<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>KSU Pointer</title>
	<atom:link href="http://ksupointer.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ksupointer.com</link>
	<description>Melayani Sebaik Mungkin</description>
	<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 05:34:06 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>CEO Note 21 Juni 2011: Harapan Baru Pada Listrik Sehen</title>
		<link>http://ksupointer.com/ceo-note-21-juni-2011-harapan-baru-pada-listrik-sehen</link>
		<comments>http://ksupointer.com/ceo-note-21-juni-2011-harapan-baru-pada-listrik-sehen#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 05:34:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anida Etikawati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kutipan Internet]]></category>

		<category><![CDATA[CEO Note]]></category>

		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ksupointer.com/?p=42434</guid>
		<description><![CDATA[Inilah perjalanan jauh untuk melihat 100 rumah yang menggunakan lampu  Sehen (super ekstra hemat energi). Ini adalah listrik tenaga matahari  model baru untuk sistem kelistrikan kepulauan. Desa itu terpencil nun di  ujung barat-daya pulau Sumba, NTT.
Sudah lima bulan penduduk menggunakan lampu Sehen. Sampai saya ke  sana pekan lalu tidak ada keluhan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Inilah perjalanan jauh untuk melihat 100 rumah yang menggunakan lampu  Sehen (super ekstra hemat energi). Ini adalah listrik tenaga matahari  model baru untuk sistem kelistrikan kepulauan. Desa itu terpencil nun di  ujung barat-daya pulau Sumba, NTT.</p>
<p>Sudah lima bulan penduduk menggunakan lampu Sehen. Sampai saya ke  sana pekan lalu tidak ada keluhan, tidak ada lampu yang mati dan tidak  ada instalasi yang rusak. Ini mengisyaratkan bahwa target ambisius  setahun menaikkan ratio elektrifikasi di NTT dari 31% menjadi 70% pun  bisa dicapai.</p>
<p>Setahun ini sudah tiga kali saya ke NTT. Banyaknya orang yang  mengatakan “mustahil elektrifikasi NTT bisa mencapai 70% akhir tahun  ini” membuat saya  sering ke sana. Apalagi saya juga terikat sumpah  harus mewujudkan proyek listrik panas bumi (geothermal) Ulumbu (Ruteng)  yang lama sekali macet itu.</p>
<p>Perjalanan panjang kali ini saya mulai dari Kupang. Dari bandara,  malam itu,  langsung ke proyek PLTU Kupang yang lama tersendat. Saya  kaget Gubernur dan Wakil Gubernur menyambut di bandara. Pasangan kepala  daerah yang sangat rukun ini (di banyak daerah terjadi “perang dingin”)  memang sangat merindukan listrik NTT maju.</p>
<p>Pagi-pagi kami sudah terbang ke kecamatan Kangae, Sikka, Flores.  Inilah kecamatan pertama di Indonesia yang seluruh pelanggan listriknya  menggunakan sistem pra-bayar. Karena itu mendapatkan rekor MURI.  Sampai-sampai Wakil Bupati Sikka, dr Wera Damianus, iri. “Kampung  kelahiran saya sendiri sampai hari ini belum berlistrik,” katanya.</p>
<p>Dia bercerita betapa menderitanya penduduk pulau Palue, tempat  kelahirannya itu. Bukan hanya tidak ada listrik tapi juga tidak ada  sumber air. Sudah dicoba dibor tidak pernah berhasil. Penduduk  sepenuhnya bersandar ke air hujan. Padahal di sana lebih sering kemarau.  Untuk itu tiap rumah harus punya paling tidak tiga pohon pisang. Dari  pokok pohon pisang yang dilubangi itulah air untuk minum dan masak  didapat. Pisang pun menjadi simbul kehidupan di Palue. “Kalau ada  perjaka yang minta kawin biasanya ditanya: memangnya sudah mampu menanam  berapa pohon pisang?,” tuturnya.</p>
<p>Setelah mendengar itu saya bertekad pulau Palue harus berlistrik akhir tahun ini.</p>
<p>Dari Kangae saya langsung ke Sumba, sebuah pulau yang besarnya tiga  kali Bali tapi penduduknya amat jarang. Lebih banyak jumlah kudanya.</p>
<p>Mendarat di kota Waingapu kami langsung menelusuri jalan darat menuju  Waitabula/Tambolaka di pantai barat Sumba. Perjalanan itu sebenarnya  bisa ditempuh enam jam. Namun kami harus membelok dulu memasuki padang  savanna yang luas di tengah pulau. Saya ingin tahu lokasi pembangkit  listrik tenaga air yang segera dibangun.</p>
<p>Pencarian lokasi itu ternyata tidak mudah. Kami sempat tersesat. Di  padang savanna ini tanda untuk sebuah lokasi hanyalah bukit dan rumput.  Padahal bentuk bukit dan jenis rumputnya mirip semua. Padahal entah  berapa bukit yang harus dilampaui. Sesekali memang terlihat penunggang  kuda Sandel yang kepalanya timbul tenggelam di sela-sela rumput di  kejauhan, namun karena kudanya terus berlari  tidak bisa juga dipakai  patokan arah. Begitu lamanya mencari jalan memutar ini sehingga ketika  senja tiba kami masih di savanna.</p>
<p>Diam-diam saya mensyukuri ketersesatan ini. Bisa menikmati senja yang  menakjubkan. Sejauh mata memandang hanya ada savanna. Tidak terlihat  satu pun kampung atau bangunan. Berada di tengah-tengah savanna ini saya  merasa seperti berada di pedalaman Irlandia. Sama sekali tidak  menyangka ini di pedalaman Sumba! Apalagi udaranya sekitar 18 derajat  celsius! Alangkah sejuknya! Keindahan itu meningkat menjadi ketakjuban  manakala dari kaki langit yang cerah itu menyembul bulan yang kebetulan  lagi purnama. Begitu menornya. Seperti wajah Malinda di pentas peragaan  kebaya! Uh! Tersesat yang menyenangkan. Tidak menyangka sore itu saya  bisa menikmati alam seasli-aslinya. Savanna yang seperti penuh misteri.  Goyangan rumputnya. Bayangan bukitnya. Temaram cahaya purnamanya.  Menyatu di keluasan cakrawala bumi manusia yang langka!</p>
<p>Ada yang membuat saya lebih bersyukur. Saya baru terhindar dari  cidera. Setengah jam sebelum memasuki savanna ini mobil yang saya  kemudikan menabrak mobil di depan. Ringsek. Harus diderek kembali ke  Waingapu. Sebenarnya saya sudah mencoba mengerem sekuat tenaga. Tapi  kecepatan mobil berbanding jaraknya tidak memadai lagi. Aspalnya pun  dilapisi debu tebal dari bukit kapur yang sedang dibongkar di tebing  jalan. Kapur itulah yang membuat ban tidak bisa mencengkram aspal dengan  sempurna. Saya juga tidak mungkin membanting mobil ke kiri karena akan  menabrak tebing.</p>
<p>Saya menyadari kesalahan saya. Saya tidak tarik rem tangan. Reflek  itu tidak muncul. Mungkin sudah lelah karena sudah hampir dua jam  mengemudi. Mobil di depan saya itu terhenti mendadak karena menabrak  truk dari arah depan. Dua mobil ringsek.</p>
<p>Jam 22.00 kami baru tiba di kota kecil Waikabubak, Sumba Barat. Namun  tidak bisa segera istirahat. Hotel sederhana di situ lagi penuh. Harus  mencari kota kecil berikutnya yang jaraknya sekitar satu jam. Sekalian  mencapai tujuan akhir perjalanan malam itu: Tambulaka.</p>
<p>Bagi yang merasa baru sekali ini mendengar nama Tambulaka, baiknya  ingat peristiwa Adam Air. Pesawat dengan lebih 200 penumpang yang  tersesat dan kehilangan arah itu akhirnya bisa mendarat di suatu daerah  terpencil. Ya Tambulaka inilah yang dimaksud. Waktu itu sang pilot  sebenarnya hanya ingin mendarat darurat di pantai pasir putih yang  panjang –entah di pulau apa. Tapi begitu mendekati pantai terlihatlah  ada bandara kecil. Itulah bandara Tambulaka.</p>
<p>Salah satu desa pengguna lampu Sehen yang lagi kami promosikan berada  10 km dari bandara ini. Nama Sehen diciptakan oleh PLN karena sistem  ini memang belum ada namanya. Sehenlah yang mengakhiri riwayat hidup  lampu petromaks di desa itu. Dan kelak di seluruh Sumba bahkan di banyak  pulau Indonesia.</p>
<p>Dengan lampu Sehen masing-masing rumah seperti memiliki pembangkit  listriknya sendiri-sendiri, memiliki trafonya sendiri-sendiri dan  memiliki jaringan kabelnya sendiri-sendiri. Dengan Sehen tidak ada lagi  lampu mati karena trafo meledak, karena kabel penyulang terganggu atau  karena tiang listrik roboh. Dengan lampu Sehen juga tidak ada pencurian  listrik, tidak ada pembaca meter dan tidak ada tagihan yang salah.</p>
<p>Dengan lampu Sehen desa Karuni langsung berubah. Desa asli dengan  budaya Sumba yang unik itu tidak lagi gelap gulita. Rumah-rumahnya tetap  rumah panggung dengan dinding kayu dan atap daun rumbia, tapi ada  peralatan modern di atas atapnya. Sebuah panel kecil yang kalau siang  menyerap tenaga matahari. Tidak perlu baterai khusus karena alat  penyimpan listriknya sudah ada di dalam bola lampu itu sendiri.</p>
<p>Setiap rumah mendapat jatah tiga bola lampu. Masing-masing 220 lumen.  Istilah “lumen” ini harus mulai dihafal karena untuk tenaga surya tidak  menggunakan satuan watt. Tingkat terang 220 lumen hampir setara dengan  40 watt. Terang sekali.</p>
<p>Tiap-tiap bola lampu dilengkapi benang penarik untuk on/off. Benang  tarik itu juga berfungsi untuk mengubah lumen. Mereka menyalakan lampu  itu mulai pukul 17.00 dengan menarik benang sekali tarikan. Pada jam  23.00 atau menjelang tidur mereka menarik benang sekali atau dua kali  lagi untuk mengurangi terangnya cahaya sekaligus menghemat strumnya.</p>
<p>Yang membuat penduduk senang-senang-geli, bola lampu itu bisa dipetik  dari tempatnya untuk dibawa ke mana-mana dalam keadaan menyala. Di  sinilah serunya. Setiap ada perhelatan di desa itu tidak perlu lagi  menyewa genset seperti dulu. Cukuplah masing-masing undangan membawa  lampunya sendiri-sendiri untuk kemudian dicantelkan di mana saja di  lokasi perhelatan. Kalau ada 50 undangan yang datang dan masing-masing  membawa satu Sehen, terangnya bukan main.</p>
<p>Sudah lima bulan Lampu Sehen berfungsi dengan baik. Menyenangkan. Ini  tidak akan sama dengan proyek yang pernah dikembangkan di beberapa  kementerian yang kemudian menimbulkan perkara korupsi itu. Lampu Sehen  itu tetap milik PLN, diurus oleh orang PLN, dirawat oleh PLN dan ditagih  oleh PLN. Tidak akan terjadi penduduk bisa menjual Lampu Sehennya.</p>
<p>Masih ada plus yang lain. Di setiap “desa Sehen” PLN memberikan satu  set tv berbasis tenaga surya 21 inch. Berikut parabolanya. TV itu  diletakkan di plaza, eh gubuk terbuka di depan rumah pak RT. Malam itu  teman-teman PLN sempat nonton TV bersama penduduk yang ternyata sangat  menyenangi sinetron. Mereka juga ketagihan film India. Maklum meski di  desa yang begitu jauh mereka bisa menonton 28 channel dengan kualitas  gambar yang sempurna.</p>
<p>Hanya saja menonton sinetron atau film India sebenarnya terserah  selera Pak RT karena Pak RT-lah yang memegang remote controlnya.</p>
<p>Dahlan Iskan</p>
<p>CEO PLN</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ksupointer.com/ceo-note-21-juni-2011-harapan-baru-pada-listrik-sehen/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Inipun Akan Berlalu</title>
		<link>http://ksupointer.com/inipun-akan-berlalu</link>
		<comments>http://ksupointer.com/inipun-akan-berlalu#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 04:57:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nurhayati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kutipan Internet]]></category>

		<category><![CDATA[Pandangan Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ksupointer.com/?p=42488</guid>
		<description><![CDATA[Seorang petani kaya mati meninggalkan kedua putranya. Sepeninggal ayahnya, kedua putra ini hidup bersama dalam satu rumah. Sampai suatu hari mereka bertengkar dan memutuskan untuk berpisah dan membagi dua harta warisan ayahnya. Setelah harta terbagi, masih tertingal satu kotak yang selama ini disembunyikan oleh ayah mereka.
Mereka membuka kotak itu dan menemukan dua buah cincin di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/02/cincin-emas.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-42489" src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/02/cincin-emas.jpg" alt="cincin-emas" width="108" height="108" /></a>Seorang petani kaya mati meninggalkan kedua putranya. Sepeninggal ayahnya, kedua putra ini hidup bersama dalam satu rumah. Sampai suatu hari mereka bertengkar dan memutuskan untuk berpisah dan membagi dua harta warisan ayahnya. Setelah harta terbagi, masih tertingal satu kotak yang selama ini disembunyikan oleh ayah mereka.</p>
<p>Mereka membuka kotak itu dan menemukan dua buah cincin di dalamnya, yang satu terbuat dari emas bertahtakan berlian dan yang satu terbuat dari perunggu murah. Melihat cincin berlian itu, timbullah keserakahan sang kakak, dia menjelaskan, &#8220;Kurasa cincin ini bukan milik ayah, namun warisan turun-temurun dari nenek moyang kita. Oleh karena itu, kita harus menjaganya untuk anak-cucu kita. Sebagai saudara tua, aku akan menyimpan yang emas dan kamu simpan yang perunggu.&#8221;</p>
<p>Sang adik tersenyum dan berkata, &#8220;Baiklah, ambil saja yang emas, aku ambil yang perunggu.&#8221; Keduanya mengenakan cincin tersebut di jari masing-masing dan berpisah. Sang adik merenung, &#8220;Tidak aneh kalau ayah menyimpan cincin berlian yang mahal itu, tetapi kenapa ayah menyimpan cincin perunggu murahan ini?&#8221; Dia mencermati cincinnya dan menemukan sebuah kalimat terukir di cincin itu: Ini Pun Akan Berlalu. &#8220;Oh, rupanya ini mantra ayah&#8230;,&#8221; gumamnya sembari kembali mengenakan cincin tersebut.</p>
<p>Kakak-beradik tersebut mengalami jatuh-bangunnya kehidupan. Ketika panen berhasil, sang kakak berpesta-pora, bermabuk-mabukan, lupa daratan. Ketika panen gagal, dia menderita tekanan batin, tekanan darah tinggi, hutang sana-sini. Demikian terjadi dari waktu ke waktu, sampai akhirnya dia kehilangan keseimbangan batinnya, sulit tidur, dan mulai memakai obat-obatan penenang. Akhirnya dia terpaksa menjual cincin berliannya untuk membeli obat-obatan yang membuatnya ketagihan.</p>
<p>Sementara itu, ketika panen berhasil sang adik mensyukurinya, tetapi dia teringatkan oleh cincinnya: Ini Pun Akan Berlalu. Jadi dia pun tidak menjadi sombong dan lupa daratan. Ketika panen gagal, dia juga ingat bahwa: Ini Pun Akan Berlalu, jadi ia pun tidak larut dalam kesedihan. Hidupnya tetap saja naik-turun, kadang berhasil, kadang gagal dalam segala hal, namun dia tahu bahwa tiada yang kekal adanya. Semua yang datang, hanya akan berlalu. Dia tidak pernah kehilangan keseimbangan batinnya, dia hidup tenteram, hidup seimbang, hidup bahagia.</p>
<p>Sumber: http://indonesia.heartnsouls.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ksupointer.com/inipun-akan-berlalu/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Candi Badut</title>
		<link>http://ksupointer.com/candi-badut</link>
		<comments>http://ksupointer.com/candi-badut#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 05:41:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herawati Sikumbang</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Buatan Pointer]]></category>

		<category><![CDATA[Jelajah Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ksupointer.com/?p=42469</guid>
		<description><![CDATA[Candi Badut terletak tidak jauh dari pusat Kota Malang. Letaknya berada di kawasan Tidar. Candi ini konon adalah candi tertua di Jawa Timur. Hal ini  diselaraskan dengan Prasasti Dinoyo yang berangka tahun 682 Saka atau  760 M. Waktu ditemukan oleh E.W. Mauren Brechter di tahun 1921, kondisi  Candi Badut telah rusak, ditumbuhi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Candi Badut terletak tidak jauh dari pusat Kota Malang. Letaknya berada di kawasan Tidar. Candi ini konon adalah candi tertua di Jawa Timur. Hal ini  diselaraskan dengan Prasasti Dinoyo yang berangka tahun 682 Saka atau  760 M. Waktu ditemukan oleh E.W. Mauren Brechter di tahun 1921, kondisi  Candi Badut telah rusak, ditumbuhi pepohanan dan tertutup tanah. Empat  tahun kemudian dilakukan pemugaran selama setahun yang dipimpin oleh De  Hoan. Selanjutnya, dengan Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan  Purbakala Jawa Timur, Candi Badut sempat dipugar kembali sebanyak dua  kali di awal tahun 90-an.</p>
<p><div id="attachment_42475" class="wp-caption aligncenter" style="width: 483px"><a rel="attachment wp-att-42475" href="http://ksupointer.com/candi-badut/candi-badut"><img class="size-full wp-image-42475" src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/02/candi-badut.jpg" alt="candi-badut" width="473" height="630" /></a><p class="wp-caption-text">Candi Badut</p></div></p>
<p style="text-align: center;">
<p>Candi Badut dan Prasati Dinoyo adalah peninggalan Kerajaan Kanjuruhan  yang untuk pertama kalinya memunculkan Jawa Timur dalam sejarah di abad   ke-8. Raja yang terkenal dari Kerajaan Kanjuruhan adalah Gajayana.  Namanya saat ini dipakai sebagai nama stadion yang berdiri di tengah  Kota Malang. Kemungkinan Kerajaan Kanjuruhan di kemudian hari bergabung  dengan kerajaan yang lebih besar yaitu Kerajaan Mataram dengan otonomi  tersendiri.</p>
<p>Candi Badut yang menghadap ke arah barat ini berada pada posisi latitude  -7.960 dan garis bujur 112.5967 dengan ketinggian 508 di atas permukaan  laut. Secara administratif terletak di Dukuh Badut, Desa Karangbesuki,  Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Pemandangan yang disaksikan dari candi  ini sangat indah karena posisinya yang berada di kaki Gunung Kawi dan di  kelilingi beberapa gunung, antara lain: di Utara ada Gunung Tengger, di  Timur ada Gunung Semeru, dan Barat ada Gunung Arjuna.</p>
<p>Jangan membayangkan Candi Badut ini sebesar Candi Prambanan atau bahkan  Candi Borobudur. Candi ini hanya menempati areal tanah seluas 2.808 m<sup>2</sup>.  Tinggi candi sekitar 8 meter, sayangnya bagian atapnya sudah rusak.  Berdasarkan rekonstruksi yang dimuat dalam OV (Oudidkundrge Verstag)  1929 bentuk atap candi bertingkat dua serupa tubuh candi yang semakin  mengecil ke atas.</p>
<p>Bagian depan terdapat tangga naik ke bilik candi. Sebelum masuk ke bilik  terdapat Selosan Pradaksinapatha (tempat mengelilingi candi mulai dari  arah kiri ke kanan). Pintu bilik berhias Kala-Makara (kepala Kala dengan  mulut menganga tanpa rahang bawah terletak di atas pintu, terhubung  dengan Makara ganda di masing-masing sisi pintu) yang merupakan gaya  seni bangunan Jawa Tengah. Pada ketiga sisi bangunan terdapat  relung-relung, di sisi Utara berisi arca Durga, di sisi selatan berisi  Arca Agastya, dan sisi Timur seharusnya ada arca Ganesha, tetapi sudah  tidak ada. Di dalam bilik terdapat Lingga dan Yoni. Lingga merupakan  lambang Agastya yang selalu digambarkan seperti Siwa. Dengan demikian,  ciri-ciri ini menunjukkan jika Candi Badut adalah candi Umat Hindu.</p>
<p>Kata &#8216;Badut&#8217; bukan berarti seperti kata badut yang kita pakai sekarang  ini. Kata ini berasal dari Bahasa Sansekerta: &#8216;Bha&#8217; dan &#8216;Dyut&#8217; yang  artinya Sorot Agastya. Sesuai dengan Lingga dan Yoni yang berada dalam  candi.</p>
<p><div id="attachment_42477" class="wp-caption aligncenter" style="width: 532px"><a rel="attachment wp-att-42477" href="http://ksupointer.com/candi-badut/lingga-yoni"><img class="size-full wp-image-42477" src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/02/lingga-yoni.jpg" alt="lingga-yoni" width="522" height="392" /></a><p class="wp-caption-text">Lingga dan Yoni</p></div></p>
<p style="text-align: center;">
<p>Bangunan candi yang sudah sangat tua ini, terbuat dari batuan andesit.  Dulunya candi ini dikelilingi pagar tembok, tetapi sekarang tinggal  sisa-sisa pondasinya yang disusun rapi di depan areal Candi Badut. Di  bagian depan depan candi dulunya juga ada tiga bekas alas kecil,  kemungkinan alas Candi Perwara. Candi Perwara adalah candi kecil yang  mengitari candi induk. Sekarang yang diperlihatkan alasnya tinggal satu,  yang duanya sudah ditutup kembali.</p>
<p><div id="attachment_42474" class="wp-caption aligncenter" style="width: 508px"><a rel="attachment wp-att-42474" href="http://ksupointer.com/candi-badut/batu-pondasi"><img class="size-full wp-image-42474" src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/02/batu-pondasi.jpg" alt="batu-pondasi" width="498" height="374" /></a><p class="wp-caption-text">Batu-batu Pondasi dan Alas Candi Perwara</p></div></p>
<p style="text-align: center;">
<p><div id="attachment_42473" class="wp-caption aligncenter" style="width: 548px"><a rel="attachment wp-att-42473" href="http://ksupointer.com/candi-badut/alas-candi"><img class="size-full wp-image-42473" src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/02/alas-candi.jpg" alt="alas-candi" width="538" height="402" /></a><p class="wp-caption-text">Alas Candi Perwara</p></div></p>
<p style="text-align: center;">
<p>Kondisi Candi Badut cukup terawat, halamannya rapi dan bersih. Sewaktu  saya mengunjungi candi ini, petugas di sana sedang gotong-royong  menyelesaikan beberapa pekerjaan. Namun tak dapat dipungkiri, jika masih  banyak tangan-tangan jahil yang meninggalkan jejak di sekitar candi.  Mungkin masih banyak yang kurang peduli untuk menjaga cagar budaya  bangsa. Cagar budaya warisan nenek moyang kita sendiri, yang dulu  menggoreskan sejarah kebanggaan kita.</p>
<p><div id="attachment_42478" class="wp-caption aligncenter" style="width: 588px"><a rel="attachment wp-att-42478" href="http://ksupointer.com/candi-badut/lokasi"><img class="size-full wp-image-42478" src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/02/lokasi.jpg" alt="lokasi" width="578" height="434" /></a><p class="wp-caption-text">Lokasi yang Berada di Kaki Gunung Kawi</p></div></p>
<p><div id="attachment_42479" class="wp-caption aligncenter" style="width: 340px"><a rel="attachment wp-att-42479" href="http://ksupointer.com/candi-badut/relief"><img class="size-full wp-image-42479" src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/02/relief.jpg" alt="relief" width="330" height="441" /></a><p class="wp-caption-text">Relief Dinding Candi Badut</p></div></p>
<p><div id="attachment_42472" class="wp-caption aligncenter" style="width: 547px"><a rel="attachment wp-att-42472" href="http://ksupointer.com/candi-badut/samping"><img class="size-full wp-image-42472" src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/02/samping.jpg" alt="samping" width="537" height="403" /></a><p class="wp-caption-text">Sisi Samping Candi yang Berisi Arca</p></div></p>
<p><div id="attachment_42476" class="wp-caption aligncenter" style="width: 600px"><a rel="attachment wp-att-42476" href="http://ksupointer.com/candi-badut/depan-2"><img class="size-full wp-image-42476" src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/02/depan.jpg" alt="depan" width="590" height="442" /></a><p class="wp-caption-text">Candi Badut </p></div></p>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ksupointer.com/candi-badut/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Berjalan dengan Keong</title>
		<link>http://ksupointer.com/berjalan-dengan-keong</link>
		<comments>http://ksupointer.com/berjalan-dengan-keong#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 02:21:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lusia Sumarmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kutipan Internet]]></category>

		<category><![CDATA[Pandangan Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ksupointer.com/?p=42465</guid>
		<description><![CDATA[Tuhan memberiku sebuah tugas, yaitu membawa keong jalan-jalan. Aku tak dapat jalan terlalu cepat, keong sudah berusaha keras merangkak. Setiap kali hanya beralih sedemikian sedikit. Aku mendesak, menghardik, memarahinya, keong memandangku dengan pandangan meminta maaf, serasa berkata, &#8220;Aku sudah berusaha dengan segenap tenaga!&#8221;
Aku menariknya, menyeret, bahkan menendangnya, keong terluka. Ia mengucurkan keringat, napas tersengal-sengal, merangkak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-42466" src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/02/keong.jpg" alt="keong" width="320" height="240" />Tuhan memberiku sebuah tugas, yaitu membawa keong jalan-jalan. Aku tak dapat jalan terlalu cepat, keong sudah berusaha keras merangkak. Setiap kali hanya beralih sedemikian sedikit. Aku mendesak, menghardik, memarahinya, keong memandangku dengan pandangan meminta maaf, serasa berkata, &#8220;Aku sudah berusaha dengan segenap tenaga!&#8221;</p>
<p>Aku menariknya, menyeret, bahkan menendangnya, keong terluka. Ia mengucurkan keringat, napas tersengal-sengal, merangkak ke depan. Sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku mengajak seekor keong berjalan-jalan. Ya Tuhan! Mengapa? Langit sunyi senyap. Biarkan saja keong merangkak di depan, aku kesal di belakang. Pelankan langkah, tenangkan hati&#8230;</p>
<p>Oh? Tiba-tiba tercium aroma bunga, ternyata ini adalah sebuah taman bunga. Aku rasakan hembusan sepoi angin, ternyata angin malam demikian lembut. Ada lagi! Aku dengar suara kicau burung, suara dengung cacing. Aku lihat langit penuh bintang cemerlang. Oh? Mengapa dulu tidak rasakan semua ini? Barulah aku teringat, mungkin aku telah salah menduga!</p>
<p>Ternyata Tuhan meminta keong menuntunku jalan-jalan sehingga aku dapat memahami dan merasakan keindahan taman ini yang tak pernah kualami kalau aku berjalan sendiri dengan cepatnya.<br />
<em>&#8220;He&#8217;s here and with me for a reason&#8221;</em></p>
<p>Saat bertemu dengan orang yang benar-benar engkau kasihi, haruslah berusaha memperoleh kesempatan untuk bersamanya seumur hidupmu. Karena ketika dia telah pergi, segalanya telah terlambat.</p>
<p>Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya. Karena seumur hidup manusia, teman sejati tak mudah ditemukan.</p>
<p>Saat bertemu penolongmu, ingat untuk bersyukur padanya. Karena ialah yang mengubah hidupmu.</p>
<p>Saat bertemu orang yang pernah kau cintai, ingatlah dengan tersenyum untuk berterimakasih. Karena ialah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang kasih.</p>
<p>Saat bertemu orang yang pernah kau benci, sapalah dengan tersenyum. Karena ia membuatmu semakin teguh/kuat.</p>
<p>Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu, baik-baiklah, berbincanglah dengannya. Karena jika bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia ini.</p>
<p>Saat bertemu orang yang pernah diam-diam kau cintai, berkatilah dia. Karena saat kau mencintainya, bukankah berharap ia bahagia?</p>
<p>Saat bertemu orang yang tergesa-gesa meninggalkanmu, berterimakasihlah bahwa ia pernah ada dalam hidupmu. Karena ia adalah bagian dari nostalgiamu.</p>
<p>Saat bertemu orang yang pernah salah paham padamu, gunakan saat tersebut untuk menjelaskannya. Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan.</p>
<p>Saat bertemu orang yang saat ini menemanimu seumur hidup, berterimakasihlah sepenuhnya bahwa ia mencintaimu. Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ksupointer.com/berjalan-dengan-keong/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>CEO Note 20 Juni 2011: Bupati Baru di Kolam Keruh</title>
		<link>http://ksupointer.com/ceo-note20-juni-2011-bupati-baru-di-kolam-keruh</link>
		<comments>http://ksupointer.com/ceo-note20-juni-2011-bupati-baru-di-kolam-keruh#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 05:31:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anida Etikawati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kutipan Internet]]></category>

		<category><![CDATA[CEO Note]]></category>

		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ksupointer.com/?p=42431</guid>
		<description><![CDATA[Begitu banyak bupati/walikota di Indonesia tapi jarang yang menonjol.  Di antara yang sedikit itu termasuk Walikota Solo, Bupati Sragen,  Bupati Lamongan yang dulu (saya belum mengenal reputasi bupati yang  sekarang), Bupati Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Walikota Ternate,  Walikota Bau-bau di pulau Buton, Bupati Asahan, Bupati Berau di Kaltim  dan Walikota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Begitu banyak bupati/walikota di Indonesia tapi jarang yang menonjol.  Di antara yang sedikit itu termasuk Walikota Solo, Bupati Sragen,  Bupati Lamongan yang dulu (saya belum mengenal reputasi bupati yang  sekarang), Bupati Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Walikota Ternate,  Walikota Bau-bau di pulau Buton, Bupati Asahan, Bupati Berau di Kaltim  dan Walikota Surabaya (baik yang Bambang DH maupun penggantinya). Masih  ada beberapa lagi memang, tapi tidak akan seberapa.</p>
<p>Kini, dalam posisi sebagai Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara  (PLN Persero), saya lebih banyak lagi mengenal, bergaul dan berinteraksi  dengan  bupati/walikota. Apalagi saya terus berkeliling Indonesia untuk  melihat dan menyelesaikan problem kelistrikan Nusantara. Dari situ saya  mencatat bupati/walikota itu umumnya biasa-biasa saja: banyak berjanji  di awalnya, lemah di tengahnya dan menyerah di akhirnya. Saya tidak tahu  akan seperti apa Bupati Tuban yang baru terpilih, H. Fathul Huda ini.  Apakah juga akan menjadi bupati yang biasa-biasa saja atau akan menjadi  bupati yang tergolong sedikit itu. Bahkan jangan-jangan akan jadi bupati  yang sama mengecewakannya dengan yang dia gantikan.Saya tahu dari para  wartawan, bahwa Fathul Huda adalah orang yang awalnya tidak punya  keinginan sama sekali untuk menjadi bupati. Dia sudah mapan hidupnya  dari bisnisnya yang besar.  Dia adalah pengusaha yang kaya-raya. Dia  juga bukan tipe orang yang gila jabatan. Dia adalah orang yang memilih  mengabdikan hidupnya di dunia keagamaan. Juga dunia sosial. Dunia  kemasyarakatan. Sekolah-sekolah dia bangun. Juga rumah sakit. Dia yang  sudah sukses hidup di dunia sebenarnya hanya ingin lebih banyak  memikirkan akherat. Kalau pun berorganisasi, ia adalah Ketua Nahdlatul  Ulama (NU) Tuban.Tapi sejak enam tahun lalu begitu banyak orang yang  menginginkannya jadi bupati Tuban. Itu pun tidak dia respons. Begitu  banyak permintaan mencalonkan diri dia abaikan. Tahun lalu permintaan  itu diulangi. Juga dia abaikan. Menjelang pendaftaran calon bupati malah  dia pergi umroh ke Makkah. Baru ketika, Gus Saladin (KH Sholachuddin,  kyai terkemuka dari Tulungagung, putra KH Abdul Jalil Mustaqiem  almarhum) meneleponnya dia tidak berkutik. Ini karena Gus Saladin dia  anggap seorang mursyid yang tidak boleh ditolak permintaannya. Konon Gus  Saladin lebih hebat dari bapaknya yang hebat itu. Begitu Gus Saladin  menugaskannya menjadi bupati Tuban, dia sami’na waatha’na. Dia kembali  ke tanah air mendahului jemaah lainnya. Tepat di tanggal penutupan  pendaftaran dia tiba di Tuba. Tanpa banyak kampanye dengan mudah dia  terpilih dengan angka lebih dari 50%.</p>
<p>Cerita itu saja sudah menarik. Sudah bertolak belakang dengan tokoh  yang dia gantikan yang dikenal sangat ambisius akan jabatan. Termasuk  nekad mencalonkan diri lagi meski sudah dua kali menjadi bupati hanya  untuk mengejar jabatan wakil bupati.</p>
<p>Sebagai sesama orang swasta yang terjun ke pemerintahan, saya bisa  membayangkan apa yang dipikirkan Fathul Huda menjelang pelantikannya 20  Juni besok. Mungkin sama dengan yang saya bayangkan ketika akan dilantik  sebagai Dirut PLN: ingin banyak sekali berbuat dan melakukan perombakan  di segala bidang.</p>
<p>Tapi, sebentar lagi, setelah dilantik nanti Fahtul Huda akan terkena  batunya. Hatinya akan berontak: mengapa tidak boleh melakukan ini,  mengapa sulit melakukan itu, mengapa jadinya begini, mengapa kok begitu,  mengapa sulit mengganti si Malas, mengapa tidak boleh mengganti si  Lamban, mengapa si Licik duduk di sana, mengapa si Banyak Cakap diberi  peluang dan mengapa-mengapa lainnya.Saya perkirakan Fathul Huda akan  menghadapi situasi yang jauh lebih buruk dari yang saya hadapi. Di PLN  saya mendapat dukungan besar untuk melakukan perubahan besar-besaran.  Mengapa? Karena orang-orang PLN itu relatif homogen. Mayoritas mereka  adalah sarjana, bahkan sarjana tehnik yang berpikirnya logik. Mereka  adalah para lulusan terbaik dari perguruan tinggi terkemuka di republik  ini. Sebagai sarjana tehnik logika mereka sangat baik. Sesuatu yang  logis pasti diterima. Ide-ide baru yang secara logika masuk akal,  langsung ditelan. Mereka memang sudah lama berada dalam situasi  birokrasi yang ruwet, tapi dengan modal logika yang sehat, keruwetan itu  cepat diurai.</p>
<p>Sedang Fathul Huda akan menghadapi masyarakat yang aneka-ria. Ada  petani, pengusaha. Ada politisi ada agamawan. Politisinya dari berbagai  kepentingan dan  agamawannya dari berbagai aliran. Ada oportunis, ada  ekstremis. Ada yang  buta huruf, ada yang professor. Ada anak-anak, ada  orang jompo. Yang lebih berat lagi Fathul Huda akan berhadapan dengan  birokrasinya sendiri. Bukan saja menghadapi bahkan akan menjadi bagian  dari birokrasi itu. Di lautan birokrasi seperti itu Fathul Huda akan  seperti benda kecil yang dimasukkan dalam kolam keruh birokrasi. Di  situlah tantangannya. Fathul Huda bisa jadi kaporit yang meskipun kecil  tapi bisa mencuci seluruh kolam. Atau Fathul Huda hanya bisa jadi ikan  lele yang justru hidup dari kolam keruh itu. Pilihan lain Fathul Huda  yang cemerlang itu hanya akan jadi ikan hias yang tentu saja akan mati  kehabisan udara segar.</p>
<p>Birokrasi itu “binatang” yang paling aneh di dunia: kalau diingatkan  dia ganti mengingatkan (dengan menunjuk pasal-pasal dalam peraturan yang  luar biasa banyaknya). Kalau ditegur dia mengadu ke backingnya. Seorang  birokrat biasanya  punya backing. Kalau bukan atasannya yang gampang  dijilat, tentulah politisi. Atau bahkan dua-duanya. Kalau dikerasi dia  mogok secara diam-diam dengan cara menghambat program agar tidak  berjalan lancar. Kalau dihalusi dia malas. Kalau dipecat dia menggugat.  Dan kalau diberi persoalan dia menghindar.Intinya: ide baru tidak  gampang masuk ke birokrasi. Birokrasi menyenangi banyak program tapi  tidak mempersoalkan hasilnya. Proyek tidak boleh hemat. Kalau ada  persoalan jangan dihadapi tapi lebih baik dihindari. Dan keputusan harus  dibuat mengambang. Pokoknya birokrasi itu punya Tuhan sendiri: tuhannya  adalah peraturan. Peraturan yang merugikan sekalipun!Fathul Huda tentu  tahu semua itu. Sebagai pengusaha (dari perdagangan sampai batubara)dia  tentu merasakan bagaimana ruwetnya menghadapi birokrasi selama ini. Tapi  sebagai pengusaha pula Fathul Huda tentu banyak akal. Kini saya ingin  tahu: seberapa banyak akal Fathul Huda yang bisa dipakai untuk mengatasi  birokrasinya itu. Apalagi birokrasi di Tuban sudah begitu kuatnya di  bawah bupati yang amat birokrat selama 10 tahun.</p>
<p>Yang jelas Fathul Huda sudah punya modal yang luar biasa: tidak takut  tidak jadi bupati! Itulah modal nomor satu, nomor dua, nomor tiga,  nomor empat dan nomor lima . Modal-modal lainnya hanyalah nomor-nomor  berikutnya. Tidak takut tidak jadi bupati adalah sapu jagat yang akan  menyelesaikan banyak persoalan. Apalagi kalau Fathul Huda benar-benar  bertekad untuk tidak mengambil gaji (he he gaji bupati tidak ada artinya  dengan kekayaannya yang tidak terhitung itu), tidak menerima fasilitas,  kendaraan dinas, HP dinas dan seterusnya seperti yang begitu sering dia  ungkapkan.Banyak akal, kaya-raya dan tidak takut tidak jadi bupati. Ini  adalah harapan baru bagi kemajuan Tuban yang kaya akan alamnya. Pantai  dangkalnya bisa dia jadikan water front yang indah. Pantai dalamnya bisa  dia jadikan pelabuhan yang akan memakmurkan. Pelabuhan Surabaya sudah  kehilangan masa depannya. Tuban, kalau mau bisa mengambil alihnya!</p>
<p>PDI-Perjuangan sudah dikenal memilki banyak bupayi/walikota yang  hebat: Surabaya , Solo, Sragen. Muhammadiyah juga sudah punya Masfuk.  Kini PKB punya tiga yang menonjol: di Banyuwangi, Kebumen dan Tuban.  Akankah tiga bupati ini  bisa membuktikan bahwa tokoh Nahdliyyin juga  bisa jadi pimpinan daerah yang menonjol?</p>
<p>Tapi birokrasi akan dengan mudah menenggelamkan mimpi-mimpi mereka dan mimpi besar Fathul Huda di Tuban.</p>
<p>Di Tubanlah kita akan menyaksikan “pertunjukan” yang sangat menarik  selama lima tahun ke depan. Pertunjukan kecerdikan lawan keruwetan.  Fathul Huda bisa memenangkannya, dikalahkannya atau hanya akan jadi  bagian dari pertunjukan itu sendiri: sebuah pertunjukan yang panjang dan  melelahkan!</p>
<p>Dahlan Iskan</p>
<p>CEO PLN</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ksupointer.com/ceo-note20-juni-2011-bupati-baru-di-kolam-keruh/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Raker Dekopinda Kota Malang Tahun Kerja 2011</title>
		<link>http://ksupointer.com/raker-dekopinda-kota-malang-tahun-kerja-2011</link>
		<comments>http://ksupointer.com/raker-dekopinda-kota-malang-tahun-kerja-2011#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 02:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anida Etikawati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Mitra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ksupointer.com/?p=42456</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu, 29 Januari 2012, Sekretaris KSU Pointer Anida Etikawati menghadiri Raker Dekopinda Kota Malang Tahun Kerja 2011. Acara ini diselenggarakan di kantor Dekopinda Kota Malang pukul 08.00. Acara ini dihadiri oleh Walikota, Dekopinwil Propinsi Jawa Timur, Pengurus Dekopinda Kota Malang, dan kurang lebih 46 koperasi di Kota Malang.
Acara dimulai pukul 09.15, diawali dengan menyanyikan lagu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu, 29 Januari 2012, Sekretaris KSU Pointer Anida Etikawati menghadiri Raker Dekopinda Kota Malang Tahun Kerja 2011. Acara ini diselenggarakan di kantor Dekopinda Kota Malang pukul 08.00. Acara ini dihadiri oleh Walikota, Dekopinwil Propinsi Jawa Timur, Pengurus Dekopinda Kota Malang, dan kurang lebih 46 koperasi di Kota Malang.</p>
<p>Acara dimulai pukul 09.15, diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Koperasi, dan dilanjutkan dengan laporan panitia Raker serta sambutan dari Pimpinan Dekopinda Kota Malang, Pimpinan Dekopinwil Propinsi Jawa Timur, serta perwakilan dari Walikota Malang.</p>

<a href='http://ksupointer.com/raker-dekopinda-kota-malang-tahun-kerja-2011/2012-01-29-001' title='2012-01-29-001'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/01/2012-01-29-001-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/raker-dekopinda-kota-malang-tahun-kerja-2011/2012-01-29-002' title='2012-01-29-002'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/01/2012-01-29-002-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/raker-dekopinda-kota-malang-tahun-kerja-2011/2012-01-29-003' title='2012-01-29-003'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/01/2012-01-29-003-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://ksupointer.com/raker-dekopinda-kota-malang-tahun-kerja-2011/2012-01-29-004' title='2012-01-29-004'><img src="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2012/01/2012-01-29-004-160x120.jpg" width="160" height="120" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ksupointer.com/raker-dekopinda-kota-malang-tahun-kerja-2011/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ceo Note 30 Mei 2011: Lahirnya Bayi-bayi Baru dan Mulainya SPPD Berkuota</title>
		<link>http://ksupointer.com/ceo-note-30-mei-2011-lahirnya-bayi-bayi-baru-dan-mulainya-sppd-berkuota</link>
		<comments>http://ksupointer.com/ceo-note-30-mei-2011-lahirnya-bayi-bayi-baru-dan-mulainya-sppd-berkuota#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 05:27:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anida Etikawati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kutipan Internet]]></category>

		<category><![CDATA[CEO Note]]></category>

		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ksupointer.com/?p=42428</guid>
		<description><![CDATA[Satu persatu PLTU program 10.000 MW mulai menghasilkan listrik. Jumat  malam lalu (28 Mei 2011), satu unit PLTU Lontar (Teluk Naga / beberapa  kilometer sebelah barat bandara Cengkareng) sudah sinkron. Keesokan  harinya bisa menghasilkan listrik 300 MW.
Memang, setelah dua hari dicoba PLTU itu harus dihentikan dulu  beberapa hari untuk perbaikan. Diketahui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu persatu PLTU program 10.000 MW mulai menghasilkan listrik. Jumat  malam lalu (28 Mei 2011), satu unit PLTU Lontar (Teluk Naga / beberapa  kilometer sebelah barat bandara Cengkareng) sudah sinkron. Keesokan  harinya bisa menghasilkan listrik 300 MW.</p>
<p>Memang, setelah dua hari dicoba PLTU itu harus dihentikan dulu  beberapa hari untuk perbaikan. Diketahui ada 3 bagian yang belum  sempurna: sensor temperature di super heater, shoot blower yang  temperaturnya ketinggian dan cacat di anti steam explotion. Tapi itu  bukan cacat berat. Tidak seperti di Suralaya-8 yang begitu ditest bagian  yang penting yang gagal fungsi. Juga bukan seperti di Paiton yang  begitu dicoba sinkron trafo step-upnya terbakar. Dua kasus terakhir itu  menjengkelkan karena alat-alat penggantinya masih harus dibuat dan  didatangkan dari luar negeri.</p>
<p>Yang di Lontar tidak seperti itu. Mestinya paling lambat dua minggu  lagi sudah bisa dicoba lagi. Kalau tidak lagi ditemukan kekurangan test  kehandalan pun bisa segera dilakukan.</p>
<p>Kita memang sudah sangat lama menunggu lahirnya bayi listrik di  Lontar ini. Hamilnya sudah terlalu lama. Teman-teman kita yang menangani  proyek itu, bekerja luar biasa keras setahun terakhir ini untuk menjaga  agar tidak keguguran atau setidaknya lahir sungsang. Mulai dari GM yang  lama Pak Harry Purwono sampai GM yang baru (entah kenapa jatuh kepada  orang yang nama depannya sama) Harry Nugroho stress berat dibuatnya.</p>
<p>Sejak di awal proyek yang satu ini memang mengalami hambatan besar.  Bahkan sudah sejak pencarian tanahnya yang harus berpindah-pindah.  Ketika untuk pertama kalinya meninjau proyek ini (tidak lama setelah  dilantik jadi Dirut PLN), saya geleng-geleng kepala. Apalagi waktu itu  baru saja hujan. Mobilitas alat, barang dan pekerja sangatlah lebay.  Yang terlihat di sekitar proyek hanyalah kubangan dan lumpur.  Sampai-sampai terlontar begitu saya dari mulut saya: proyek ini proyek  horror.</p>
<p>Untungnya di tengah-tengah horror itu teman-teman yang menangani  proyek ini tidak sampai kehilangan rasa humornya. Yakni ketika proyek  ini hampir saja miskram. “Biasanya proyek PLTU itu dibangun dulu baru  kemudian dilakukan firing (pembakaran untuk menghasilkan uap). Tapi PLTU  Lontar ini firing dulu baru kemudian dibangun,” ujar Pak Harry Purwono  yang baru saja pensiun itu. Tentu saya tidak mengerti di mana lucunya  kalimat itu. Setelah diceritakan kejadiannya barulah saya tertawa  ngakak. Sebelum proyek ini dimulai, ketika pekerjaan membangun kamp-kamp  tenaga kerja dilakukan, penduduk marah dan melakukan pembakaran yang  menghebohkan. Proyek terhenti lama sekali.</p>
<p>Sebenarnya agak aneh mengapa bisa muncul masalah itu. Pemukiman  penduduk begitu jauh dari proyek ini. Terpisahkan oleh persawahan sejauh  2 km. Untuk bisa sampai ke proyek ini pun sulitnya bukan main. Harus  menundukkan dulu jalan darurat sejauh 2 km yang berkubang dan berkubang.  Semula saya kira proyek ini dibangun di tengah persawahan. Kok aneh?  Kok tidak seperti PLTU lain yang dibangun di pinggir pantai?</p>
<p>Ternyata PLTU Lontar sebenarnya dibangun di pinggir pantai juga.  Hanya saja pantainya berada nun jauh di 2 km sana. Bisa dibayangkan  betapa horornya proyek ini. Betapa sulitnya mengerjakannya. Termasuk  betapa beratnya membangun water intake dan water outflownya. Maka sejak  awal saya pun memaklumi mengapa pembangunannya begitu lambat.</p>
<p>Maka yang bisa dilakukan hanyalah bagaimana agar bayi horror ini  tidak lebih lama lagi ngendon di kandungan. Pak Harry sendiri yang  semula bertekad menjadikan proyek ini sebagai kenangan manis sebelum  pensiun harus menyerah pada takdir.</p>
<p>Kini, tiga bulan setelah Pak Harry pensiun, unit satu Lontar baru selesai.</p>
<p>Itu berarti delapan unit PLTU proyek 10.000 MW yang sudah selesai.  Tahun lalu dua unit selesai (Labuhan, Banten) dan April-Mei 2011 ini  enam buah: Indramayu unit 1 dan 2, Rembang unit 1 dan 2, Suralaya 8 dan  Lontar unit 1. Rasanya kualitas unit-unit yang selesai di tahun 2011  akan lebih baik karena mendapatkan control yang lebih ketat. Tidak akan  seperti bayi Labuhan yang sampai setahun kemudian pun masih terkena  ashma.</p>
<p>Kalau benar yang selesai di tahun 2011 ini kualitasnya lebih baik,  ini sebuah prestasi besar jajaran pembangkitan Jawa/Bali. Begitu ketat  teman-teman kita mengendalikan proyek. Padahal persoalannya begitu  berbelitnya. PLTU Rembang pun sebenarnya tidak kalah horornya dari  Lontar. Bahkan di sini saya sempat mengancam mengusir kontraktornya.  Demikian juga di Suralaya-8. Bung Wedy, manajer proyek di sana sampai  benar-benar mengusir pimpinan proyek yang diangkat kontraktor.</p>
<p>Saya harus memuji dan memberikan apresiasi yang tinggi kepada para  manajer proyek yang berada di bawah koordinasi Kadiv Henky Heru Basudewo  ini. Pujian saya itu disertai permintaan maaf karena saya terus  menguber HHB seperti menguber maling. HHB pun terus menguber para  manajer proyek seperti menguber perampok. Begitu ketatnya HHB  mengendalikan para manajer proyek sampai-sampai muncul kesan kok para  manajer proyek ini seolah-olah seperti terdakwa. Juga sampai muncul  kesan seolah-olah keterlambatan proyek-proyek itu gara-gara mereka.  Padahal para manajer proyek itu baru diterjunkan 1 tahun lalu, justru  ketika proyek-proyek itu sudah sangat terlambat.</p>
<p>Saya bisa memahami munculnya perasaan galau seperti itu. Kesan itu  juga saya ceritakan kepada semua anggota direksi. Bahkan kepada para  menteri pun saya ceritakan betapa kerja keras teman-teman yang di proyek  sekarang ini mengorbankan segala-galanya: fisik, mental dan perasaan.  Mereka juga harus pandai main silat untuk menghadapi kelihaian permainan  kungfu para kontraktor.</p>
<p>Dengan mulai selesainya proyek-proyek itu satu-persatu, tekanan yang  sangat stress-full itu berkurang. Teman-teman yang di distribusi  Jawa/Bali juga bisa lebih fokus berjuang mengalahkan Malaysia tanpa  khawatir mati lampu yang disebabkan oleh kekurangan pasok. Lebih dari  itu, gambaran bahwa tahun depan PLN akan bisa melakukan penghematan  besar-besaran dalam penggunaan BBM bisa lebih optimistis.</p>
<p>Saya harus mencatat baik-baik kiat baru yang bisa membuat  pengendalian proyek-proyek tersebut sangat effektif: HHB menciptakan  system control yang jitu. Apa itu? Karena semua jajaran proyek  menggunakan Blackberry, maka seluruh jajaran proyek dikelompokkan dalam  grup BBM. Saya dan Dirops Jawa Bali dianggap kepala proyek juga sehingga  kami berdua dimasukkan ke dalamnya.</p>
<p>Dengan system itu saya dan Pak Ngurah Adnyana pun bisa tahu apa saja  yang mereka percakapkan di BBM. Bagaimana sesama manajer proyek saling  melapor, memberi saran, memberi instruksi, memuji, ngedumel, sewot dan  meringis. Atau bahkan bila mereka sekedar ndagel (melucu) sekali pun.  Mungkin untuk melepas stress, setiap akhir pekan mereka saling bertukar  lelucon. Kadang leluconnya pakai bahasa Suroboyoan sehingga saya yakin  Kadiv seperti Pak Paingot tidak akan bisa tertawa.</p>
<p>Dengan system HHB itu praktis sesama manajer proyek terhubung selama  24 jam. Sejak jam 05.00 sampai jam 24.00. HHB biasanya sudah mengirimkan  pesan pada jam 05.00. Mulai saat itu siapa pun boleh mulai mendaftarkan  persoalan yang dihadapi hari itu. Sesekali saya ikut nimbrung,  menambahkan persoalan agar lebih banyak lagi.</p>
<p>Saya membayangkan, kalau semua unit di PLN membuat grup seperti itu  alangkah efektifnya organisasi ini. Juga alangkah turunnya SPPD. Apalagi  SPPD memang harus turun drastis pasca puasa SPPD sebulan penuh yang  berakhir tanggal 31 Mei 2011 ini. Kuota SPPD akan dikenakan kepada  setiap unit. Kuota ini akan diterapkan dengan system terkomputer  sehingga begitu kuotanya habis tidak akan bisa di-“klik” lagi.</p>
<p>Karena itu semua atasan yang mengeluarkan SPPD harus mewaspadai kuota  itu. Kalau tidak, bulannya belum habis tapi kuota SPPD-nya sudah  wassalam.</p>
<p>Tentu saya dan semua orang bangga dengan suksesnya penyelenggaraan  puasa SPPD sebulan penuh itu. Di mana-mana orang membicarakan munculnya  citra baru PLN yang menjulang. Kini puasa itu sudah berakhir. Kita  meneruskannya dengan  SPPD berkuota.</p>
<p>Dahlan Iskan</p>
<p>CEO PLN</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ksupointer.com/ceo-note-30-mei-2011-lahirnya-bayi-bayi-baru-dan-mulainya-sppd-berkuota/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>CEO Note 12 Mei 2011: Ke Iran Setelah 20 Tahun Diembargo Amerika</title>
		<link>http://ksupointer.com/ceo-note-12-mei-2011-ke-iran-setelah-20-tahun-diembargo-amerika</link>
		<comments>http://ksupointer.com/ceo-note-12-mei-2011-ke-iran-setelah-20-tahun-diembargo-amerika#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 05:21:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anida Etikawati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kutipan Internet]]></category>

		<category><![CDATA[CEO Note]]></category>

		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ksupointer.com/?p=42426</guid>
		<description><![CDATA[Baru sekali ini saya ke Iran. Kalau saja PLN tidak mengalami  kesulitan mendapatkan  gas dari dalam negeri, barangkali tidak akan ada  pikiran untuk melihat kemungkinan mengimpor gas dari negara para mullah  ini.
Sudah setahun lebih PLN berjuang untuk mendapatkan gas dari negeri  sendiri. Tapi hasilnya malah sebaliknya. Jatah gas PLN justru diturunkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baru sekali ini saya ke Iran. Kalau saja PLN tidak mengalami  kesulitan mendapatkan  gas dari dalam negeri, barangkali tidak akan ada  pikiran untuk melihat kemungkinan mengimpor gas dari negara para mullah  ini.</p>
<p>Sudah setahun lebih PLN berjuang untuk mendapatkan gas dari negeri  sendiri. Tapi hasilnya malah sebaliknya. Jatah gas PLN justru diturunkan  terus menerus. Kalau awal tahun 2010 PLN masih mendapat jatah gas 1.100  mmscfd, saat tulisan ini dibuat justru tinggal 900 mmscfd. Perjuangan  untuk mendapatkan tambahan gas yang semula menunjukkan tanda-tanda  berhasil, belakangan redup kembali.</p>
<p>Gas memang sulit diraba sehingga tidak bisa terlihat ke mana larinya.  Bisa jadi gas itu akan berbelok-belok dulu entah ke mana baru dari sana  dijual ke PLN dengan harga yang sudah berbeda. Padahal PLN memerlukan  gas sebanyak 1,5 juta mmscfd. Kalau saja PLN bisa mendapatkan gas  sebanyak itu penghematannya bisa mencapai Rp 15 triliun setiap tahun.  Angka penghematan yang mestinya menggiurkan siapa pun.</p>
<p>Maka saya memutuskan ke Iran. Apalagi upaya mengatasi krisis listrik  sudah berhasil dan menuntaskan daftar tunggu yang panjang itu pasti bisa  selesai bulan depan. Kini waktunya perjuangan mendapatkan gas  ditingkatkan. Termasuk, apa boleh buat, ke negara yang sudah sejak tahun  1980-an diisolasi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya itu. Siapa  tahu ada harapan untuk menyelesaikan persoalan pokok PLN sekarang ini:  efisiensi. Sumber pemborosan terbesar PLN adalah banyaknya pembangkit  listrik yang “salah makan”. Sekitar 5.000 MW pembangkit yang seharusnya  diberi makan gas, sudah puluhan tahun diberi makan minyak solar yang  amat mahal. Salah makan inilah yang membuat perut PLN kembung selama  ini.</p>
<p>Kebetulan Iran memang lagi memasarkan gas dalam bentuk cair (LNG).  Iran lagi membangun proyek LNG besar-besaran di kota Asaleuyah, di  pantai Teluk Parsi. Saya ingin tahu benarkah proyek itu bisa jadi?  Bukankah Iran sudah lebih 20 tahun dimusuhi dan diisolasi secara ekonomi  oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dari seluruh dunia? Bukankah  begitu banyak yang meragukan Iran bisa mendapatkan teknologi tinggi  untuk membangun proyek LNG besar-besaran?</p>
<p>Saya pun terbang ke Asaleuyah, dua jam penerbangan dari Teheran.  Meski Aseleuyah kota kecil ternyata banyak sekali penerbangan ke kota  yang hanya dipisahkan oleh laut 600 km dari Qatar itu. Bandaranya kecil  tapi cukup baik. Masih baru dan statusnya internasional. Pesawat-pesawat  lokal seperti Aseman Air terbang ke sini. Inilah kota yang memang baru  saja berkembang dengan pesatnya. Iran memang menjadikan kota Asaleuyah  sebagai pusat industri minyak, gas dan petrokimia. Beratus-ratus hektar  tanah di sepanjang pantai itu kini penuh dengan rangkaian pipa-pipa  kilang minyak, kilang petrokimia dan instalasi pembuatan LNG.</p>
<p>Saya heran bagaimana Iran bisa mendapatkan semua teknologi itu di  saat Iran lagi diisolasi oleh dunia barat. Memang terasa jalannya proyek  tidak bisa cepat, tapi sebagian besar sudah jadi. Kilang minyaknya,  kilang petrokimianya, kilang etanolnya sudah beroperasi dalam skala yang  raksasa. Hanya kilang LNG-nya yang masih dalam pembangunan dan  kelihatannya baru akan selesai dua tahun lagi.</p>
<p>Memang kalau saja Iran tidak diembargo proyek-proyek itu pasti bisa  lebih cepat. Namun Iran tidak menyerah. Iran membuat sendiri banyak  teknologi yang dibutuhkan di situ. Hanya bagian-bagian tertentu yang  masih dia datangkan dari luar. Entah dengan cara apa dan entah lewat  mana. Yang jelas barang-barang itu bisa ada. Orang, kalau kepepet  biasanya memang banyak akalnya. Asal tidak mudah menyerah. Demikian juga  Iran. Bahkan keperluan listrik untuk industri petrokimia itu Iran  akhirnya bisa membuat pembangkit sendiri. Termasuk bisa membuat bagian  yang paling sulit di pembangkit listrik: turbin. Maka Iran kini sudah  berhasil menguasai teknologi pembangkit listrik tenaga gas, baik open  cycle maupun combine cycle.</p>
<p>Kemampuan membuat pembangkit listrik ini pun semula agak saya  ragukan. Belum pernah terdengar ada negara Islam yang mampu membuat  pembangkit listrik secara utuh. Karena itu setelah meninjau proyek LNG  saya minta diantar ke pabrik turbin itu. Saya ingin melihat sendiri  bagaimana Iran dipaksa keadaan untuk mengatasi sendiri kesulitan  teknologinya.</p>
<p>Ternyata benar. Pabrik turbin itu sangat besar. Bukan hanya bisa  merangkai, tapi membuat keseluruhannya. Bahkan sudah mampu membuat  blade-blade turbin sendiri. Termasuk mampu menguasai teknologi coating  blade yang bisa meningkatkan efisiensi turbin. Baru 10 tahun Iran  menekuni alih teknologi pembangkit listrik ini. Sekarang Iran sudah  memproduksi 225 buah turbin dari berbagai ukuran. Mulai dari 25 MW  sampai 167 MW. Bahkan Iran sudah mulai ekspor turbin  ke Libanon, Syria  dan Iraq. Bulan depan sudah pula mengekspor suku cadang turbin ke India.  Bulan lalu pabrik turbin Iran ini merayakan produksi bladenya yang ke  80.000 buah!</p>
<p>Kesimpulan saya: inilah Negara Islam pertama yang mampu membuat  turbin dan keseluruhan pembangkit listriknya. Saya dan rombongan PLN  diberi kesempatan meninjau semua proses produksinya. Dari A sampai Z.  Termasuk memasuki laboratorium metalurginya. Dengan kemampuannya ini,  untuk urusan listrik, Iran bisa mandiri. Bahkan untuk pemeliharaan  pembangkit-pembangkit listrik yang lama Iran tidak tergantung lagi ke  pabrik asalnya. Mesin-mesin Siemen lama dari Jerman atau GE dari USA  bisa dirawatnya sendiri. Iran sudah bisa memproduksi suku cadang untuk  semua mesin pembangkit Siemen dan GE. Bahkan sudah dipercaya oleh Siemen  untuk memasok ke negara lain. “Anak perusahaan kami sanggup melakukan  pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik PLN dengan menggunakan suku  cadang dari sini,” kata manajer di situ. Pabrik ini memiliki 32 anak  perusahaan, masing-masing menangani bidang yang berbeda di sektor  listrik. Termasuk ada anak perusahaan yang khusus bergerak di bidang  pemeliharaan dan operasi pembangkitan.</p>
<p>Bisnis kelihatannya tetap bisnis. Saya tidak habis pikir bagaimana  Iran tetap bisa mendapatkan alat-alat produksi turbin berupa mesin-mesin  dasar kelas satu buatan Eropa: Itali, Jerman, Swiss dan seterusnya.  Saya juga tidak habis pikir bagaimana pabrik pembuatan turbin ini bisa  mendapatkan lisensi dari Siemen.</p>
<p>Rupanya meski Iran membenci Amerika dan sekutunya tapi tidak sampai  membenci produk-produknya. Iran membenci Amerika hanya karena Amerika  membantu Israel. Ini jauh dari bayangan saya sebelum datang ke Iran.  Saya pikir Iran membenci apa pun yang datang dari Amerika. Ternyata  tidak. Bahkan Coca-cola dijual secara luas di Iran. Demikian juga Pepsi  dan Miranda. Belum lagi Gucci, Prada dan seterusnya.</p>
<p>Intinya: dengan diembargo oleh Amerika Serikat dan sekutunya, Iran  hanya mengalami kesulitan pada tahun-tahun pertamanya. Kesulitan itu  membuat Iran kepepet, bangkit dan mandiri. Kesulitan itu tidak sampai  membuatnya miskin apalagi bangkrut. Justru Iran dipaksa menguasai  beberapa teknologi yang semula menjadi ketergantungannya.</p>
<p>Banyaknya proyek yang sedang dikerjakan sekarang menunjukkan bahwa  pembangunan ekonomi Iran terus berjalan. Mulai dari pengembangan bandara  di mana-mana, pembangunan jalan layang sampai pun ke industri dasar.  Tidak ketinggalan pula industri mobil.</p>
<p>Kegiatan ekonomi di Iran memang tidak gegap-gempita seperti Tiongkok,  tapi tetap terasa menggeliat. Pertumbuhan ekonominya sudah bisa  direncanakan 6 persen tahun ini. Mulai meningkat drastis dibanding  tahun-tahun pertama sanksi ekonomi diberlakukan. “Sebelum ada sanksi  ekonomi, Iran hanya mampu memproduksi 300.000 mobil setahun. Sekarang  ini Iran memproduksi 1,5 juta mobil setahun,” ujar seorang CEO  perusahaan terkemuka di Iran.</p>
<p>Kami mendarat di bandara internasional Imam Khomeini Teheran  menjelang waktu shalat Jumat. Maka saya pun ingin segera ke masjid:  sembahyang Jumat. Saya tahu tidak ada kampung di sekitar bandara ini.  Dari atas terlihat bandara ini seperti benda jatuh di tengah gurun  tandus yang maha luas. Tapi setidaknya pasti ada masjid di bandara itu.</p>
<p>Memang ada masjid di bandara itu tapi tidak dipakai sembahyang Jumat.  Saya pun minta diantarkan ke desa atau kota kecil terdekat. Ternyata  saya kecele. Di Iran tidak banyak tempat yang menyelenggarakan  sembahyang Jumat. Bahkan di kota sebesar Teheran, ibukota negara dengan  penduduk 16 juta orang itu, hanya ada satu tempat sembahyang Jumat. Itu  pun bukan di masjid tapi di universitas Teheran. Dari bandara memerlukan  waktu perjalanan 1 jam. Atau bisa juga ke kota suci Qum. Tapi jaraknya  lebih jauh lagi. Di Negara Islam Iran, Jumatan hanya diselenggarakan di  satu tempat saja di setiap kota besar.</p>
<p>“Jadi, tidak ada tempat Jumatan di bandara ini?,” tanya saya.</p>
<p>“Tidak ada. Kalau kita kita mau Jumatan harus ke Teheran (40 km)   atau ke Qum (70 km). Sampai di sana waktunya sudah lewat,” katanya.</p>
<p>Shalat Jumat ternyata memang tidak wajib di Negara Islam Iran yang  menganut aliran Syiah itu. Juga tidak menggantikan shalat dzuhur. Jadi  siapa pun yang shalat Jumat tetap harus shalat dzuhur.</p>
<p>Karena hari Jumat adalah hari libur, saya tidak dijadwalkan rapat  atau meninjau proyek. Maka waktu setengah hari itu saya manfaatkan untuk  ke kota suci Qum. Jalan toll-nya tidak terlalu mulus tapi sangat OK:  enam jalur dan tarifnya hanya Rp 4000. Tarif itu kelihatannya memang  hanya dimaksudkan untuk biaya pemeliharaan saja.</p>
<p>Sepanjang perjalanan ke Qum tidak terlihat apa pun. Sejauh mata  memandang yang terlihat hanya  gurun, gunung tandus dan jaringan  listrik. Saya bayangkan alangkah enaknya membangun SUTET di Iran. Tidak  ada urusan dengan penduduk. Alangkah kecilnya gangguan listrik karena  tidak ada jaringan yang terkena pohon. Pohon begitu langka di sini.</p>
<p>Begitu juga letak kota suci Qum. Kota ini seperti berada di  tengah-tengah padang yang tandus. Karena itu bangunan masjidnya yang  amat besar, yang berada dalam satu komplek dengan madrasah yang juga  besar, kelihatan sekali menonjol sejak dari jauh.</p>
<p>Tujuan utama kami tentu ke masjid itu. Inilah masjid yang luar biasa  terkenalnya di kalangan ummat Islam Syiah. Kalau pemerintahan Iran  dikontrol ketat oleh para mullah, di Qum inilah pusatnya mullah.  Demokrasi di Iran memang demokrasi yang dikontrol oleh ulama.  Presidennya sendiri dipilih secara demokratis untuk masa jabatan paling  lama dua kali, tapi sang presiden harus taat kepada pemimpin tertinggi  agama yang sekarang dipegang oleh Imam Khamenei. Siapa pun bisa  mencalonkan diri sebagai presiden (tidak harus dari partai) tapi harus  lolos seleksi oleh dewan ulama.</p>
<p>Tapi Sang Imam bukan seorang diktator mutlak. Dia dipilih secara  demokratis oleh sebuah lembaga yang beranggotakan 85 mullah.  Masing-masing mullah itu pun dipilih langsung secara demokratis oleh  rakyat.</p>
<p>Dalam praktek sehari-hari ternyata tidak seseram yang kita bayangkan.  Amat jarang lembaga keagamaan ini mengintervensi pemerintah. “Dalam  lima tahun terakhir kita belum pernah mendengar campur tangan dari  mullah ke pemerintah,” ujar seorang CEO perusahaan besar di Teheran.</p>
<p>Saya memang kaget melihat kehidupan sehari-hari di Iran, termasuk di  kota suci Qum. Banyak sekali wanita yang mengendarai mobil. Tidak  seperti di negara-negara di jazirah Arab yang wanitanya dilarang  mengendarai mobil. Bahkan orang Iran  menilai negara yang melarang  wanita mengendarai mobil dan melarang wanita memilih dalam pemilu  bukanlah negara yang bisa menyebut dirinya Negara Islam.</p>
<p>Dan lihatlah cara wanita Iran berpakaian. Termasuk di kota suci Qum.  Memang semua wanita diwajibkan memakai kerudung (termasuk wanita asing),  tapi ya tidak lebih dari kerudung itu. Bukan jilbab, apalagi burqah.  Kerudung itu menutup rapi kepala tapi boleh menyisakan bagian depan  rambut mereka. Maka siapa pun bisa melihat mode bagian depan rambut  wanita Iran. Ada yang dibuat modis sedikit keriting dan sedikit  dijuntaikan keluar dari kerudung. Ada pula yang terlihat dibuat modis  dengan cara mewarnai rambut mereka. Ada yang blonde, ada pula yang  kemerah-merahan.</p>
<p>Bagaimana baju mereka? Pakaian atas wanita Iran umumnya juga sangat  modis. Baju panjang sebatas lutut atau sampai ke mata kaki. Pakaian  bawahnya hampir 100 persen celana panjang yang cukup ketat. Ada yang  terbuat dari kain biasa tapi banyak juga yang celana jean. Dengan  tampilan pakaian seperti itu, ditambah dengan tubuh mereka yang umumnya  langsing, wanita Iran terlihat sangat modis. Apalagi, seperti kata orang  Iran, dari 10 wanita Iran yang cantik adalah 11! Sedikit sekali saya  melihat wanita Iran yang memakai burkah, itu pun tidak ada yang sampai  menutup wajah.</p>
<p>Sampai ke kota Qum, sembahyang Jumatnya memang sudah selesai. Ribuan  orang bubaran keluar dari masjid. Saya pun melawan arus masuk ke masjid  melalui pintu  15. Setelah shalat dzuhur saya ikut ziarah ke makan  Fatimah yang dikunjungi ribuan Jemaah itu. Makan ini letaknya di dalam  masjid sehingga suasananya mengesankan seperti ziarah ke makan  Rasulullah di masjid Nabawi. Apalagi banyak juga oarng yang kemudian  shalat dan membaca Quran di dekat situ yang mengesankan orang seperti  berada di Raudlah.</p>
<p>Yang juga menarik adalah strata sosialnya. Kota metropolitan Teheran  dengan penduduk 16 juta dan dengan ukuran 50 km garis tengah adalah kota  yang sangat besar. Sebanding dengan Jakarta dengan Jabotabeknya. Tapi  tidak terlihat ada  keruwetan lalu-lintas di Teheran. Memang Teheran  tidak memiliki kawasan yang cantik Jalan Thamrin-Sudirman namun sama  sekali tidak terlihat ada kawasan kumuh seperti Pejompongan dan  Bendungan Hilir.  Memang tidak banyak gedung-gedung pencakar langit yang  cantik, tapi juga tidak terlihat gubuk dan bangunan kumuh.</p>
<p>Kota Teheran tidak memiliki bagian kota yang terlihat mewah, tapi  juga tidak terlihat ada bagian kota yang miskin. Teheran bukan kota yang  sangat bersih tapi juga tidak terasa kotor. Di jalan-jalan yang penuh  dengan mobil itu saya tidak melihat ada Mercy mewah apalagi Ferrari,  tapi juga tidak ada bajaj, motor atau mobil kelas 600 sampai 1.000 cc.  Lebih 90% mobil yang memenuhi jalan adalah sedan kelas 1.500 sampai  2.000 cc. Saya tidak melihat ada mall-mall yang besar di Teheran, tapi  saya juga sama sekali tidak melihat ada pedagang kaki lima, apalagi  pengemis. Wanitanya juga tidak ada yang sampai pakai burqah, tapi juga  tidak ada yang berpakaian merangsang. Orangnya rata-rata juga ramah dan  sopan. Baik dalam sikap maupun kata-kata.</p>
<p>Pemerataan pembangunan terasa sekali berhasil diwujudkan di Iran.  Semua rumah bisa masak dengan gas yang dialirkan melalui pipa  tersentral. Demikian juga 99% rumah di Iran menikmati listrik –untuk  tidak menyebutkan 100%.</p>
<p>Melihat Iran seperti itu saya jadi teringat makna kata yang  ditempatkan di bagian paling tengah-tengah al Quran: Wal Yatalaththaf!</p>
<p>Bagaimana Iran ke depan? Mengapa setelah lebih 20 tahun diisolasi dan  diembargo Amerika Serikat Iran tidak kolaps seperti Burma, Korut atau  Kuba?</p>
<p>Banyak faktor yang melatar belakanginya. Pertama, saat mulai  diisolasi dulu kondisi Iran sudah cukup maju. Kedua, tradisi keilmuan  bangsa Iran termasuk yang terbaik di dunia. Ketiga, Iran penghasil  minyak dan gas yang sangat besar. Keempat, jumlah penduduk Iran cukup  besar untuk bisa mengembangkan ekonomi domestic. Kelima, tradisi dagang  masyarakat Iran sudah terkenal dengan golongan bazarinya.</p>
<p>Tradisi dagang itu tidak mudah dikalahkan. Pedagang selalu bisa  berkelit dari kesulitan. Ini berbeda dengan tradisi agraris. Seperti  Tiongkok, meski 60 tahun dikungkung oleh komunisme Mao Zedong yang kaku,  penduduknya tetap tidak lupa kebiasaan dagang. Demikian juga warga  Iran. Ini terbukti sampai sekarang pun. Setelah lebih 20 tahun diisolasi  pun sektor jasa masih menyumbang sampai 40% GDP negara itu.</p>
<p>Penduduk Iran yang 75 juta orang juga menjadi kekuatan ekonomi  tersendiri. Apalagi saat mulai diisolasi oleh Amerika tahun 80-an,  kondisi Iran sudah tidak tergolong negara miskin. Kelas menengah di Iran  sangat dominan. Inilah factor yang dulu membuat revolusi Islam Iran  tahun 1979 berhasil menumbangkan diktator Syah Pahlevi. Keberhasilan itu  disebabkan  masyarakat di Iran didominasi kaum bazari. Pedagang kelas  menengah. Yakni bukan konglomerat yang ketakutan ditebas penguasa, dan  bukan pedagang kecil yang takut kehilangan tempat bergantung.</p>
<p>Belum lagi kekayaan alamnya. Iran adalah negara kedua terbesar  penghasil minyak dan gas alam. Bukan hanya memiliki cadangan besar, tapi  juga mampu melakukan drilling dan pengolahan sendiri. Tidak ada lagi  ketergantungan akan teknologi  drilling dan pengolahan.</p>
<p>Salah satu sumber gasnya, yang baru saja ditemukan, akan membuat  negara itu kian berkibar. Di lepas pantainya, di Teluk Parsi, ditemukan  ladang gas terbesar di dunia. Ladang itu setengahnya berada di wilayah  Qatar dan setengahnya lagi di wilayah Iran.  Tahun 1999 lalu Qatar sudah  berhasil menyedot gas bawah laut itu dari wilayah Qatar. Kalau Iran  tidak menyedotnya dari wilayah Iran tentu semua gas itu akan disedot  Qatar. Karena itu Iran juga bergegas menyedotnya dari sisi timur. Tahun  2003 lalu Iran sudah berhasil menyedot gas itu dan akan terus  meningkatkan sedotannya. “Tiga tahun lagi kemampuan Iran menyedot gas  itu sudah sama dengan Qatar,” ujar CEO perusahaan gas di sana.</p>
<p>Untuk menggambarkan seberapa besar potensi gas itu baiknya dikutip  kata-kata CEO yang saya temui di atas. “Seluruh gas Iran di situ  harganya USD 12 triliun,” katanya. Ini sama dengan 12 kali seluruh  kekuatan ekonomi Indonesia yang USD 1 triliun saat ini. “Kalau gas itu  diambil dalam skala seperti sekarang baru akan habis dalam 200 tahun,”  tambahnya.</p>
<p>Gas itu letaknya memang 3.000 meter di bawah laut, namun dalamnya  laut sendiri hanya 50 meter. Secara teknis ini jauh lebih mudah  pengambilan gasnya daripada misalnya gas bawah laut Indonesia di Masela,  di laut Maluku Tenggara.</p>
<p>Memang masih ada kendala ekonomi yang mendasar. Defisit anggaran  masih menghantui, subsidi masih besar, laju inflasi masih tinggi dan  akses perdagangannya masih  terjepit oleh sanksi Amerika. Inflasi yang  tinggi itu akibat naiknya harga bahan makanan, gas dan BBM. Bahkan  akibat inflasi itu Iran harus mencetak mata uang dengan pecahan lebih  besar dari rupiah. Kalau pecahan rupiah paling besar Rp 100.000, real  Iran terbesar adalah 500.000 real (1 real hampir sama dengan Rp 1).  Bahkan ada juga real lembaran 1.000.000, meski penggunaannya hanya di  lingkungan terbatas.</p>
<p>Seperti Indonesia, Iran juga merencanakan menghapus empat nol di  belakang real yang terlalu panjang itu. Hanya saja penghapusan nol  tersebut baru akan dilakukan setelah inflasinya stabil kelak. Itulah  sebabnya pemerintah Iran kini mati-matian  memperbaiki fondasi  ekonominya. Tahun lalu parlemen Iran sudah menyetujui dilaksanakannya  “reformasi ekonomi”. Sebuah reformasi yang sangat penting dan mendasar.  Inti dari reformasi itu adalah menjadikan ekonomi Iran sebagai “ekonomi  pasar”. Artinya harga-harga harus ditentukan oleh pasar. Tidak boleh  lagi ada subsidi. Reformasi ekonomi itu ditargetkan harus berhasil dalam  lima tahun ke depan.</p>
<p>Begitu pentingnya reformasi untuk meletakkan dasar-dasar ekonomi Iran  itu, sampai-sampai Presiden Ahmadinejad berani mengambil resiko dihujat  dan dibenci rakyatnya dua tahun terakhir ini. Subsidi pun dia hapus.  Harga-harga merangkak naik. Ahmadinejad tidak takut tidak popular karena  ini memang sudah masa jabatannya yang kedua, yang tidak mungkin bisa  maju lagi jadi presiden.</p>
<p>Bahwa kini Iran memilih jalan ekonomi pasar sungguh mengejutkan.  Alasannya pun “sangat ekonomi”: untuk meningkatkan produktivitas  nasional dan keadilan sosial. Subsidi (subsidi BBM tahun lalu mencapai  USD 84 juta), menurut pemerintah, lebih banyak jatuh kepada orang kaya.  Karena itu daripada anggaran dialokasikan untuk subsidi lebih baik  langsung diarahkan untuk golongan yang berhak.</p>
<p>Pemikiran reformasi ekonomi seperti itulah yang tidak ada di  negara-negara lain yang diisolasi Amerika Serikat. Inilah juga faktor  yang membuat Iran tidak akan tertinggal seperti Burma, Kuba atau Libya.  Dengan bendera sebagai Negara Islam pun Iran tetap menjunjung tinggi  ilmu ekonomi yang benar. Tradisi keilmuan di Iran, termasuk ilmu  ekonomi, memang sudah tinggi sejak zaman awal peradaban. Inilah salah  satu bangsa tertua di dunia dengan peradaban Arya yang tinggi.</p>
<p>Dalam situasi terjepit sekarang pun, tradisi keilmuan itu tetap  menonjol. Iran kini tercatat sebagai satu di antara 15 negara yang mampu  mengembangkan nanoteknologi. Iran juga termasuk 10 negara yang mampu  membuat dan meluncurkan sendiri roket luar angkasa.</p>
<p>Di bidang rekayasa kesehatan, Iran juga menonjol: teknologi stemcell,  kloning dan jantung buatan sudah sangat dikenal di dunia. Bahkan untuk  stemcell Iran masuk 10 besar dunia.</p>
<p>Maka tidak heran kalau Iran juga tidak ketinggalan dalam penguasaan  teknologi perminyakan, pembangkit listrik dan otomotif. Jangankan jenis  teknologi itu, nuklir pun Iran sudah bisa membuat, lengkap dengan  kemampuannya memproduksi uranium hexaflourade yang selama ini hanya  dimiliki oleh enam negara.</p>
<p>AS kelihatannya berhasil membuat Burma, Korut, Kuba dan Libya  menderita dengan embargonya. Tapi tidak untuk Iran. Ke depan posisi Iran  justru kian baik, antara lain karena “dibantu” oleh Amerika Serikat  sendiri. Sudah lama Iran ingin menumbangkan Saddam Husein di Iraq, namun  selalu gagal. Perang Iran-Iraq yang sampai 8 tahun pun tidak berhasil  mengalahkan Saddam Husein. Iran tidak menyangka bahwa Saddam dengan  mudah ditumbangkan oleh AS.</p>
<p>Dengan tumbangnya Saddam Husein maka Iraq kini dikuasai oleh para  pemimpin yang hati mereka memihak Iran. Banyak pemimpin Iraq saat ini  adalah mereka yang di masa Saddam dulu terusir ke luar negeri, dan  mereka bersembunyi di Iran. Bahkan saat terjadi perang Iran-Iraq dulu,  mereka ikut angkat senjata bersama tentara Iran menyerbu Iraq.</p>
<p>Demokrasi yang diperjuangkan AS di Iraq telah membuat golongan  mayoritas berkuasa di Iraq. Padahal mayoritas rakyat Iraq adalah Islam  Syi’ah. Golongan Sunni hanya 40 persen, itu pun tidak utuh. Yang separo  adalah keturunan Arab sedang separo lagi keturunan Kurdi. Ada  kecenderungan keturunan Kurdi memilih berkoalisi dengan Syi’ah. Padahal  yang golongan Arab itu pun masih juga terpecah-pecah ke dalam berbagai  kabilah. Saddam Husein, misalnya, datang dari suku Tikrit yang jumlahnya  hanya sekitar 10% dari penduduk Iraq.</p>
<p>Dengan gambaran seperti itu maka masa depan hubungan Iran dan Iraq  tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menjadi amat mesra. Waktu yang  tepat itu adalah ini: mundurnya AS 100% dari Iraq. Dan itu tidak akan  lama lagi. Pekan lalu pimpinan Iraq sudah mengatakan “Iraq hanya perlu  bantuan militer untuk menjaga perbatasan, bukan untuk urusan dalam  negeri”.</p>
<p>Maka tidak lama lagi Iraq akan menjadi “negara ketiga” yang akan  mengalirkan barang dari dan ke Iran. Dan kalau ini terjadi, masih ada  gunanyakah Iran diisolasi?</p>
<p>Dahlan Iskan</p>
<p>CEO PLN</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ksupointer.com/ceo-note-12-mei-2011-ke-iran-setelah-20-tahun-diembargo-amerika/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>CEO Note 26 April 2011: Puasa Sebulan Tanpa Maaf Lahir Bathin</title>
		<link>http://ksupointer.com/ceo-note-26-april-2011-puasa-sebulan-tanpa-maaf-lahir-bathin</link>
		<comments>http://ksupointer.com/ceo-note-26-april-2011-puasa-sebulan-tanpa-maaf-lahir-bathin#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 05:17:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anida Etikawati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kutipan Internet]]></category>

		<category><![CDATA[CEO Note]]></category>

		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ksupointer.com/?p=42423</guid>
		<description><![CDATA[Bulan puasa datang terlalu cepat di PLN.  Mulai 1 Mei nanti orang-orang PLN sudah harus puasa: puasa SPPD. Satu  bulan penuh tidak akan ada biaya perjalanan dinas. Orang-orang PLN ingin  membuktikan bahwa SPPD bukanlah sumber mata pencaharian tambahan. SPPD  bukanlah perjalanan gratis untuk tujuan yang kurang penting. SPPD  bukanlah sumber [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bulan puasa datang terlalu cepat di PLN.  Mulai 1 Mei nanti orang-orang PLN sudah harus puasa: puasa SPPD. Satu  bulan penuh tidak akan ada biaya perjalanan dinas. Orang-orang PLN ingin  membuktikan bahwa SPPD bukanlah sumber mata pencaharian tambahan. SPPD  bukanlah perjalanan gratis untuk tujuan yang kurang penting. SPPD  bukanlah sumber pemborosan perusahaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu banyak juga yang tidak setuju  diberlakukannya “puasa SPPD” ini. Ada yang menggunakan alasan ilmiah,  ada juga yang sekedar emosional. Bahkan ada yang memperalat senjata anti  korupsi yang lagi digalakkan di PLN: puasa SPPD ini akan membuat  korupsi berkembang karena pada bulan Mei tidak ada pengawasan. Pokoknya  macam-macam alasan yang dikemukakan. Intinya ada yang keberatan bulan  Mei ditetapkan sebagai bulan tanpa SPPD. Untunglah mayoritas menyatakan  bangga bahwa PLN berani mencoba berbuat radikal dalam memperbaiki  dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak hikmah yang akan kita dapat dari  “puasa SPPD” sebulan penuh ini. Penggunaan teknologi telewicara akan  meningkat. Selama ini PLN sudah menyewa mahal teknologi telewicara tapi  jarang sekali dimanfaatkan. Banyak juga persoalan bisa diselesaikan  dengan email, tapi cara modern dan murah ini masih belum sepenuhnya  menjadi budaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di PLN ini terlalu banyak rapat. Dosa  terbesar dilakukan PLN Pusat. Undangan rapat dari PLN Pusat luar biasa  banyaknya. Bahkan sering tidak masuk akal. Rapatnya dua jam tapi  SPPD-nya bisa dua hari. Ini karena ketika menentukan jam rapat tidak  mempertimbangkan efisiensi SPPD. Misalnya saja mengundang rapat jam  09.00. Peserta yang dari luar Jakarta mau tidak mau sudah datang sehari  sebelumnya. Ada juga persoalan “siapa” mengundang “siapa”. Terlalu  banyak pejabat yang mengundang pejabat lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang agak gila juga penetapan “puasa  SPPD” ini. Misalnya bagaimana kalau terjadi bencana, katakanlah, ada  tower yang roboh. Masak, sih, tidak ada SPPD? Khusus untuk yang satu ini  Direksi berdebat panjang. Semula ada keinginan agar “untuk hal-hal yang  emergensi akan ada pengecualian”. Tapi pendapat ini lemah karena di  negeri ini terlalu gampang menetapkan yang kurang emergensi menjadi  sangat emergensi. Lalu ada pikiran “untuk hal-hal yang luar biasa bisa  minta dispensasi”. Ini pun dianggap lemah karena akan menimbulkan  administrasi birokrasi yang ruwet. Maka, akhirnya ditetapkan: tidak ada  pengecualian, tidak ada dispensasi, tidak ada toleransi. Semua itu  dianggap godaan yang harus dilawan. Sekali pemimpin tidak tahan akan  godaan, maka godaan-godaan berikutnya akan menyusul. Bahkan, kemudian,  terhadap godaan yang kecil pun tidak akan tahan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tahan godaan” inilah yang menjiwai sikap  “puasa SPPD” secara konsisten. Tentu ada korbannya. Salah satu korban  itu adalah saya sendiri. Beberapa bulan lalu, jauh sebelum keputusan  “puasa SPPD” ini ditetapkan saya sudah menyetujui diadakannya konferensi  internasional meteran listrik di Bali di bulan Mei. Acara ini adalah  acara tahunan dan tuan rumahnya berganti-ganti. Tahun ini Indonesia yang  jadi tuan rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu harus ada orang PLN yang pergi ke  Bali. Termasuk harus ada orang PLN yang jadi panitianya. Inilah godaan  setan paling nyata yang langsung menimpa saya. Adalah salah saya mengapa  menyetujui acara itu. Mengapa saya tidak minta jauh-jauh hari agar  acara itu digeser sebulan. Mengapa tidak memindah acara itu di Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi nasi sudah menjadi sushi. Acara itu  sudah terlalu dekat sehingga tidak mungkin diapa-apakan. Maka dalam  Rapat Direksi di Pangandaran akhir April lalu saya menyatakan bahwa  semua biaya orang PLN yang ke acara itu akan saya tanggung secara  pribadi. Beres.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata belum. Ada kejadian lain yang  juga membawa korban. DIROP Indonesia Timur, Pak Vickner Sinaga,  mengemukakan bahwa pertengahan Mei itu ada proyek yang harus  disertifikasi. Ini juga buah simalakama. Tidak disertifikasi berarti  pemanfaatkan proyek tertunda. Disertifikasi berarti harus mengundang  orang jasa sertifikasi ke lokasi yang berarti harus ada SPPD.</p>
<p style="text-align: justify;">Mau tidak mau si malakama membawa korban.  Orang Minang memang bisa menyelesaikan problem buah yang satu ini  dengan cerdas. Kalau dimakan mati ibu dan tidak dimakan mati ayah, maka  orang Minang memutuskan untuk menjual saja buah itu: tidak ada yang  perlu mati, bahkan bisa mendapatkan uang. Namun dalam kasus sertifikasi  ini harus ada yang mati. Pak Vickner harus menanggung secara pribadi  biaya mendatangkan orang Jaser itu ke lokasi. Kebetulan Pak Vickner  punya restoran masakan Batak yang sangat maju di Balikpapan. Anggap saja  ini zakatnya!</p>
<p style="text-align: justify;">Adilkah Pak Vickner harus menanggung  “dosa” ini? Menurut saya adil. Sebab proyek itu mestinya sudah selesai  bulan-bulan sebelumnya. Kalau saja proyek itu tidak terlambat, tentu  pensertifikasiannya bisa dilakukan di bulan April.</p>
<p style="text-align: justify;">Hikmah lain yang ingin kita dapatkan  adalah ini: seberapa sudah majunya proses manajemen di PLN. Manajemen  yang baik tentu yang bisa mengatasi persoalan ketika persoalan itu  muncul. Manajemen yang baik adalah yang juga baik sejak dari  perencanaannya. Bulan tanpa SPPD ini sudah diputuskan tiga bulan  sebelumnya. Kalau pun saat itu semua jenjang manajemen melakukan proses  manajemen yang baik tentu antisipasinya sudah dilakukan dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka menjelang datangnya bulan puasa SPPD  ini saya mengucapkan selamat berpuasa. Ini puasa yang benar-benar puasa  karena setelah sebulan berpuasa nanti tidak akan datang yang namanya  hari raya! Mohon maaf lahir bathin!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dahlan Iskan</p>
<p style="text-align: justify;">CEO PLN</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ksupointer.com/ceo-note-26-april-2011-puasa-sebulan-tanpa-maaf-lahir-bathin/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>CEO Note 29 Maret 2011: Damage(s) Itu!</title>
		<link>http://ksupointer.com/ceo-note-29-maret-2011-damages-itu</link>
		<comments>http://ksupointer.com/ceo-note-29-maret-2011-damages-itu#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 05:15:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anida Etikawati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kutipan Internet]]></category>

		<category><![CDATA[CEO Note]]></category>

		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ksupointer.com/?p=42420</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya kali ini saya ingin bicara  empat hal mendasar untuk PLN.  Empat-empatnya merupakan kelemahan pada  umumnya BUMN namun lebih khusus  lagi di PLN.  Pertama, tidak nyambungnya  proses pengadaan dengan  tuntutan pelayanan sehingga prinsip customer oriented hanya menjadi doktrin formal yang tidak bisa diimplementasikan dengan sesungguh-sungguhnya.
Kedua, perlakuan yang kurang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya kali ini saya ingin bicara  empat hal mendasar untuk PLN.  Empat-empatnya merupakan kelemahan pada  umumnya BUMN namun lebih khusus  lagi di PLN.  Pertama, tidak nyambungnya  proses pengadaan dengan  tuntutan pelayanan sehingga prinsip <em>customer oriented</em> hanya menjadi doktrin formal yang tidak bisa diimplementasikan dengan sesungguh-sungguhnya.</p>
<p>Kedua, perlakuan yang kurang adil  terhadap sebuah ide. Ide-ide besar  cenderung diperlakukan sama dengan  ide-ide kecil sehingga jarang  sekali terobosan besar bisa dilakukan.</p>
<p>Ketiga, tidak diperhitungkannya secara nyata prinsip <em>opportunity losses</em> dalam <em>action </em>program. Inilah yang membuat gerak BUMN, termasuk PLN, sangat lamban.</p>
<p>Yang keempat, tidak di-<em>value</em>-kannya  damages. Yang keempat  inilah yang menyebabkan kita sulit membangun  citra yang bagus untuk  PLN. Saya menjadi maklum mengapa citra PLN begitu  “hancur beras  kencur”. Ini karena pembangunan citra hanya menjadi  program bagian  pembangun citra, yang dengan cepat terusakkan oleh bagian  lainnya. Ini  ibarat Iyut mengawini Joko Sembung –tidak nyambung.</p>
<p>Barangkali yang nomor empat itu dulu  yang sempat dikemukakan di  forum pendek ini. Tiga yang lain bisa dibahas  di kesempatan lain –kalau  memang dianggap menarik.</p>
<p>Renungan ini bermula dari kasus  tiba-tiba terjadi defisit listrik di  sistem Jawa. Yakni ketika  pembangkit listrik tenaga air Saguling dan  Cirata yang biasanya mampu  memproduksi 1.000 MW itu tiba-tiba anjlok.  Tinggal mampu memproduksi 400  MW. Tiba-tiba saja PLN kehilangan 600 MW.  Berhentinya hujan beberapa  hari di pedalaman Jabar menyebabkan dua  PLTA itu kekurangan air.</p>
<p>Saya tidak tahu peristiwa itu kalau saja  tidak bermalam di Bogor  untuk menghadiri rapat di Istana Bogor.  Pagi-pagi ketika saya jalan  pagi bersama teman-teman PLN Bogor di Kebun  Raya saya mendapat cerita  bahwa jatah listrik Bogor dikurangi 60 MW.  Pemadaman bergilir terpaksa  dilakukan. Demikian juga <em>brown out</em>.</p>
<p>Dari sinilah baru saya tahu mengapa  banyak pengaduan mati lampu  masuk ke SMS saya. Bukan hanya banyak  jumlahnya tapi juga luas wilayah  cakupannya. Praktis dari seluruh Jawa.  Bukan hanya dari kota-kota  besarnya tapi sampai nun di kota-kota kecil.  Bahkan ketika tampil di  acara Bukan Empat Mata bersama Tukul di Trans7  bulan lalu seorang artis  mengeluh kepada saya. Tentu keluhannya  dikemukakan di saat <em>off-take</em>,  ketika di layar TV sedang  ditampilkan iklan-iklan yang banyak itu.  Penyanyi dangdut itu  mengemukakan bahwa belakangan itu tegangan di  rumahnya (listrik,  maksudnya) sangat jelek.</p>
<p>Saat menerima keluhan itu saya sempat  ngotot bahwa tidak mungkin di  Jakarta ini ada masalah tegangan. Saya  sampai menyalahkan jangan-jangan  ada instalasi yang tidak beres di  rumahnya. Seperti yang dialami  seorang warga Jakarta yang menulis di  surat pembaca di Kompas dengan  nada yang amat keras itu. Ketika petugas  PLN  mendatangi rumah penulis  surat pembaca itu, ternyata ditemukan  bukan PLN yang salah melainkan  dia sendiri: dia memasang trafo kecil  untuk stabilitasi tegangan di  rumahnya dan alat itulah yang rusak.  Karena itu hanya rumah dia yang  tegangannya kacau. Peralatan  elektroniknya banyak yang rusak dan  marahlah dia dengan kemarahan begitu  besar seperti yang bisa kita baca  di surat pembaca.</p>
<p>Tapi si artis dangdut di acara Bukan  Empat Mata ini ngotot tidak  memiliki peralatan seperti itu di rumahnya.  Dia juga mengemukakan bahwa  keluhan yang sama dialami para tetangganya.  “Satu kampong tegangannya  kacau,” katanya. Begitu ucapan yang terakhir  itu dikemukakan barulah  saya lemas. Ini pasti karena dilakukan <em>brown out</em> untuk menutupi  defisit listrik di Jawa akibat turun drastisnya produksi  listrik  tenaga air di Saguling-Cirata tersebut. Ternyata benar. Setelah  saya  cek keesokan harinya, memang, sudah seminggu itu terpaksa  dilakukan  pemadaman bergilir. Juga <em>brown out</em> di mana-mana.</p>
<p>Tidak ayal bila pengaduan dari kota-kota  kecil pun sangat banyak.  Apalagi selama ini ada doktrin kalau terjadi  defisit listrik seperti  itu daerah-daerah kecil yang dikorbankan lebih  dulu. Seolah-olah  daerah-daerah itulah yang boleh diperlakukan tidak  adil. Seolah-olah  daerah pinggiran itulah yang pantas dipinggirkan. Saya  semakin yakin  terhadap defisit itu setelah menghubungi semua pimpinan  wilayah di  Jawa. Mereka juga merasa sumpek. Tapi tidak berdaya.  Pembangkitan bukan  wilayah mereka. Mereka hanya bisa menjalankan  perintah penjatahan  defisit yang sampai 400 MW itu.</p>
<p>Untunglah kita punya Direktur Operasi  yang cekatan. Begitu saya  kemukakan defisit  ini harus dihentikan  ternyata bisa ditemukan jalan  keluar. Hari itu juga. Pemadaman bergilir  dan <em>brown-out</em> bisa  diakhiri. Ditemukanlah cara ini: para  pimpinan wilayah distribusi  diminta meloby para pemilik pembangkit  besar. Mereka diminta  menghidupkan pembangkitnya di saat beban puncak.  Tentu dengan resiko  finansial ditanggung PLN.</p>
<p>Kalau saja cara ini tidak ditemukan saya  tidak tahu lagi betapa  hancurnya citra PLN. Sebab defisit listrik ini  ternyata berlangsung  lama. Defisit ini baru teratasi pertengahan Maret  2011, yang berarti  sebulan penuh. Bukan karena hujan tiba-tiba deras di  pedalaman Jabar,  namun karena semua lini di PLN bekerja dengan amat  keras dan  menegangkan. Bayangkan kalau pemadaman bergilir dan <em>brown out</em> itu berlangsung selama satu bulan penuh. Alangkah hancurnya nama PLN. Bisa-bisa dunia terasa kiamat kembali.</p>
<p>Pelajaran terbaik dari mini-krisis ini  adalah: semua masalah  ternyata selalu bisa ditemukan jalan keluarnya.  Asal dipikirkan  sungguh-sungguh dan dikerjakan mati-matian. Tentu saja  melelahkan dan  menegangkan. Tapi hasilnya sungguh nikmat. Misalnya para  GM se Jawa  harus mengerahkan tenaganya untuk mencari pelanggan di  wilayah  masing-masing yang memiliki pembangkit sendiri. Toh pekerjaan  ini tidak  terlalu memalukan. Teman-teman wilayah tidak harus mengemis  dan  mengiba. Mereka bisa melakukannya tetap dengan gagah: kita tanggung   biaya kemahalannya. Kita harus mengucapkan terima kasih punya GM yang   handal seperti Bung Taufik Haji di Jabar, Bung Denny Pranoto di Jateng,   Bung Haryanto di Jatim dan Bung Sulastyo di Jakarta.</p>
<p>Kita juga bangga punya KDIV Konstruksi  dan IPP seperti Bung Henky  Heru Basudewo. Dia membangun sistem  komunikasi grup messenger di  blackberry yang sangat efektif. Dari situ  saya bisa memonitor betapa  Bung Henky menguber-uber semua kepala proyek  dan manajer pembangkitan  di unit-unit di bawahnya. Mereka didorong untuk  bergegas mengupayakan  tambahan daya menambal defisit segera. Setiap jam  5 pagi masing-masing  pimpinan unit sudah diabsen mengenai kemajuan  pembangkitnya.  Lalu-lintas sms di grup messenger itu begitu padat dan  menegangkan.  Begitu banyak persoalan: pipa bocor, kandungan gas yang  memburuk, <em>water outlet</em> yang pecah, tenggorokan <em>coal feeder</em> yang tersedak, banyaknya barang yang harus segera dipasang tapi masih   terbelit masalah di bea cukai, mie instan dan bir yang masuk container   dan seterusnya. Saya kira inilah model handling proyek yang sangat ideal   dan perlu ditiru. Bahwa di situ ada dua nama yang sama ditemukan pula   cara untuk membedakannya. Kalau tidak kita bisa bingung karena dua  Henky  ini sama-sama jagoannya. Kalau di BB itu kita baca tulisan Henky,  itu  berarti Henky Heru Basudewo. Disingkat HHB, tapi kadang ada yang  nakal  menulis BH-2. Kalau di messenger itu kita baca nama HenkQ, yang  dimaksud  adalah Hengky Wibowo.</p>
<p>Dari upaya mengatasi defisit ini bisa  ditarik kesimpulan bahwa  doktrin tidak ada yang tidak bisa kembali  menemukan kebenarannya. Kita  ternyata bisa menemukan cara untuk  mengatasi defisit yang begitu besar  yang datang tiba-tiba. Kita menjadi  terbiasa berpikir keras dan bekerja  keras. Bayangkan, kalau misalnya  cara mudah dan cara gampang yang kita  tempuh pastilah jalan ini yang  dilakukan: jatahkan saja defisit itu  tiap cabang harus defisit berapa  MW, kalau pun  pemadaman bergilir itu  belum cukup tambahkan saja bumbu <em>brown-out</em>!</p>
<p>Padahal dengan cara kuno itu akan  terjadi bencana. Dengan cara  seperti itu terjadilah apa yang disebut  “damage(s)”. Kerusakan. Damage  (s) terhadap  kehandalan listrik Jawa.  Juga terjadilah “damage(s)” di  bidang pelayanan kita.  Akibat dari  “damage(s)” itu seolah-olah kerja  keras, keras sekali itu, yang selama  setahun penuh dilakukan oleh  teman-teman distribusi seperti tidak ada  artinya lagi. Mendingan tidak  perlu bekerja keras yang sampai  ngos-ngosan selama setahun seperti itu  kalau ujung-ujungnya rusak oleh  “damage(s)” seperti itu.</p>
<p>Kesadaran menghindari “damage(s)” inilah  yang akan menjadi perhatian  kita bersama ke depan. Di perusahaan yang  sudah memiliki “agama” <em>customer oriented</em>,  ritual menghindari  “damage(s)” seperti itu sudah otomatis, seperti  orang sembahyang lima  waktu. Inilah yang belum terjadi di PLN. Memang  istilah <em>customer oriented</em> sudah diajarkan begitu sering di PLN, tapi kelihatan sekali bahwa doktrin <em>customer oriented</em> itu masih tergolong “<em>customer oriented</em> KTP”. Atau “<em>customer oriented</em> bibir”. Atau “<em>customer oriented</em> udiklat”.</p>
<p>Dalam <em>customer oriented</em> KTP,  pelanggan hanyalah urusan  bagian pelayanan pelanggan. Belum menjadi  urusan bagian-bagian lain di  sekitarnya, apalagi bagian-bagian lain di  hulunya.</p>
<p>Untunglah kita bisa berubah. Dengan  praktik yang baru saja kita  lakukan bersama (dalam upaya mengatasi  krisis-mini defisit daya  baru-baru ini), kita telah berhasil  mempraktekkan secara total doktrin “<em>customer oriented</em>” secara kaffah! Mulai dari distribusi, transmisi, P3B, pembangkitan, energi primer sampai ke proyek-proyek. Semuanya <em>all-out</em> dan fokus ke customer kita yang lagi terancam.</p>
<p>Diam-diam kita ternyata baru saja lulus ujian.</p>
<p>Kita ternyata bisa dan mampu menjalankan doktrin <em>customer oriented</em> secara sempurna. Kita tinggal menggelindingkannya model ini ke dalam sistem dan ke dalam budaya perusahaan. Pelan-pelan.</p>
<p>Inti lain dari doktrin <em>customer oriented</em> adalah kesadaran  akan nilai “damage”. Anda tidak perlu mencari  literatur apa yang  mengatakan ini, karena mungkin memang belum ditulis.  Cobalah ingat.  Kalau untuk setiap prestasi kita bisa membukukan nilai  plus dan  kemudian bisa merupiahkannya dalam bentuk P-3 yang kuantitasnya  sangat  nyata, tentu  seharusnya kita juga bisa mem “<em>value</em>” kan damage (s) itu.</p>
<p>Memberi nilai terhadap damage(s) menjadi  sangat penting karena kita  harus melakukan apa yang disebut dalam  literatur sebagai “damage(s) <em>recovery</em>”.  Kita semua tahu untuk  menyembuhkan sakit yang nilainya 5, tidak cukup  disembuhkan dengan obat  yang nilainya 5. Setiap kali kita menyakitkan  hati orang dengan nilai  kesakitan 5, kita harus menghiburnya dengan  hiburan paling tidak  bernilai 8.</p>
<p>Saya belum memikirkan berapa kira-kira nilai kerusakan akibat pemadaman bergilir dan <em>brown out</em> selama seminggu di Jawa bulan lalu. Ini karena fokus kita masih pada   bagaimana agar damage(s) itu berakhir. Setelah “damage(s) itu kini   berakhir memang ada baiknya kita mencoba mem “<em>value</em>” kan di tingkat berapa kira-kira damage(s) tersebut. Lalu kita bisa memutuskan jenis <em>recovery</em> apa yang nilainya bisa jauh lebih besar dari nilai damage(s) tersebut.</p>
<p>“Tidak lagi defisit”, “tidak lagi ada pemadaman bergilir”, “tegangan sudah stabil karena tidak ada lagi <em>brown out</em>”   adalah belum termasuk yang bisa disebut “damage (s) recovery”. Ini   perlu kita ingat karena orang sering lupa bahwa kalau sebuah persoalan   itu berhasil diselesaikan dianggap sudah selesai. Padahal dia masih   meninggalkan damage(s) yang harus disembuhkan. Kita bukan saja harus   menyembuhkan lukanya, tapi harus sampai memulihkan bekas lukanya!</p>
<p><em>Brown-out :  penurunan tegangan di gardu induk untuk menghindari/meminimalisir pemadaman </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Dahlan Iskan</em></p>
<p><em>CEO PLN</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ksupointer.com/ceo-note-29-maret-2011-damages-itu/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

