Gula yang Raib
Ayah baik kepada semua orang. Walaupun begitu, beliau bisa marah atas jawaban-jawaban yang tak logis dan cenderung bersifat “tolol”, meskipun untuk mendidik orang yang bersangkutan, bisa juga Ayah memberikan jawaban yang serupa sifatnya.
Saya ingat peristiwa ketika kami sekeluarga berakhir minggu di Megamendung. Seminggu sebelumnya, kami juga sudah ke sana, sehingga pada waktu itu ibu telah melengkapi kebutuhan bahan makanan dan alat rumah tangga untuk minggu berikutnya, agar tidak perlu kami repot dua kali dengan bawaan kami. Ternyata pada minggu berikutnya itu, tak ada gula untuk minum teh sore.
Kami mempunyai penjaga villa bernama Pak Suli yang telah bekerja pada Ayah sejak tahun 1957. Ia seorang yang tampaknya lugu, tak berdaya, tetapi sebenarnya banyak akal. Kepada Pak Suli inilah Ibu bertanya, “Suli, mana gulanya?”
Dengan logat Sundanya ia menjawab, “Oh…. itu…. dibuang, sebab dikotori kacoa!”
“Ditaruh di mana?” tanya Ibu lagi. “Di dalam tempat gula,” jawabnya dengan keyakinan.
“Akh, omong kosong! Mana bisa kakkerlak (kecoa) bikin gula kotor di tempatnya yang tertutup?” bentak Ayah yang tak suka dengan jawaban yang tak logis.
Pak Suli diam saja dengan menunjukkan wajah yang memelas dan tanpa dosa. Kalau sudah begitu, percuma saja Ayah atau Ibu mau marah lebih lanjut.
Meutia Farida Swasono, Pribadi Manusia Hatta, Seri 2, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply