Hubungan Bandaneira – Digul Putus
Sebelum Jepang menyerang Indo-China dan Muangthai, Dr. Tjipto Mangunkusumo dipindahkan ke Makassar. Drs. Mohammad hatta dan Bung Sjahrir dipindahkan ke Sukabumi dari Bandaneira.
Dengan sendirinya, hubungan Bandaneira-Digul putus. Dengan sendirinya pula hubungan antara Bung Hatta dengan kawan-kawannya yang masih tinggal di Digul, termasuk hubungan dengan saya, samasekali tidak ada lagi.
Jepang dengan ganas melanjutkan serangannya ke Pearl Harbour, ke Filipina, Malaysia, dan Indonesia.
Orang buangan di Digul diungsikan, semula sebanyak 375 orang beserta keluarga, ke Muting dekat Sungai Fly, di sebelah selatan, dekat perbatasan dengan Australian New Guinea dan ada pula yang ke Merauke.
Pada tanggal 3 Mei 1943, kami seluruhnya dipindahkan lagi ke Australia, dimasukkan ke dalam Camp Cowra, di daerah pegunungan Sydney yang berhawa dingin sebagai tawanan perang. Hal ini menimbulkan konflik besar dengan Dr. Van der Plas. Kami dimenangkan oleh pemerintahan Australia, dan dibebaskan. Tetapi tetap dibelanjai oleh Netherlands Indies Commission.
Waktu tentara pendudukan Jepang sedang berkuasa di Indonesia, kami sama sekali tidak mengetahui nasib rakyat dan nasib Indonesia, terutama mengenai nasib pemimpin-pemimpin besar, seperti Dr. Tjipto Mangunkusumo, Mohammad Hatta, Soekarno, dan Sjahrir.
Bermawy Latief, Pribadi Manusia Hatta, Seri 6, Yayasan Hatta, Juli 2002.
Leave a Reply