Gus Dur: Persekutuan Betina
Pengalaman ini terjadi ketika Gus Dur duduk sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Beberapa koleganya, seperti Dr. Tuti Herati Nurhadi, mengajaknya mendirikan organisasi perempuan. “Lho, kok saya?” Gus Dur bertanya-tanya dalam hati. Meski demikian Gus Dur tetap hadir dalam forum yang dipersiapkan untuk berdirinya sebuah kaum Hawa tersebut.
Hanya saja dalam forum itu, pembicaraan tentang pemilihan kata ’perempuan’ tidak mencapai kata sepakat. Sebab bila menggunakan kata perempuan, empu itu artinya laki-laki, sementara kalau menggunakan kata wanita, artinya seperti geisha dalam bahasa Jepang yang artinya penghibur. Demikian pula pembicaraan mengenai sebutan untuk organisasinya, kalau menggunakan perhimpunan, berarti ada yang menghimpun, perserikatan berarti ada yang memikat, dan perkumpulan, berarti ada yang mengumpulkan.
Daripada bicara ke sana-kemari tidak ada ujungnya, maka Gus Dur pun ikut bicara,”Bagaimana kalau dilihat dari sudut fungsi dan kodrat biologisnya. Maka yang cocok adalah menggunakan persekutuan, ya arena itu lalu jadi ’kutu’. Sedang dilihat dari gender-nya, secara teorikis yang tepat adalah betina,” kata Gus Dur. (Jadi, persekutuan betina, Gus?!).
Sumber: Buku “Presiden Dur yang Gus itu”
Leave a Reply