalau tujuannya hanya ingin bertemu direksinya,  saya bisa panggil saja mereka ke kementerian. Yang ingin saya lihat  adalah kultur yang berkembang di kantor-kantor itu. Kultur manajemennya.</p>
<p>Dari tampilan ruang kerja dan ruang-ruang rapat di BUMN itu, saya  sudah bisa menarik kesimpulan sementara: BUMN kita masih belum satu  kultur. Kulturnya masih aneka ria. Masing-masing BUMN berkembang dengan  kulturnya sendiri-sendiri. Jelekkah itu” Atau justru baikkah itu” Saya  akan merenungkannya: perlukah ada satu saja corporate culture BUMN”  Ataukah dibiarkan seperti apa adanya” Atau, perlukah justru ada kultur  baru sama sekali”</p>
<p>Presiden SBY benar. Ada beberapa kantor mereka yang sangat mewah.  Beberapa ruang direksi BUMN “beberapa saja” sangat-sangat mewahnya.  Tapi, banyak juga kemewahan itu yang sebenarnya peninggalan direksi  sebelumnya.</p>
<p>Salahkah ruang direksi BUMN yang mewah” Belum tentu. Kalau kemewahan  itu menghasilkan kinerja dan pelayanan kepada publik yang luar biasa  hebatnya, orang masih bisa memaklumi. Tentu saja kemewahaan itu tetap  salah: kurang peka terhadap perasaan publik yang secara tidak langsung  adalah pemilik perusahaan BUMN.</p>
<p>Kemewahan itu juga tidak berbahaya kalau saja tidak sampai membuat  direksinya terbuai: keasyikan di kantor, merusak sikap kejiwaannya dan  lupa melihat bentuk pelayanan yang harus diberikan. Namun, sungguh sulit  dipahami manakala kemewahan itu menenggelamkan direksinya ke keasyikan  surgawi yang lantas melupakan kinerja pelayanannya.?</p>
<p>Di samping soal kemewahan itu, saya juga masih melihat satu-dua BUMN  yang dari penampilan ruang-ruang kerja dan ruang-ruang rapatnya masih  bernada feodal. Misalnya, ada ruang rapat yang kursi pimpinan rapatnya  berbeda dengan kursi-kursi lainnya. Kursi pimpinan rapat itu lebih  besar, lebih empuk, dan sandarannya lebih tinggi.</p>
<p>Ruang rapat seperti ini, untuk sebuah perusahaan, sangat tidak tepat.  Sangat tidak korporasi. Masih mencerminkan kultur feodalisme. Saya  tidak mempersoalkan kalau yang seperti itu terjadi di instansi-instansi  pemerintah. Namun, saya akan mempersoalkannya karena BUMN adalah  korporasi.</p>
<p>Harus disadari bahwa korporasi sangat berbeda dengan instansi. Kultur  menjadi korporasi inilah yang masih harus terus dikembangkan di BUMN.  Saya akan cerewet dan terus mempersoalkan hal-hal seperti itu meski  barangkali akan ada yang mengkritik “menteri kok mengurusi hal-hal  sepele”.</p>
<p>Saya tidak peduli. Toh, saya sudah menyatakan secara terbuka bahwa  saya tidak akan terlalu memfungsikan diri sebagai menteri, melainkan  sebagai chairman/CEO Kementerian BUMN.</p>
<p>Efektif tidaknya sebuah rapat sama sekali tidak ditentukan oleh  bentuk kursi pimpinan rapatnya. Rapat korporasi bisa disebut produktif  manakala banyak ide lahir di situ, banyak pemecahan persoalan ditemukan  di situ, dan banyak langkah baru diputuskan di situ. Saya tidak yakin  ruang rapat yang feodalistik bisa mewujudkan semua itu.</p>
<p>Saya paham: kursi pimpinan yang berbeda mungkin dimaksudkan agar  pimpinan bisa terlihat lebih berwibawa. Padahal, kewibawaan tidak  memiliki hubungan dengan bentuk kursi. Susunan kursi ruang rapat seperti  itu justru mencerminkan bentuk awal sebuah terorisme. Terorisme ruang  rapat.</p>
<p>Ide-ide, jalan-jalan keluar, keterbukaan, dan transformasi kultur  korporasi tidak akan lahir dari suasana rapat yang terteror. “Terorisme  ruang rapat” hanya akan melahirkan turunannya: ketakutan, kebekuan,  kelesuan, dan keapatisan. Bahkan, “terorisme ruang rapat” itu akan  menular dan menyebar ke jenjang yang lebih bawah. Bisa-bisa seseorang  yang jabatannya baru kepala cabang sudah berani minta agar kursi di  ruang rapatnya dibedakan!</p>
<p>Tentu saya tidak akan mengeluarkan peraturan menteri mengenai susunan  kursi ruang rapat. Biarlah masing-masing merenungkannya. Saat kunjungan  pun, saat melihat ruang rapat seperti itu, saya tidak mengeluarkan  komentar apa-apa. Juga tidak menampakkan ekspresi apa-apa. Saya memang  kaget, tetapi di dalam hati.</p>
<p>Yang juga membuat saya kaget (di dalam hati) adalah ini: asbak. Ada  asbak yang penuh puntung rokok di ruang direksi dan di ruang rapat.  Ruang direksi yang begitu dingin oleh AC, yang begitu bagus dan enak,  dipenuhi asap dan bau rokok.</p>
<p>Saya lirik agak lama asbak itu. Penuh dengan puntung. Menandakan  betapa serunya perokok di situ. Saya masih bisa menahan ekspresi wajah  kecewa atau marah. Saya ingin memahami dulu jalan pikiran apa yang  kira-kira dianut oleh direksi seperti itu. Apakah dia merasa sebagai  penguasa yang boleh melanggar peraturan? Apakah dia mengira anak buahnya  tidak mengeluhkannya? Apakah dia mengira untuk hal-hal tertentu  pimpinan tidak perlu memberi contoh?</p>
<p>Soal rokok ini pun, saya tidak akan mengaturnya. Sewaktu di PLN saya  memang sangat keras melawan puntung rokok. Tetapi, di BUMN saya serahkan  saja soal begini ke masing-masing korporasi. Hanya, harus fair. Kalau  direksinya boleh merokok di ruang kerjanya, dia juga harus mengizinkan  semua karyawannya merokok di ruang kerja mereka. Dia juga harus  mengizinkan semua tamunya merokok di situ.</p>
<p>“Kursi feodal” dan “puntung rokok” itu terserah saja mau diapakan.  Saya hanya khawatir jangan sampai “nila setitik merusak susu  se-Malinda”. Bisa menimbulkan citra feodal BUMN secara keseluruhan.  Padahal, itu hanya terjadi di satu-dua BUMN. Selebihnya sudah banyak  yang sangat korporasi.</p>
<p>Dahlan Iskan<br />
Menteri  BUMN</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ksupointer.com/kursi-feodal-bertabur-puntung-rokok/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengabdikah di BUMN? Lebih Sulitkah?</title>
		<link>http://ksupointer.com/mengabdikah-di-bumn-lebih-sulitkah</link>
		<comments>http://ksupointer.com/mengabdikah-di-bumn-lebih-sulitkah#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Apr 2012 01:03:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anida Etikawati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kutipan Internet]]></category>

		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>

		<category><![CDATA[Manufacturing Hope]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ksupointer.com/?p=42606</guid>
		<description><![CDATA[Manufacturing Hope 3
Senin, 05 Desember 2011
Benarkah menjadi eksekutif di BUMN itu lebih sulit dibanding di  swasta? Benarkah menjadi direksi di perusahaan negara itu lebih makan  hati? Lebih tersiksa? Lebih terkungkung birokrasi? Lebih terbelit  peraturan? Lebih tidak ada hope? Jawabnya: entahlah.
Belum ada penelitian ilmiahnya. Yang ada barulah rumor. Persepsi. Anggapan.
Bagaimana kalau dibalik: tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Manufacturing Hope 3</strong><br />
Senin, 05 Desember 2011</p>
<p>Benarkah menjadi eksekutif di BUMN itu lebih sulit dibanding di  swasta? Benarkah menjadi direksi di perusahaan negara itu lebih makan  hati? Lebih tersiksa? Lebih terkungkung birokrasi? Lebih terbelit  peraturan? Lebih tidak ada hope? Jawabnya: entahlah.</p>
<p>Belum ada penelitian ilmiahnya. Yang ada barulah rumor. Persepsi. Anggapan.</p>
<p>Bagaimana kalau dibalik: tidak mungkinkah anggapan itu hanya cermin  dari pepatah “rumput di halaman tetangga lebih hijau”. Atau bahkan lebih  negatif lagi: sebagai kambing hitam? Yakni, sebuah kambing hitam untuk  pembenaran dari kegagalan? Atau sebuah kambing hitam untuk sebuah  ketidakmampuan?</p>
<p>Agar lebih fair, sebaiknya didengar juga suara-suara dari kalangan eksekutif swasta.</p>
<p>Mereka tentu bisa banyak bercerita. Misalnya, cerita betapa stresnya  mengejar target dari sang pemilik perusahaan. Di sisi ini jelas menjadi  eksekutif di swasta jauh lebih sulit. Bagi seorang eksekutif swasta yang  tidak bisa mencapai target, hukumannya langsung di depan mata:  diberhentikan. Bahkan, kalau lagi sial, yakni menghadapi pemilik  perusahaan yang mulutnya kotor, seorang eksekutif swasta tidak ubahnya  penghuni kebun binatang.</p>
<p>Di BUMN konsekuensi tidak mencapai target tidak ada. Menteri yang  mewakili pemilik BUMN setidaknya tidak akan pernah mencaci maki  eksekutifnya di depan umum.</p>
<p>Bagaimana dengan citra campur tangan yang tinggi di BUMN? Ini pun  kelihatannya juga hanya kambing hitam. Di swasta campur tangan pemilik  jauh lebih dalam.</p>
<p>Katakanlah direksi BUMN mengeluh seringnya dipanggil DPR sebagai  salah satu bentuk campur tangan. Tapi, saya lihat, pemanggilan oleh DPR  itu tidak sampai memiliki konsekuensi seberat pemanggilan oleh pemilik  perusahaan swasta. Apalagi, Komisi VI DPR yang membawahkan BUMN sangat  proporsional. Tidak banyak yang aneh-aneh. Bahkan, salah satu anggota  DPR di situ, Mumtaz Amin Rais, sudah seperti anggota parlemen dari  Inggris. Kalau bertanya sangat singkat, padat, dan langsung pada pokok  persoalan. Tidak sampai satu menit. Anggota yang lain juga tidak ada  yang sampai menghujat tanpa alasan yang kuat. Jelaslah, campur tangan  pemilik perusahaan swasta jauh lebih mendalam.</p>
<p>Di swasta juga sering ditemukan kenyataan ini: banyak pemilik  perusahaan swasta yang maunya aneh-aneh. Kediktatoran mereka juga luar  biasa! Sangat biasa pemilik perusahaan swasta memaksakan kehendaknya.  Dengan demikian, cerita soal campur tangan pemilik, soal pemaksaan  kehendak, dan soal kediktatoran pemilik di swasta jauh lebih besar  daripada di BUMN.</p>
<p>Bagaimana dengan iklim korporasinya? Sebenarnya juga sama saja. Hanya  berbeda nuansanya. Bukankah di swasta Anda juga sering terjepit oleh  besarnya dominasi keluarga pemilik? Apalagi kalau si pemilik akhirnya  sudah punya anak dan anak itu tumbuh dewasa dan menghasilkan  menantu-menantu? Dengan demikian, tidak cukup kuat juga alasan bahwa  menjadi eksekutif di BUMN itu lebih sulit karena iklim korporasinya  kurang mendukung.</p>
<p>Bagaimana soal campur tangan politik? Memang ada anggapan campur  tangan politik sangat menonjol di BUMN. Untuk soal ini pun saya  meragukannya. Saya melihat campur tangan itu lebih banyak lantaran  justru diundang oleh eksekutif itu sendiri. Di swasta pun kini akan  tertular penyakit itu. Dengan banyaknya pemilik perusahaan swasta yang  terjun ke politik, bisa jadi kerepotan eksekutif di swasta juga  bertambah-tambah. Tidakkah Anda pusing menjadi eksekutif swasta yang  pemiliknya berambisi terjun ke politik?</p>
<p>Maka, saya curiga orang-orang yang sering mengembuskan wacana bahwa  menjadi eksekutif di BUMN itu sulit adalah orang-orang yang pada  dasarnya memang tidak bisa bekerja. Di dunia ini alasan, dalih, kambing  hitam, dan sebangsanya terlalu mudah dicari. Orang yang sering diberi  nasihat atasannya, tapi gagal dalam melaksanakan pekerjaannya, dia akan  cenderung beralasan “terlalu banyak dicampuri sih!”. Sebaliknya, orang  yang diberi kepercayaan penuh, tapi juga gagal, dia akan bilang, “Tidak  pernah ditengok sih!”.</p>
<p>Maka, pada akhirnya sebenarnya kembali ke who is he! Kalau dibilang  menjadi direksi di BUMN itu sulit dan bekerja di swasta ternyata juga  sulit, lalu di mana dong bekerja yang enak? Yang tidak sulit? Yang tidak  repot? Yang tidak stres? Yang gajinya besar? Yang fasilitasnya baik?  Yang bisa bermewah-mewah? Yang bisa semaunya?</p>
<p>Saya tidak bisa menjawab itu. Yang paling tepat menjawabnya adalah  orang yang tingkatan hidupnya lebih tinggi dari saya. Bukan Rhenald  Kasali atau Tanri Abeng atau Hermawan Kartajaya. Bukan Peter Drucker,  bukan pula Jack Welch.</p>
<p>Yang paling tepat menjawab pertanyaan itu adalah seseorang yang lagi  menikmati tidurnya yang pulas pada hari Senin pukul 10 pagi di bawah  jembatan kereta api Manggarai dengan hanya beralaskan karton. Dialah  seenak-enaknya orang. Sebebas-bebasnya manusia. Tidak mikir utang, tidak  mikir target, tidak mikir tanggung jawab. Orang seperti dialah yang  barangkali justru heran melihat orang-orang yang sibuk!</p>
<p>Maksud saya: maka berhentilah mengeluh!<br />
Maksud saya: tetapkanlah tekad! Mau jadi direksi BUMN atau mau di swasta. Atau mau, he he, memilih hidup yang paling nikmat itu!<br />
Maksud saya: kalau pilihan sudah dijatuhkan, tinggallah kita fokus di  pilihan itu. Sepenuh hati. Tidak ada pikiran lain kecuali bekerja,  bekerja, bekerja!</p>
<p>Daripada mengeluh terus, berhentilah bekerja. Masih banyak orang lain  yang mau bekerja. Masih banyak orang lain yang tanpa mengeluh bisa  menunjukkan kemajuan!</p>
<p>Lihatlah direksi bank-bank BUMN itu. Mereka begitu majunya. Sama  sekali tidak kalah dengan direksi bank swasta. Padahal, direksi bank  BUMN itu terjepit antara peraturan birokrasi BUMN dan peraturan yang  ketat dari bank sentral. Mana ada direksi yang dikontrol begitu ketat  dari dua jurusan sekaligus melebihi direksi bank BUMN” Buktinya,  bank-bank BUMN kita luar biasa.</p>
<p>Lihatlah pemilihan Marketeers of The Year yang sudah lima tahun  dilaksanakan Marks Plus-nya Hermawan Kartajaya. Empat tahun  berturut-turut Marketeers of The Year-nya adalah direksi BUMN! Swasta  baru menang satu kali! Para Marketeers of The Year dari BUMN itu adalah  tipe orang-orang yang tidak pandai mengeluh! Mereka adalah tipe orang  yang bekerja, bekerja, bekerja!</p>
<p>Lihatlah tiga CEO BUMN yang minggu lalu terpilih sebagai CEO BUMN of  The Year: R.J. Lino (Dirut Pelindo 2), Tommy Soetomo (Dirut Angkasapura  1), dan Ignasius Jonan (Dirut Kereta Api Indonesia). Mereka adalah  orang-orang yang sambil mengeluh terus bekerja keras. Mereka terus  menghasilkan prestasi dari sela-sela jepitan birokrasi dan peraturan.  Bahkan, salah satu dari tiga orang itu terus bekerja keras sambil  menahan sakitnya yang berat.</p>
<p>Lihat pulalah para direksi BUMN yang malam itu memenangi berbagai  kategori inovasi di BUMN. Mereka adalah orang-orang andal yang mau  mengabdi di BUMN.</p>
<p>Maaf, mungkin inilah untuk kali terakhir saya menggunakan kata  “mengabdi di BUMN”. Setelah ini saya ingin menghapus istilah “mengabdi”  itu. Istilah “mengabdi di BUMN” tidak lebih dari sebuah kemunafikan.</p>
<p>Selalu ada udang di balik batu di balik istilah “mengabdi di BUMN”  itu. Setiap ada pihak yang mengucapkan kata “mengabdi di BUMN”, pasti  ada mau yang ingin dia sampaikan. Banyak sekali mantan pejabat BUMN yang  ingin terus memiliki rumah jabatan dengan alasan sudah puluhan tahun  mengabdi di BUMN. Terlalu banyak orang BUMN yang memanfaatkan istilah  mengabdi untuk tujuan-tujuan tersembunyi. Barangkali memang sudah  waktunya BUMN bukan lagi tempat mengabdi, dalam pengertian seperti itu.  Kecuali mereka benar-benar mau bekerja keras di BUMN tanpa digaji! Sudah  waktunya BUMN hanya sebagai tempat membuat prestasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ksupointer.com/mengabdikah-di-bumn-lebih-sulitkah/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Neraka dari “Manajemen Musyrik”</title>
		<link>http://ksupointer.com/neraka-dari-%e2%80%9cmanajemen-musyrik%e2%80%9d</link>
		<comments>http://ksupointer.com/neraka-dari-%e2%80%9cmanajemen-musyrik%e2%80%9d#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Apr 2012 01:01:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anida Etikawati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kutipan Internet]]></category>

		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>

		<category><![CDATA[Manufacturing Hope]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ksupointer.com/?p=42604</guid>
		<description><![CDATA[Manufacturing Hope 2
Minggu, 27 November 2011
Manufacturing hope tentu juga harus dilakukan untuk bandara-bandara kita. Selain  mencarikan jalan keluar untuk hotel-hotel yang ada di Bali, selama  mengikuti KTT ASEAN saya berkunjung ke pelabuhan perikanan Benoa,  melihat aset-aset BUMN yang tidak produktif di Bali dan diajak melihat  proyek Bandara Ngurah Rai yang baru.
Tanpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Manufacturing Hope 2</strong><br />
Minggu, 27 November 2011</p>
<p><a href="http://dahlaniskan.wordpress.com/2011/11/21/langkah-pertama-manufacturing-hope/" target="_blank">Manufacturing hope</a> tentu juga harus dilakukan untuk bandara-bandara kita. Selain  mencarikan jalan keluar untuk hotel-hotel yang ada di Bali, selama  mengikuti KTT ASEAN saya berkunjung ke pelabuhan perikanan Benoa,  melihat aset-aset BUMN yang tidak produktif di Bali dan diajak melihat  proyek Bandara Ngurah Rai yang baru.</p>
<p>Tanpa dilakukan survei pun semua orang sudah tahu betapa tidak  memuaskannya Bandara Internasional Ngurah Rai itu. Semua orang ngomel,  mencela, dan mencaci maki sesaknya, ruwetnya, dan buruknya. Bandara itu  memang tidak mampu menanggung beban yang sudah empat kali lebih besar  daripada kapasitasnya.</p>
<p>Memang, PT Angkasapura I, BUMN yang mengelola bandara tersebut, sudah  mulai membangun terminal yang baru. Tapi, terminal baru itu baru akan  selesai paling cepat dua tahun lagi.</p>
<p>Berarti selama dua tahun ke depan keluhan dari publik masih akan  sangat nyaring. Bahkan, keluhan itu akan bertambah-tambah karena di  lokasi yang sama bakal banyak kesibukan proyek. Bongkar sana, bongkar  sini. Pindah sana, pindah sini. Membangun terminal baru di lokasi  terminal yang masih dipakai tentu sangat repot. Lebih enak membangun  terminal baru di lokasi yang baru sama sekali.</p>
<p>Menghadapi persoalan yang begitu stres, hanya hope-lah yang bisa  di-manufacture! Karena itu, memajang maket bandara baru tersebut  besar-besar di ruang tunggu atau di tempat-tempat strategis lainnya  menjadi penting. Saya berharap, penumpang yang ngomel-ngomel itu bisa  melihat gambar bandara baru yang lebih lapang dan lebih indah. Perhatian  penumpang harus dicuri agar tidak lagi selalu merasakan sumpeknya  keadaan sekarang, melainkan diajak merasakan mimpi masa depan baru yang  segera datang itu.</p>
<p>Demikian juga, PT Angkasapura II yang mengelola Bandara  Soekarno-Hatta harus membantu manufacturing hope itu. Caranya, ikut  membantu memasangkan maket bandara baru Ngurah Rai di lokasi Bandara  Soekarno-Hatta. Bahkan, maket baru Bandara Soekarno-Hatta sendiri juga  harus lebih banyak ditampilkan secara atraktif.</p>
<p>Tentu, sambil menunggu yang baru itu, bandara yang ada harus tetap  diperhatikan. Mungkin memang tidak perlu membuang uang terlalu banyak  untuk sesuatu yang dalam dua tahun ke depan akan dibongkar. Tapi, tanpa  membuat bandara yang ada ini lebih baik, orang pun akan kehilangan  harapan bahwa bandara yang baru itu kelak bakal mengalami nasib tak  terurus yang sama. Itulah sebabnya, khusus Bandara Soekarno-Hatta,  manajemen Angkasapura II akan melakukan survei persepsi publik yang  bakal dilakukan oleh lembaga survei yang kredibel dan independen.</p>
<p>***<br />
Manufacturing hope kelihatannya juga harus lebih banyak diproduksi untuk  industri rekayasa. PT Dirgantara Indonesia (pembuatan pesawat), PT PAL  Surabaya (pembuatan kapal), PT Bharata Surabaya (mesin-mesin), PT Boma  Bisma Indra Surabaya-Pasuruan (mesin-mesin), PT INKA (pembuatan kereta  api), dan banyak lagi industri jenis itu sangat memerlukannya.</p>
<p>Semua BUMN di bidang ini sulitnya bukan main. Kesulitan yang sudah  berlangsung begitu lama. Di barisan ini termasuk Dok Perkapalan IKI  Makassar, Dok Perkapalan Koja Bahari Jakarta, dan industri sejenis?yang  menjadi anak perusahaan BUMN seperti jasa produksi milik PLN dan  perbengkelan di lingkungan BUMN lainnya. Beberapa di antaranya bahkan  sangat-sangat parah. PT PAL, misalnya, sudah terlalu lama merah dalam  skala kerugian yang triliunan rupiah.</p>
<p>PT IKI Makassar idem ditto. Sudah dua tahun perusahaan galangan kapal  terbesar di Indonesia Timur itu tidak mampu membayar gaji karyawan.  Perusahaan tersebut terjerumus ketika menerima order pembuatan kapal  penangkap ikan modern sebanyak 40 unit, tapi dibatalkan pemerintah di  tengah jalan. Kini 14 kapal ikan yang sudah telanjur jadi itu mengapung  mubazir begitu saja. Sudah lebih dari sepuluh tahun kapal-kapal modern  itu berjajar menganggur.</p>
<p>Bahan-bahan kapal yang belum jadi pun sudah menjadi besi tua dan  berserakan memenuhi kawasan galangan kapal itu. Peralatan produksinya  juga sudah menganggur bertahun-tahun. Salah satu di antaranya bisa  membuat ngiler siapa pun: crane 150 ton! Dok Perkapalan Surabaya yang  ordernya begitu banyak dan sibuk saja hanya punya crane terbesar 50 ton!</p>
<p>Dulu, sekitar 15 tahun yang lalu, saya pernah mengkritik pemerintah  di bidang itu. Saya menulis di media mengapa nasib industri rekayasa  kita begitu jelek.Mengapa kita impor permesinan bertriliun-triliun  setiap tahun, tapi industri rekayasa di dalam negeri telantar berat.  Bahkan, tokoh sekaliber B.J. Habibie pun tidak berhasil mengatasinya.<br />
Waktu itu saya sudah membayangkan alangkah hebatnya Indonesia kalau  semua potensi tersebut disatukan dalam koordinasi yang utuh. Kalau saja  ada kesatuan di dalamnya, kita bisa memproduksi pabrik apa pun, alat apa  pun, dan kendaraan apa pun. Pembangkit listrik, pabrik gula, pabrik  kelapa sawit, pesawat, kapal, kereta, motor, mobil, dan apalagi sepeda,  semua bisa dibuat di dalam negeri.</p>
<p>Sebagai orang yang kala itu sering mengunjungi pabrik-pabrik sejenis  di Tiongkok, saya selalu mengeluh: alangkah lebih modernnya peralatan  yang dimiliki pabrik-pabrik kita jika dibandingkan dengan pabrik-pabrik  yang saya kunjungi itu. Peralatan yang dimiliki PT Bharata, misalnya,  jauh lebih modern daripada yang saya lihat di Tiongkok saat itu. Ahli  pesawat dari Eropa mengagumi modernya peralatan di PT Dirgantara  Indonesia.</p>
<p>Kini, dalam posisi saya yang baru ini, saya tidak bisa lagi hanya  mengkritik. Tanggung jawab itu kini ditumpukkan di pundak saya. Saya  tidak boleh lupa bahwa saya pernah mengkritik pemerintah. Saya tidak  boleh mencari kambing hitam untuk menghindarkan diri dari tanggung  jawab. Tentu saya juga menyadari bahwa saya bukanlah seorang yang genius  seperti Pak Habibie. Saya hanya mengandalkan hasil dari manufacturing  hope.</p>
<p>Tidak mudah perusahaan yang sudah mengalami kemerosotan yang panjang  bisa bangkit kembali. Karena itu, saya harus menghargai dan memuji upaya  yang dilakukan manajemen PT Dirgantara Indonesia (DI) belakangan ini.  Rasanya, untuk bidang ini, DI akan bangkit yang pertama. Thanks to  kesungguhan Presiden SBY yang telah menginstruksikan pengadaan seluruh  keperluan militer dilakukan di dalam negeri. Kecuali peralatan sekelas  tank Leopard, helikopter Apache, atau kapal selam yang memang belum bisa  dibuat sendiri. Pesawat tempur sekelas F-16 Block 52 pun, tekad  Presiden SBY tegas: harus diproduksi di dalam negeri meski harus bekerja  sama dengan pihak luar.Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro juga  sangat serius dalam mengontrol pelaksanaan instruksi presiden itu.</p>
<p>Maka, PT DI kelihatannya segera mentas. Kegiatan jangka pendek,  menengah, dan panjangnya sudah tertata. Dalam waktu pendek ini, sampai  dua tahun ke depan, pekerjaannya sudah sangat banyak: membuat pesawat  militer CN-295 dalam jumlah yang besar. Order ini akan berkelanjutan  menjadi program jangka menengah karena PT DI juga sekaligus diberi hak  keagenan untuk Asia Pasifik. Sedangkan jangka panjangnya, PT DI  memproduksi pesawat tempur setara Block 52 bekerja sama dengan Korea  Selatan.</p>
<p>Adanya kebijakan yang tegas dari Presiden SBY, komitmen pembinaan  yang kuat dari Kementerian Pertahanan, kapabilitas personel PT DI yang  unggul (terbukti satu bagian dari sayap pesawat Airbus 380 yang gagah  dan menarik itu ternyata selalu diproduksi di PT DI), dan fokus  manajemen dalam melayani keperluan Kementerian Pertahanan adalah kunci  awal bangkitnya industri pesawat PT DI.</p>
<p>Instruksi Presiden SBY itu juga berlaku untuk PT Pindad. Maka,  kebangkitan serupa juga akan terjadi untuk PT Pindad. Semoga juga di PT  Dahana. Karean itu, tidak ada jalan lain bagi PT PAL untuk tidak  mengikuti jejak PT DI. Kalau saja PT PAL fokus melayani keperluan  pembuatan dan perawatan kapal-kapal militer nasibnya akan lebih baik.</p>
<p>Apalagi, anggaran untuk peralatan militer kini semakin besar.  Menyerap semaksimal mungkin anggaran militer itu saja sudah akan bisa  menghidupi. Dengan syarat, pelayanan kepada keperluan militer itu sangat  memuaskan: mutunya dan waktu penyelesaiannya.</p>
<p>Lupakan dulu menggarap kapal niaga yang ternyata merugikan PT PAL  begitu besar. Lupakan menggarap bisnis-bisnis lain, apalagi sampai  menjadi kontraktor EPC seperti yang dilakukan selama ini. Semua itu  hanya mengganggu kefokusan manajemen dan merusak suasana kebatinan  jajaran PT PAL sendiri. Memang ada alasan ilmiah untuk mengerjakan  banyak hal itu.</p>
<p>Misalnya untuk memanfaatkan idle capacity. Tapi, godaan memanfaatkan  idle capacity itu bisa membuat orang tidak fokus. Dalam bahasa agama,  “tidak fokus” berarti “tidak mengesakan”. “Tidak mengesakan” berarti  “tidak bertauhid”. “Tidak bertauhid” berarti “musyrik”. Memanfaatkan  idle capacity di satu pihak sangat ilmiah, di pihak lain bisa juga  berarti godaan terhadap fokus. Saya sering mengistilahkannya “godaan  untuk berbuat musyrik”. Padahal, orang musyrik itu masuk neraka.  Nerakanya perusahaan adalah negative  cash flow, rugi, dan akhirnya  bangkrut.</p>
<p>Kalaupun PT PAL kelak sudah fokus menekuni keperluan militer, tapi  masih juga rugi, negara tidak akan terlalu menyesal. Tapi, kerugian PT  PAL karena menggarap kapal niaga asing sangatlah menyakitkan. Apalagi,  kerugian itu menjadi beban negara. Rugi untuk memperkuat militer kita  masih bisa dianggap sebagai pengabdian kepada negara. Tapi, rugi karena  menggarap kapal niaga asing dan kemudian minta uang kepada negara sama  sekali tidak bisa dimengerti.</p>
<p>Hanya kepada orang-orang yang bisa fokuslah saya banyak berharap.  Hanya di tangan pimpinan-pimpinan yang fokuslah BUMN bisa bangkit.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ksupointer.com/neraka-dari-%e2%80%9cmanajemen-musyrik%e2%80%9d/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>RAT KSU Pointer Tahun Buku 2011</title>
		<link>http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011</link>
		<comments>http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2012 08:54:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anida Etikawati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Rapat Anggota Tahunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ksupointer.com/?p=42672</guid>
		<description><![CDATA[Minggu, 25 Maret 2012, KSU Pointer mengadakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2011. Acara ini dihadiri oleh 96 orang, yang terdiri oleh anggota, calon anggota, mitra kerja, Dekopinda Kota Malang, dan Dinas Koperasi dan UKM Kota Malang.
Acara dimulai pukul 10.30, diawali dengan doa yang dipimpin oleh Ibu Lenny Fransisca. Acara dilanjutkan dengan sambutan pengurus, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu, 25 Maret 2012, KSU Pointer mengadakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2011. Acara ini dihadiri oleh<span> </span>96 orang, yang terdiri oleh anggota, calon anggota, mitra kerja, Dekopinda Kota Malang, dan Dinas Koperasi dan UKM Kota Malang.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Acara dimulai pukul 10.30, diawali dengan doa yang dipimpin oleh Ibu Lenny Fransisca. Acara dilanjutkan dengan sambutan pengurus, yang disampaikan oleh Bapak Johanis Rampisela, dilanjutkan dengan sambutan dari Dekopinda Kota Malang yang diwakili oleh Bapak Tugino, dan sambutan dari Dinas Koperasi dan UKM, yang diwakili oleh Bapak Gunandar. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Pukul 10.45 acara dilanjutkan dengan penjelasan Live Blood Analysis yang disampaikan oleh Bapak Bagus Setiawan. Dalam penjelasannya disampaikan bahwa darah yang sehat mempunyai struktur bulat dan terurai satu per satu. Darah yang tidak sehat dapat menyebabkan terjadinya berbagai macam penyakit seperti kolesterol, jantung, stroke, ginjal, dll. Pada kesempatan ini juga ditunjukkan cara analisa darah langsung dengan mikroskop. Ibu Sutanto berkesempatan untuk diambil darahnya dan dianalisa. Hasil analisanya menunjukkan bahwa darah Ibu Sutanto mengalami perlengketan. Ibu Sutanto kemudian dipersilahkan untuk meminum FH99, minuman bermikroba positif. 20 menit kemudian, darah Ibu Sutanto dicek kembali, dan hasilnya menunjukkan bahwa perlengketan darah sangat banyak berkurang. Pukul 11.15, acara dilanjutkan dengan testimoni oleh Bapak Saptono Agus Suprapto. Dari testimoninya ditunjukkan beberapa perbandingan hasil cek darah dari beberapa orang yang mengalami penyakit tertentu. Pada kesempatan ini Bapak Saptono juga menjelaskan beberapa teknik analisa kesehatan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Pukul 11.45, acara dilanjutkan dengan pengambilan undian dan door prize. Mekanisme undian dijelaskan oleh Ibu Mimiep Setiowati Madja. Pengambilan undian simpanan dilakukan oleh Ibu Juliani Sri Bintarti, dan pengundian doo prize oleh Ibu Zulaikha, dari Koperasi Mentari Batu. Door prize yang disediakan adalah 3 buah FH99, 2 buah serum Jauzaa Arfikha, dan 5 buah Beauty Soap Jauzaa Arfikha.<span> </span>Kemudian acara dilanjutkan dengan pembagian tanda mata Teh Sarang Semut kepada para undangan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Pukul 12.00 acara dilanjutkan dengan makan siang dan cek darah. Cek darah dilaksanakan oleh Bapak Saptono dan Bapak Tyo. Pukul 13.30, acara dilanjutkan dengan Rapat Anggota Perencanaan dan Sidang Anggota. Anggota dapat menerima Rencana Tahunan dan Laporan Tahunan Tahun Buku 2011 sehingga dapat disahkan.</span></p>

<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-001' title='rat-ksu-pointer-001'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-001-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-002' title='rat-ksu-pointer-002'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-002-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-003' title='rat-ksu-pointer-003'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-003-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-004' title='rat-ksu-pointer-004'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-004-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-005' title='rat-ksu-pointer-005'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-005-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-006' title='rat-ksu-pointer-006'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-006-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-007' title='rat-ksu-pointer-007'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-007-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-008' title='rat-ksu-pointer-008'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-008-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-009' title='rat-ksu-pointer-009'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-009-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-010' title='rat-ksu-pointer-010'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-010-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-011' title='rat-ksu-pointer-011'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-011-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-012' title='rat-ksu-pointer-012'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-012-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-013' title='rat-ksu-pointer-013'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-013-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-014' title='rat-ksu-pointer-014'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-014-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-015' title='rat-ksu-pointer-015'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-015-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-016' title='rat-ksu-pointer-016'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-016-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-017' title='rat-ksu-pointer-017'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-017-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-018' title='rat-ksu-pointer-018'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-018-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-019' title='rat-ksu-pointer-019'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-019-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-020' title='rat-ksu-pointer-020'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-020-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-021' title='rat-ksu-pointer-021'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-021-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-022' title='rat-ksu-pointer-022'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-022-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-023' title='rat-ksu-pointer-023'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-023-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-024' title='rat-ksu-pointer-024'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-024-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-025' title='rat-ksu-pointer-025'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-025-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-026' title='rat-ksu-pointer-026'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-026-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-027' title='rat-ksu-pointer-027'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-027-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-028' title='rat-ksu-pointer-028'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-028-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-029' title='rat-ksu-pointer-029'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-029-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-030' title='rat-ksu-pointer-030'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-030-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-031' title='rat-ksu-pointer-031'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-031-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-032' title='rat-ksu-pointer-032'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-032-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-033' title='rat-ksu-pointer-033'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-033-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-034' title='rat-ksu-pointer-034'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-034-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-035' title='rat-ksu-pointer-035'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-035-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-036' title='rat-ksu-pointer-036'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-036-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-037' title='rat-ksu-pointer-037'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-037-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-038' title='rat-ksu-pointer-038'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-038-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-039' title='rat-ksu-pointer-039'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-039-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-040' title='rat-ksu-pointer-040'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-040-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-041' title='rat-ksu-pointer-041'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-041-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-042' title='rat-ksu-pointer-042'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-042-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-043' title='rat-ksu-pointer-043'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-043-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-044' title='rat-ksu-pointer-044'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-044-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-045' title='rat-ksu-pointer-045'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-045-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-046' title='rat-ksu-pointer-046'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-046-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-047' title='rat-ksu-pointer-047'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-047-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-048' title='rat-ksu-pointer-048'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-048-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-049' title='rat-ksu-pointer-049'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-049-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-050' title='rat-ksu-pointer-050'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-050-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-051' title='rat-ksu-pointer-051'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-051-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-052' title='rat-ksu-pointer-052'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-052-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-053' title='rat-ksu-pointer-053'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-053-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-054' title='rat-ksu-pointer-054'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-054-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-055' title='rat-ksu-pointer-055'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-055-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-056' title='rat-ksu-pointer-056'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-056-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-057' title='rat-ksu-pointer-057'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-057-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-058' title='rat-ksu-pointer-058'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-058-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-059' title='rat-ksu-pointer-059'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-059-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-060' title='rat-ksu-pointer-060'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-060-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-061' title='rat-ksu-pointer-061'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-061-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-062' title='rat-ksu-pointer-062'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-062-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-063' title='rat-ksu-pointer-063'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-063-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-064' title='rat-ksu-pointer-064'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-064-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-065' title='rat-ksu-pointer-065'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-065-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-066' title='rat-ksu-pointer-066'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-066-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-067' title='rat-ksu-pointer-067'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-067-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-068' title='rat-ksu-pointer-068'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-068-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-069' title='rat-ksu-pointer-069'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-069-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-070' title='rat-ksu-pointer-070'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-070-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-071' title='rat-ksu-pointer-071'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-071-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-072' title='rat-ksu-pointer-072'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-072-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/rat-ksu-pointer-073' title='rat-ksu-pointer-073'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/04/rat-ksu-pointer-073-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ksupointer.com/rat-ksu-pointer-tahun-buku-2011/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Langkah Pertama: Manufacturing Hope!</title>
		<link>http://ksupointer.com/langkah-pertama-manufacturing-hope</link>
		<comments>http://ksupointer.com/langkah-pertama-manufacturing-hope#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Apr 2012 03:59:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anida Etikawati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kutipan Internet]]></category>

		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>

		<category><![CDATA[Manufacturing Hope]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ksupointer.com/?p=42602</guid>
		<description><![CDATA[Manufacturing Hope 1
Senin, 21 November 2011
Industri apakah yang harus pertama-tama dibangun di BUMN? Setelah  sebulan menduduki jabatan menteri negara badan usaha milik negara (BUMN)  dan setelah mengunjungi lebih dari 30 unit usaha milik publik ini, saya  bertekad untuk lebih dulu membangun industri yang satu ini:  manufacturing hope! Industrialisasi harapan.
Itu bisa saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Manufacturing Hope 1</strong><br />
Senin, 21 November 2011</p>
<p>Industri apakah yang harus pertama-tama dibangun di BUMN? Setelah  sebulan menduduki jabatan menteri negara badan usaha milik negara (BUMN)  dan setelah mengunjungi lebih dari 30 unit usaha milik publik ini, saya  bertekad untuk lebih dulu membangun industri yang satu ini:  manufacturing hope! Industrialisasi harapan.</p>
<p>Itu bisa saya lakukan setelah saya berketetapan hati untuk lebih  memerankan diri sebagai seorang chairman/CEO daripada seorang menteri.  Kepada jajaran Kementerian BUMN, saya sering” bergurau “lebih baik saya  seperti chairman saja dan biarlah wakil menteri BUMN yang akan  memerankan diri sebagai menteri yang sebenarnya”.</p>
<p>Sebagai chairman/CEO Kementerian BUMN, saya akan lebih fleksible,  tidak terlalu kaku, dan tidak terlalu dibatasi oleh tembok-tembok  birokrasi. Dengan memerankan diri sebagai chairman/CEO, saya akan  mempunyai daya paksa kepada jajaran korporasi di lingkungan BUMN.</p>
<p>Meski begitu, saya akan tetap ingat batas-batas: seorang chairman/CEO  bukanlah seorang president director/CEO. Ia bisa mempunyai daya paksa,  tapi tidak akan ikut melaksanakan. Tetaplah penanggung jawab  pelaksanaannya adalah president director/CEO di masing-masing korporasi  BUMN.</p>
<p>Dengan peran sebagai chairman/CEO, saya tidak akan sungkan dan tidak  akan segan-segan ikut mencarikan terobosan korporasi. Ini sesuai saja  dengan arahan Presiden SBY bahwa menteri yang sekarang harus bisa  berlari kencang. Dengan memerankan diri sebagai chairman/CEO, saya akan  bisa memenuhi harapan tersebut.</p>
<p>Tengoklah, misalnya, bagaimana kita harus menghadapi persoalan  hotel-hotel BUMN kita yang berada di Bali. Semuanya sudah berpredikat  yang paling buruk. Inna Kuta Hotel sudah menjadi yang terjelek di  kawasan Pantai Kuta. Inna Sanur (Bali Beach) sudah menjadi yang terjelek  di kawasan Pantai Sanur. Inna Nusa Dua (Putri Bali) sudah pasti menjadi  yang terjelek di kawasan Nusa Dua yang gemerlapan itu. Bukan hanya yang  terjelek, tapi juga sudah mau ambruk.</p>
<p>Padahal, pada zaman dulu, hotel-hotel ini tergolong yang terbaik di  kelasnya. Kini, di arena bisnis perhotelan di Bali, hotel-hotel BUMN  telah menjadi lambang kemunduran, keruwetan, dan kekumuhan.</p>
<p>Memang pernah ada upaya untuk bangkit. Direksi kelompok hotel ini  (Grup PT Hotel Indonesia Natour) pernah diperbarui. Bahkan tidak  tanggung-tanggung. Jajaran direksinya diambilkan dari para profesional  dari luar BUMN.</p>
<p>Dengan semangat profesionalisme, grup ini?ingin mulai merombak dua  hotelnya: di Padang dan di Kuta. Tapi, dua-duanya mengalami kesulitan.  Yang di Padang over investasi. Yang di Kuta sudah enam bulan mengalami  slow-down. Yang di Padang itu bisa disebut over investasi karena?jumlah  kamarnya jauh lebih besar daripada pasarnya. Ini akan sangat sulit  mengembalikan investasinya. Sedangkan yang di Kuta ada persoalan desain  yang cukup serius.</p>
<p>Mengapa yang di Padang bisa terjadi over investasi” Ini tak lain  karena kultur BUMN yang belum bisa menghindar dari intervensi. Begitu  ada perintah untuk membangun hotel dengan skala yang sangat besar,  direksinya tidak mampu meyakinkan bahwa skala itu kebesaran. Terutama  dilihat dari kemampuan perusahaan. Permasalahan yang di Kuta lebih rumit  lagi karena ketambahan masalah birokrasi.</p>
<p>Dua proyek ini kemudian menjadi isu yang ruwet. Ujung-ujungnya,  direktur utama yang didatangkan dari luar BUMN itu tidak tahan lagi dan  mengundurkan diri. Dalam suasana ruwet seperti itu, tidak mungkin  perusahaan bisa maju. Bahkan, moral manajemen dan karyawannya pun bisa  rusak, down, dan lalu putus harapan.</p>
<p>Maka, dalam kesempatan tiga hari menghadiri KTT ASEAN di Bali pekan  lalu, saya manfaatkan waktu untuk manufacturing hope. Selama di Bali,  saya tidak tidur di hotel bintang lima di kompleks KTT berlangsung, tapi  memilih tidur di Inna Hotel Kuta yang katanya terjelek itu. Saya ingin  ikut merasakan kesulitan manajemen dan karyawan di hotel tersebut. Saya  ingin mendalami persoalan yang menghadang mereka. Pagi-pagi saya turun  naik di proyek setengah jadi itu.</p>
<p>Menjelang senja kembali turun naik lagi entah sampai berapa kali.  Saya ingin, kalau bisa, menerobos hambatannya. Setidaknya saya ingin  mereka tidak merasa sendirian dalam kesulitannya. Bahkan, pada malam  kedua, saya tidur di kamar mock-up di tengah-tengah proyek yang lagi  slow-down itu. Saya melakukan ini tidak lain untuk manufacturing hope.</p>
<p>Hasilnya, insya Allah, cukup baik. Pada hari kedua, semua persoalan  bisa teruraikan. Proyek hotel yang sangat grand ini bisa dan harus  berjalan kembali. Bahkan, tahun depan harus sudah jadi. Diputuskanlah  hari itu: sebuah hotel baru dengan nama baru (Grand Inna Kuta) akan  lahir dan menjadi sangat iconic. Apalagi, letaknya hanya di seberang  Hard Rock Hotel dengan posisi yang jauh lebih baik karena langsung punya  akses ke Pantai Kuta.</p>
<p>Pun, selesai upacara pembukaan KTT ASEAN (selesai melihat cantiknya  Perdana Menteri Thailand yang baru, Yingluck Sinawatra) saya copot jas,  ganti sepatu kets, dan langsung meninjau luar dalam Hotel Inna Putri  Bali. Lokasinya tidak jauh dari gedung megah untuk KTT ASEAN di Nusa Dua  itu.</p>
<p>Saya perhatikan mulai dapurnya, ruang cucinya, kamarnya, kebunnya,  pantainya, hingga cottage-cottage-nya. Ternyata benar. Bukan hanya telah  menjadi yang terjelek di Nusa Dua, tapi juga sudah mau ambruk. Di sini  saya juga harus manufacturing hope. Tahun depan hotel yang sangat luas  ini harus sudah mulai dibangun ulang.</p>
<p>Setelah membuat keputusan soal Nusa Dua, malam ketiga saya memilih  tidur di Sanur. Hotel seluas (duile!) 41 hektare ini juga perlu  dibangkitkan. Inilah hotel berbintang yang pertama di Bali. Inilah  warisan Bung Karno. Kondisinya sudah kalah dengan tetangga-tetangganya.  Hotel ini memiliki garis pantai matahari terbit sejauh 1 km! Alangkah  hebatnya. Mestinya.</p>
<p>Saya tentu menginginkan tahun depan hotel besar ini juga ikut  bangkit. Mengapa? Sebab, tiga-tiganya berada di Bali. Sebuah kawasan  wisata yang pertumbuhannya sangat tinggi. Memang Grup Inna Hotel masih  punya puluhan hotel lainnya di seluruh Indonesia (dan umumnya juga dalam  keadaan termehek-mehek), namun sebaiknya fokus dulu di tiga hotel ini.  Dari sinilah kelak hope akan ditularkan ke seluruh Indonesia.</p>
<p>Tiga hotel besar inilah yang lebih dulu akan menjadi titik tolak  kebangkitan entah berapa banyak hotel BUMN ke depan. Saya sebut “entah  berapa banyak” karena banyak BUMN yang kini juga memiliki hotel. Grup  Inna punya banyak hotel. Garuda Indonesia punya banyak hotel.</p>
<p>Pertamina punya banyak hotel. Kontraktor seperti Perusahaan Perumahan  punya banyak hotel. Bahkan, Jasa Marga, konon, juga sedang menyiapkan  banyak hotel. Karena itu, keberhasilan tiga pioner di Bali tadi akan  besar artinya bagi BUMN.</p>
<p>Memang sebulan pertama ini baru hope yang bisa dibangun. Tapi, kalau  sebuah hope bisa membuat hidup kita lebih bergairah, mengapa kita tidak  manufacturing hope. Bahan bakunya gampang didapat: niat baik, ikhlas,  kreativitas, tekad, dan totalitas. Semuanya bisa diperoleh secara  gratis!</p>
<p>Dahlan Iskan<br />
Menteri Negara BUMN</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ksupointer.com/langkah-pertama-manufacturing-hope/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pembukaan SEA Games dan Ayam Mati Itu</title>
		<link>http://ksupointer.com/pembukaan-sea-games-dan-ayam-mati-itu</link>
		<comments>http://ksupointer.com/pembukaan-sea-games-dan-ayam-mati-itu#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Apr 2012 01:57:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anida Etikawati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kutipan Internet]]></category>

		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ksupointer.com/?p=42600</guid>
		<description><![CDATA[Meski bukan lagi direktur utama PLN, saya masih berdebar-debar saat  menonton siaran langsung pesta pembukaan SEA Games kemarin malam.  Terutama setelah menyaksikan begitu gemerlapnya pesta pembukaan itu.
Begitu mandi cahayanya pembukaan itu. Begitu besar listrik yang  diperlukan untuk pembukaan itu. Begitu vitalnya pasokan listrik malam  itu. Betapa kacaunya bila listriknya bermasalah.
Sambil mengagumi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meski bukan lagi direktur utama PLN, saya masih berdebar-debar saat  menonton siaran langsung pesta pembukaan SEA Games kemarin malam.  Terutama setelah menyaksikan begitu gemerlapnya pesta pembukaan itu.</p>
<p>Begitu mandi cahayanya pembukaan itu. Begitu besar listrik yang  diperlukan untuk pembukaan itu. Begitu vitalnya pasokan listrik malam  itu. Betapa kacaunya bila listriknya bermasalah.</p>
<p>Sambil mengagumi pesta cahaya pembukaan itu, saya terus berdoa agar  tidak ada masalah dengan listriknya. Maklum, dua tahun lalu Palembang  adalah salah satu daerah yang paling berat krisis listriknya.</p>
<p>Provinsi Sumsel merupakan salah satu di antara lima provinsi yang  selalu diejek sebagai “ayam mati di lumbung”. Bagaimana bisa provinsi  yang begitu kaya dengan gas, minyak, dan batu bara mengalami krisis  listrik berkepanjangan.</p>
<p>Saya menonton siaran langsung itu di tempat yang jauh. Di Kota  Ruteng, pedalaman Flores. Sebuah kota di atas gunung dengan suhu udara  20 derajat Celsius yang sangat sejuk. Nonton bareng itu dilakukan di  ruang tamu Kantor Bupati Manggarai Tengah. Bupati, wakil bupati, ketua  DPRD, ketua pengadilan, Kapolres, Dandim, dan pejabat tinggi setempat  ikut nonton bareng.</p>
<p>Semuanya menyatakan kekaguman atas kemegahan acara pembukaan yang  dihadiri Presiden SBY itu. Mereka tidak menyangka bahwa pembukaan SEA  Games bisa semeriah dan segemerlap itu.</p>
<p>Yang membuat saya ikut kagum adalah ini: Pesta megah itu berlangsung  bukan di Jakarta. Bukan pula di Bandung atau Surabaya. Bukan di Makassar  atau Medan. Tapi, kemegahan itu terjadi di Palembang!”</p>
<p>Orang yang belum pernah ke Palembang mungkin memang mengira bahwa  Palembang hanya punya Jembatan Ampera. Atau hanya punya pempek. Tapi,  orang yang sering ke Palembang seperti saya bisa menjadi saksi betapa  pesatnya kemajuan kota itu. Sejak sepuluh tahun lalu pun, saya sudah  mengira bahwa Palembang akan menjadi kota terpenting di Sumatera.  Bahkan, akan bisa mengalahkan Medan. Kecuali, Sumut memiliki pemimpin  yang punya ambisi mempertahankan kebesaran Medan.</p>
<p>Sayang, gambaran seperti itu masih jauh dari harapan. Saya ikut  merasakan betapa sulitnya mengurus perizinan listrik di Sumut. Kalau  saya saja mengalami kesulitan, logikanya, alangkah sulitnya pihak-pihak  lain berusaha di sana.</p>
<p>Itu sangat kontras dengan yang terjadi di Sumsel. Gubernur-gubernur  Sumsel selama ini dikenal bekerja dengan penuh gairah untuk kemajuan  Sumsel. Apalagi, Alex Nurdin yang sekarang ini.</p>
<p>Pesta pembukaan SEA Games kemarin malam telah menimbulkan kepercayaan  diri yang besar di hati bangsa Indonesia. Ternyata, kita juga bisa.  Bahkan, pesta kemarin malam akan menggugah banyak pemimpin daerah untuk  bangkit bersama-sama. Kalau semua pimpinan daerah terjangkiti semangat  kemarin malam, alangkah majunya Indonesia secara keseluruhan. Bukan  hanya seperti gambaran selama ini, Indonesia hanya maju di Jakarta-nya.</p>
<p>Sumsel sendiri akan tercatat sebagai provinsi pertama di antara lima  provinsi “ayam mati di lumbung” yang bisa keluar dari ejekan memalukan  itu. Akhir tahun ini produksi listrik di Sumsel sudah melebihi keperluan  wilayah tersebut. Sumsel sudah bisa “mengekspor” listrik dalam jumlah  yang besar ke Lampung, Bengkulu, Jambi, dan Riau.</p>
<p>Pesta kemarin malam secara tidak langsung juga merupakan deklarasi  bahwa krisis listrik di Sumsel telah berakhir. Jangan gunakan lagi  ejekan “ayam mati di lumbung” untuk menghina Sumsel.</p>
<p>Zaman memang berputar. Pada zaman dulu Palembang memang menjadi kota  terbesar di seluruh Sumatera. Palembang yang dalam bahasa Mandarin lebih  dikenal dengan nama Jigang (berarti bandar yang sangat besar) lama-lama  mengalami kemunduran atau dikalahkan wilayah lain. Barangkali kini  giliran roda Palembang kembali berada di atas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ksupointer.com/pembukaan-sea-games-dan-ayam-mati-itu/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>CEO Note 13 Februari 2012: Bugar</title>
		<link>http://ksupointer.com/ceo-note-13-februari-2012-bugar</link>
		<comments>http://ksupointer.com/ceo-note-13-februari-2012-bugar#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Mar 2012 05:41:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anida Etikawati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kutipan Internet]]></category>

		<category><![CDATA[CEO Note]]></category>

		<category><![CDATA[Nur Pamudji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ksupointer.com/?p=42598</guid>
		<description><![CDATA[Saya terhenyak dan sedih setiap kali mendengar ada kolega yang masuk  ruang ICU gara-gara serangan jantung, stroke atau penyakit gawat  lainnya. Mungkin mereka akan pulih sepulang dari rumah sakit, tapi  kondisi kesehatannya tentu tidak lagi sama dengan kondisi sebelum sakit.  Peluang bagi manajemen untuk menugasi yang lebih menantang jadi semakin  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya terhenyak dan sedih setiap kali mendengar ada kolega yang masuk  ruang ICU gara-gara serangan jantung, stroke atau penyakit gawat  lainnya. Mungkin mereka akan pulih sepulang dari rumah sakit, tapi  kondisi kesehatannya tentu tidak lagi sama dengan kondisi sebelum sakit.  Peluang bagi manajemen untuk menugasi yang lebih menantang jadi semakin  kecil, kalau tidak malah lenyap sama sekali. Sebab itu saya sering  menyisipkan pesan untuk menjaga kebugaran tubuh di setiap kesempatan  berbicara di depan khalayak PLN.</p>
<p>Anda tidak perlu pergi ke dokter untuk tahu apakah tubuh anda bugar  atau tidak. Detak jantung per menit pada kondisi istirahat adalah  indikator kebugaran yang akurat. Detak jantung manusia dewasa pada  kondisi istirahat berkisar antara 60 detak per menit (dpm) sampai 90  dpm. Anda belum pernah mengukur detak jantung per menit? Jangan  khawatir, Anda tidak sendirian, sebagian besar pembaca Note ini juga  belum pernah melakukannya. Cara praktis mengukur detak jantung adalah  dengan cara menempelkan jari pada pergelangan tangan bagian dalam atau  bagian leher di belakang telinga, ukurlah selama 10 detik, lalu kalikan  dengan 6, Anda akan mendapatkan angka detak per menit. Makin dekat ke  60, makin bugar, makin dekat ke angka 90, makin tidak bugar. Nah, kalau  Anda belum tahu berapa detak jantung kondisi istirahat Anda, sekarang  lah saat yang tepat untuk melakukannya, karena saat ini adalah kondisi  istirahat. Pegang nadi Anda, dan perhatikan jam di layar komputer.  Berapa?</p>
<p>Selain detak dalam kondisi istirahat, ada pula detak dalam kondisi  berolahraga, yaitu kisaran 70% sampai 90% dari apa yang disebut detak  maksimum. Sedangkan detak maksimum dihitung dengan rumus yaitu (220 –  umur). Jadi kalau umur Anda 50, maka detak maksimum adalah 220-50 = 170  dpm. Maka pada saat olahraga, detak jantung anda harus berada di kisaran  70%x170=125 sampai 90%x170=150 (saya bulatkan), dan harus dipertahankan  terus berada di kisaran itu selama paling sedikit 45 menit, agar  olahraga yang kita lakukan bermanfaat pada tubuh.</p>
<p>Olahraga aerobik seperti jalan, jalan cepat, jogging, berenang,  bersepeda, pencak silat, taichi, chi kung, senam pernafasan, dan yang  sejenis, yang dilakukan secara terukur dan teratur dalam jangka panjang  akan menurunkan dpm kondisi istirahat. Terukur artinya pada setiap  latihan, detak jantung kita berada di kisaran detak kondisi olahraga  selama paling sedikit 45 menit. Teratur artinya takarannya cukup yaitu  lima kali seminggu pada hari-hari yang kita pilih, serta dilakukan  secara terus menerus dalam jangka panjang, mulai hari ini sampai kelak  kita berpulang ke rahmatullah. Kalau Anda rajin main tenis atau  bulutangkis seminggu sekali, jangan dulu merasa sudah bugar sebelum  pernah mengukur detak jantung per menit. Memang olahraga permainan  seperti voli, boling, dan sejenisnya baik untuk pergaulan sosial dan  pertemanan, tapi seringkali tidak cukup untuk menjaga kebugaran, masih  perlu ditambah dengan olahraga aerobik.</p>
<p>Saya mulai mengukur detak jantung sekitar 5 tahun lalu, saat mulai  berolahraga aerobik secara terukur dan teratur. Waktu itu, pada kondisi  istirahat, detak jantung sekitar 75an. Dengan berjalannya waktu, detak  istirahat semakin hari semakin berkurang, saat ini detak per menit sudah  mencapai 58, artinya bugar. Salah satu kenikmatan punya tubuh bugar  adalah tidak pernah kena penyakit batuk, pilek dan kepala pusing  (migren). Jadi kalau Anda sering batuk, pilek dan kepala pusing, ukurlah  detak jantung kondisi istirahat Anda, saya tebak, angkanya antara 75  sampai 80an dpm.</p>
<p>Kalau Anda mau keluar modal sedikit, ada alat ukur detak jantung dan  tekanan darah elektronik yang harganya 500-an ribu rupiah. Memang alat  ini tidak seakurat alat ukur tekanan darah pakai air raksa milik dokter,  tapi lumayanlah. Dengan memasang alat ini pada pergelangan tangan, saya  baru tahu bahwa tekanan darah sistole dan diastole turun pada saat  detak jantung kita berada di kondisi olahraga. Ketika detak mencapai 150  dpm, sistole/diastole turun dari kondisi normal 120/80 menjadi 70/40.  Ada pula alat ukur detak yang pakai kabel dengan sensor dipasang di  dada, cocok untuk pesepeda, bisa mengukur detak sambil terus nggowes.</p>
<p>Kalau Anda ingin memulai berolahraga secara terukur dan teratur,  saran saya, jangan melakukannya sendirian. Bergabunglah ke klub atau  buatlah klub. Empat bulan pertama biasanya membosankan. Adanya teman  dalam klub akan saling mengingatkan untuk terus berolahraga. Ketika  tubuh mulai terasa semakin bugar, biasanya Anda akan ketagihan untuk  terus berolahraga. Selain itu, usahakan ada instruktur, karena  instruktur akan mengatur waktu olahraga kita dan memaksa Anda untuk  berolahraga dengan cara yang benar dan terukur. Kadang sesama teman di  dalam klub membuat kita tidak berolahraga, malah ngobrol ngalor-ngidul,  nah, tugas instruktur untuk menegur. Instruktur juga akan mengukur  beberapa indikator kesehatan fisik Anda, lewat test lari 1 mil (1,69  km), push up, dan uji kelenturan tubuh. Lima tahun lalu, saya  ngos-ngosan kalau lari. Saat ini, catatan waktu terbaik lari 1 mil saya  adalah 7 menit 36 detik, masuk kategori excellent untuk seumur saya.  Sedangkan push up dan kelenturan tubuh cuma kategori normal, well, at  least not bad lah.</p>
<p>Olahraga teratur akan membuat darah kita mengandung banyak hormon  endorphin, yaitu zat seperti morphin yang diproduksi oleh tubuh kita  saat berolahraga, yang membuat diri kita menjadi senantiasa ceria.  Benarlah apa kata pepatah latin yang sejak kecil kita kenal, men sana in  corpore sano, pikiran yang sehat ada di tubuh yang bugar. Jadi selain  tubuh jadi sehat, olahraga teratur juga bikin pikiran jadi cerah, selalu  positif thinking, selalu bersemangat dalam bekerja. Kolega akan menilai  kita sebagai kawan yang koperatif, yang enak diajak bekerja sama. Kalau  Anda melihat ada kolega yang sering murung, sering berkeluh kesah,  senantiasa negatif thinking, gampang marah, tidak bersemangat dalam  bekerja, coba ukurlah berapa detak jantungnya per menit. Bisa dipastikan  bahwa corpore-nya nggak sano.</p>
<p>Setelah membaca Note ini, janganlah anda menuntut agar BKK setempat  membiayai klub olahraga aerobik, misalnya pencak silat Merpati Putih,  agar karyawan bisa berlatih dengan gratis, dan kalau klub itu tak  kunjung terbentuk, jadi alasan untuk tak kunjung memulai berolahraga  aerobik secara teratur dan terukur. Klub olahraga yang dibiayai kantor  umurnya tidak akan lama, sebulan sampai dua bulan pertama akan ramai,  mulai bulan ketiga persertanya semakin susut, dan akhirnya bubar. Lebih  baik bergabung dengan klub di luar kantor. Anda membayar iuran, dan  iuran itu akan jadi salah satu faktor pemaksa untuk terus datang ke  klub. Sekalian itu juga untuk memperluas pergaulan; masak bergaul hanya  dengan teman sekantor.</p>
<p>Syarat bagi karyawan PLN selain jujur, cakap dan bersemangat, kini bertambah satu: bugar.</p>
<p><strong>CEO PLN</strong></p>
<p><strong>Nur Pamudji</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ksupointer.com/ceo-note-13-februari-2012-bugar/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>CEO Note 8 Januari 2012: 2012</title>
		<link>http://ksupointer.com/ceo-note-8-januari-2012-2012</link>
		<comments>http://ksupointer.com/ceo-note-8-januari-2012-2012#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Mar 2012 01:39:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anida Etikawati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kutipan Internet]]></category>

		<category><![CDATA[CEO Note]]></category>

		<category><![CDATA[Nur Pamudji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ksupointer.com/?p=42596</guid>
		<description><![CDATA[2012 kita masuki bersama dengan optimis, berbekal apa yang telah kita  raih sampai 2011 dan potensi yang muncul di akhir 2011. PLN telah  berhasil melayani pelanggannya dengan lebih baik melalui 4 cara yaitu  mengeliminasi pemadaman bergilir yang dulu banyak terjadi di beberapa  daerah, melayani hampir seluruh daftar tunggu melalui Gerakan Sehari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>2012 kita masuki bersama dengan optimis, berbekal apa yang telah kita  raih sampai 2011 dan potensi yang muncul di akhir 2011. PLN telah  berhasil melayani pelanggannya dengan lebih baik melalui 4 cara yaitu  mengeliminasi pemadaman bergilir yang dulu banyak terjadi di beberapa  daerah, melayani hampir seluruh daftar tunggu melalui Gerakan Sehari  Sejuta Sambungan (GRASSS)-1 dan GRASSS-2, menurunkan dengan drastis  gangguan penyulang, serta menurunkan dengan drastis gangguan pelayanan  yang disebabkan oleh trafo-trafo TM/TR melalui penyediaan cadangan yang  cukup dan O&amp;M (<em>Operation and Maintenance</em>) yang lebih baik.</p>
<p>Para pelanggan PLN yang berjumlah 44 juta itu bisa membayar rekening  listrik melalui bank apapun, dari kota manapun. Pelanggan yang berumah  di Aceh misalnya, bisa membayar di Ruteng, Flores. Pelanggan di Jakarta  maupun di Wamena bisa dilayani dengan Listrik Pintar (semula disebut  listrik prabayar). Ini berkat aplikasi komputer bernama P2APST  (Pengelolaan dan Pengawasan Arus Pendapatan secara Terpusat) yang  dikembangkan sendiri oleh PT Icon+, anak perusahaan PLN. Selain itu,  program Call Center 123 mulai berdering di Sumatera menyusul Jawa-Bali,  dengan Aplikasi Pelayanan Pelanggan Terpusat (AP2T) buatan Icon+ sebagai  intinya.</p>
<p>Di sisi energi primer, pembangunan PLTU batubara mulai membuahkan  hasil, ditandai dengan peresmian PLTU Suralaya 8, Lontar dan Tanjungjati  B oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 28 Desember lalu. Gas yang  dikais-kais juga mulai mengucur, di Sei Gelam Jambi, di Jambi Merang  Sumsel (mengalir ke Muaratawar dan kelak ke kota Jambi, Duri dan  Rengat), dan sebentar lagi akan mengucur dalam jumlah besar di Jakarta  dan Gresik.</p>
<p>Berita bagus yang kita dapat di medio Desember 2011 adalah dinaikkannya peringkat Republik Indonesia ke aras <em>investment grade</em> oleh lembaga pemeringkat Fitch, dan seminggu kemudian diikuti oleh naiknya peringkat PT PLN (Persero) ke aras yang sama, <em>investment grade</em> juga. Aras peringkat ini terakhir dimiliki Indonesia pada 1997, 14  tahun yang lalu. Jadi negara ini sudah berhasil melalui tahun-tahun  pembenahan, ibarat menelusuri terowongan gelap sambil terus berjalan  menuju cahaya di ujung terowongan, dan kini sudah sampai di mulut  terowongan yang terang benderang tersebut. Alhasil, hanya ada satu  suasana hati untuk memasuki 2012, yaitu optimis dan penuh semangat.</p>
<p>Ekonomi Indonesia saat ini adalah peringkat ke 17 dunia dengan GDP  834 milyar US$, sebentar lagi akan tembus 1 triliun US$ melampaui  Belanda, dan akan terus naik hingga di penghujung dasawarsa ini menjadi  peringkat 10 dunia. Bisakah kita membayangkan, sebesar apa perusahaan  listrik di sebuah ekonomi peringkat 10 dunia? PLN akan menjadi  perusahaan energi raksasa di kawasan Asia. Pada 2012, pendapatan PLN 200  triliun rupiah, dengan tingkat rasio elektrifikasi 72%. Pada 2020,  diukur dengan nilai rupiah saat ini, pendapatan PLN akan mencapai 450  triliun rupiah, dengan tingkat rasio elektrifikasi 95%.</p>
<p>Cita-cita untuk menjadi perusahaan energi raksasa Asia di 2020 hanya  bisa dicapai bila kita mempersiapkannya sejak saat ini. Ciri perusahaan  raksasa kita kenali dengan melihat perusahaan-perusahaan raksasa yang  sudah ada, yaitu bahwa produk keluarannya berukuran raksasa, masukannya  pun raksasa juga. Lalu untuk mengolah masukan dalam jumlah raksasa  menjadi keluaran yang juga raksasa, pasti diperlukan proses bisnis yang  sangat bagus, dan pasti sarat dengan teknologi. Ciri penting lainnya,  interaksi antara perusahaan raksasa tersebut dengan para pemasoknya,  juga interaksi dengan para pelanggannya, serta interaksi antar unsur di  dalam perusahaan, dilandasi dengan nilai-nilai transparan, bersih,  akuntabel dan penuh kejujuran. Tanpa nilai-nilai mulia (<em>golden values</em>)  tersebut, perusahaan raksasa akan ambruk, seperti ambruknya raksasa  energi Enron di 2001 bersama auditor dan akuntannya, Arthur Andersen.  Oleh karena itu, cita -cita untuk menjadi perusahaan energi raksasa Asia  harus dimulai dari segi yang terpenting, yaitu manusia.</p>
<p>Pada kesempatan <em>coffee morning</em> di PLN Pusat 4 Januari lalu,  di Rapat Kerja PLN di Purwakarta 5-6 Jan, juga di acara perayaan Natal  bersama se-Jakarta 30 Desember 2011, saya sampaikan 3 nilai terpenting,  yaitu jujur, cakap (kompeten) dan bersemangat. Tiga nilai ini minimal,  tak bisa dikurangi lagi. Orang jujur dan cakap tapi tanpa semangat tidak  akan menghasilkan output. Manusia jujur dan bersemangat tapi tidak  cakap akan menghasilkan output yang salah atau buruk. Karyawan cakap dan  bersemangat tapi tidak jujur malah akan membahayakan diri sendiri dan  perusahaan. Tiga nilai ini boleh disempurnakan dengan nilai-nilai utama  yang lain, tapi tiga itulah yang minimal.</p>
<p>Jujur itu ya jujur, mengungkapkan hal yang benar dengan lengkap.  Jujur itu tidak mau menerima sesuatu yang bukan haknya. Dalam urusan  uang, jujur bagi anggota perusahaan adalah hanya menerima uang dari  perusahaan tempat bekerja, serta menolak menerima uang atau barang dari  pihak-pihak yang berurusan dengan perusahaan, apalagi dari sesama  anggota perusahaan, baik dari atasan, dari bawahan, maupun dari rekan  kerja. Jujur itu tidak menerima uang suap (<em>bribery</em>) dan tidak juga menyuap. Para petugas lapangan PLN sudah mencantumkan “<em>No Tip</em>”  di dadanya. Para petugas PLN kantoran harus tegas mengatakan “kami  tidak mau menerima hadiah” kepada tamunya, baik saat bertemu di kantor  maupun di luar kantor. Jujur termasuk ketika berurusan dengan data,  menyajikan data apa adanya, tidak diatur-atur supaya datanya bagus.  Dengan mengungkap data apa adanya, maka kita bisa dengan mudah dan benar  mengukur pencapaian kita, dan dengan mudah memperbaikinya ke arah yang  lebih baik dengan cara yang benar pada area yang benar.</p>
<p>Cakap atau kompeten adalah mampu melaksanakan tugas yang diembannya.  Kalau seseorang merasa belum cakap dalam bidang tugasnya, dia bisa  belajar dari rekan kerjanya, atau minta dilatih ke atasannya. Kalau  seorang atasan melihat ada anak buahnya yang belum cakap, maka ia wajib  melatih anak buahnya. Kecakapan itu pada dasarnya melekat pada setiap  anggota perusahaan, namun terlihat sebagai kecakapan kelompok manakala  telah dibakukan dan dibekukan dalam bentuk sistem and prosedur, dan  kemudian diwariskan dari generasi ke generasi. Kecakapan bisa berupa <em>soft skill</em> dan <em>hard skill</em>, sebagaimana diuraikan di Direktori Kompetensi PLN.</p>
<p>Bersemangat maksudnya berkeinginan kuat untuk menyelesaikan pekerjaan  dan membuahkan hasil, melalui ketekunan dalam menjalankan tugas. Bagi  sebagian orang, semangat bisa timbul dari rangsangan eksternal, seperti  iming-iming hadiah material, kenaikan pendapatan atau sekedar tepuk bahu  dibarengi pujian (<em>reward</em>), bahkan kadang perlu ada ancaman hukuman (<em>punishment</em>). Rangsangan eksternal ini sering digambarkan dalam bentuk ikatan wortel (<em>carrot</em>) yang digantung di depan keledai untuk merangsang keledai berlari mengejar wortel, dan tongkat pemukul (<em>stick</em>) yang siap dipukulkan ke kaki keledai manakala sang keledai enggan berlari. Munculah pasangan kata <em>reward and punishment</em> atau <em>stick and carrot</em>. Sebagian orang lagi sudah melewati, he he he, “fase keledai”, ia tidak butuh <em>stick and carrot</em>, ia sudah bisa membangunkan semangat dari internal dirinya, ia disebut <em>self-motivated person</em>. Ia manusia yang memiliki <em>self esteem</em>.  Ia tidak memerlukan iming-iming apapun, bahkan kadang ia melakukan  sesuatu kebaikan untuk perusahaan secara diam-diam, untuk menghidari  mendapat pujian dari orang lain. Ada proses spiritual pada dirinya  sehingga ia bermetamorfosa dari “fase keledai” (he he he, <em>sorry</em> untuk istilah guyonan ini) menjadi manusia <em>self-motivated</em>.</p>
<p>Dengan modal manusia-manusia PLN yang jujur, cakap dan bersemangat,  cita-cita menjadi perusahaan energi raksasa Asia akan tercapai melalui  penyempurnaan proses bisnis berkelanjutan, perbaikan interaksi internal  antar insan dan antar bagian perusahaan, maupun perbaikan Interaksi  dengan pemasok dan pelanggan.</p>
<p><strong>Nur Pamudji</strong></p>
<p><strong>CEO PLN</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ksupointer.com/ceo-note-8-januari-2012-2012/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>CEO Note 22 November 2011: Berkurang Satu Tetap Satu</title>
		<link>http://ksupointer.com/ceo-note-22-november-2011-berkurang-satu-tetap-satu</link>
		<comments>http://ksupointer.com/ceo-note-22-november-2011-berkurang-satu-tetap-satu#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Mar 2012 06:37:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anida Etikawati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kutipan Internet]]></category>

		<category><![CDATA[CEO Note]]></category>

		<category><![CDATA[Nur Pamudji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ksupointer.com/?p=42594</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, 22 November 2011
Seusai pelantikan Dirut PLN 1 November lalu, para wartawan gencar  menanyakan apa program kerja Dirut baru. Saya jelaskan bahwa komposisi  Direksi PLN praktis tidak berubah, hanya berkurang seorang dari semula  10 menjadi hanya 9 orang. Tim 10 yang kini jadi Tim 9 ini sudah  menyiapkan program kerja hingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta, 22 November 2011</p>
<p>Seusai pelantikan Dirut PLN 1 November lalu, para wartawan gencar  menanyakan apa program kerja Dirut baru. Saya jelaskan bahwa komposisi  Direksi PLN praktis tidak berubah, hanya berkurang seorang dari semula  10 menjadi hanya 9 orang. Tim 10 yang kini jadi Tim 9 ini sudah  menyiapkan program kerja hingga 2014 sejak 2 tahun lalu. PLN ibarat  sebuah kapal dagang yang harus berganti nakhoda di tengah pelayarannya.  Nakhoda yang lama berpindah posisi menjadi pemimpin armada dagang, dan  kemudian salah satu dari 9 asisten nakhoda ditunjuk menjadi nakhoda yang  baru. Tim yang meneruskan pelayaran kapal PLN adalah tim yang sama yang  telah melayarkan PLN sejak Desember 2009 minus Dahlan Iskan. Peralihan  nakhoda berlangsung tanpa perlu mengurangi laju pelayaran kapal.</p>
<p>Memang ada sedikit perubahan di salah satu fokus, yaitu dibentuknya  Direktorat Konstruksi yang menggabungkan 3 Divisi Konstruksi yang semula  ada di 3 Direktorat Operasi. Tujuannya agar fungsi konstruksi yang  selama ini sudah berjalan baik diharapkan menjadi semakin kencang. Perlu  jalan kencang karena kecukupan tambahan pasokan listrik di masa  mendatang ditentukan oleh keberhasilan kita menyelesaikan proyek-proyek  pembangkit, transmisi, gardu induk dan jaringan distribusi. Perubahan  lainnya adalah digabungkannya Divisi Batubara, Divisi Gas dan BBM ke  dalam Direktorat Pengadaan Strategis serta penggabungan fungsi  Perencanaan dengan Manajemen Risiko.</p>
<p>Program perbaikan pelayanan yang selama ini telah menggelinding akan  terus digelindingkan. Pelanggan dibuat semakin mudah mendapat pelayanan,  baik pasang baru maupun tambah daya atau untuk mengadukan problem yang  dihadapinya. Call center 123 diperkuat dengan teknologi informasi yang  lebih baik, awak yang lebih banyak sehingga bisa menjadi sarana yang  bisa diandalkan dan dipercaya pelanggan. Pasang baru, tambah daya dan  sambungan sementara kini bisa dilayani lewat website, tidak hanya lewat  Call center 123, namun fasilitas ini untuk sementara baru disediakan  untuk kawasan Jawa-Bali. Wilayah Indonesia lainnya akan menyusul dalam  tahun ini. Yang masih harus disempurnakan adalah layanan SMS 8123.  Nampaknya ID-Pelanggan wajib dicantumkan di bagian awal pesan yang  dikirim agar mesin penerima SMS bisa meneruskan pesan tersebut ke unit  layanan PLN yang tepat, baik langsung atau lewat sistem Call Center 123.  Tapi tidak semua pelanggan tahu nomor IDnya. Suatu Minggu pagi seorang  pelanggan kirim SMS melaporkan listrik di rumahnya mati sejak jam 23  semalam. Ketika diminta no ID-Pelanggan, dia bingung karena selama ini  bayar listrik via potong langsung tabungan bank sehingga tak pernah  lihat rekening listrik.</p>
<p>Palembang dan Flores menjadi tujuan kunjungan Dirut baru. Palembang  tengah bersiap-siap melayani penghelatan internasional Sea Games ke-26.  Baik Sektor Kramasan, UPB Sumbagsel maupun APJ Palembang sudah sangat  siap menjaga keandalan pasokan listrik ke semua venue, dan memang telah  dipersiapkan dengan baik sejak 2 tahun sebelumnya oleh Direktorat  Operasi Indonesia Barat. Permainan lampu di upacara pembukaan menjadi  bukti hasil kerja keras rekan-rekan di PLN Sumatera Bagian Selatan.  Insya Allah listrik tetap aman sampai akhir acara Sea Games, baik di  Palembang, di Jakarta maupun di Jawa Barat.</p>
<p>Saya menyaksikan lompatan teknologi pelayanan pelanggan ketika  menyusuri pulau Flores dari kota Ruteng, Ende sampai ke Maumere. Di  sebuah kota kecamatan, saya berhenti di sebuah kios layanan pembayaran  rekening listrik. Saya beli stroom untuk rumah yang saya tinggali di  Depok, Jawa-Barat. Setelah nomor meter-kWh diketikkan, data itu melesat  lewat jaringan Telkomsel, empat detik kemudian nama saya muncul di layar  komputer, dan struk stroom pun tercetak. Betapa teknologi informasi,  jaringan bank dan jaringan telepon seluler telah merevolusi cara kerja  PLN, terutama dalam mengamankan pembayaran rekening pelanggan.</p>
<p>Tapi di Flores saya juga menyaksikan dua instansi pemerintah yang  sama-sama melaksanakan tugasnya, malah tidak menghasilkan pelayanan ke  rakyat. PLN Ende bermaksud memperluas jaringan sepanjang 4 kilometer  menyusuri jalan propinsi untuk menyalurkan listrik dari PLTP Mataloko ke  kota kecamatan Aimere (5000 rumah). Kepala Konservasi Sumberdaya Alam  setempat (di bawah Kementerian Kehutanan) <em>keukeuh</em> melarang  kontraktor PLN menanam tiang distribusi di sepanjang jalan itu karena  area itu berada di kawasan hutan konservasi. Lantas bagaimana caranya  melistriki kota-kota kecamatan dan desa di NTT yang memang tersekat satu  sama lain oleh hutan konservasi? Gubernur NTT Frans Leburaya  geleng-geleng kepala mendengar cerita itu, namun berjanji untuk  membereskannya.</p>
<p>Di Ruteng, Ende dan Maumere saya bertemu dengan para karyawan dan  karyawati PLN dengan wajah-wajah ceria dan bersemangat. Saya yakin,  mereka benar-benar tanpa keluh kesah bukan karena takut berkeluh-kesah  lantaran atasannya ikut hadir di ruangan itu. Tapi memang tak ada hal  yang perlu dikeluhkan baik saat tatap muka maupun lewat SMS, email dan  facebook sekembali saya ke Jakarta. Yang ada hanya ungkapan gembira.  Pulau Flores yang subur penuh hutan dan bergunung-gunung, dihiasi  gemericik sungai kecil yang terjun dari bukit ke ngarai dan sawah hijau  subur bersusun-susun, serta jalan yang beraspal mulus dan berkelok-kelok  indah, memang hanya patut dihuni oleh orang yang selalu gembira. Bila  Grup Penyanyi Bimbo melantunkan “ketika Tuhan tersenyum, lahirlah  Priangan”, Flores nampaknya tercipta ketika Tuhan tertawa.</p>
<p>Nur Pamudji</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ksupointer.com/ceo-note-22-november-2011-berkurang-satu-tetap-satu/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

