Jadual Belajar
Seperti juga orang tua lain, maka orang tua kami tentu saja menginginkan agar kelak di kemudian hari anak-anak dapat meneruskan nama baik orang tuanya, dan agar kelak dapat menjadi orang yang berguna, atau dengan istilah “agar menjadi orang”. Wajar bila mau mencapai sesuatu, maka jalan menuju ke arah tersebut sudah harus dipersiapkan semenjak masa kanak-kanak.
Ayah adalah orang yang terkenal akan kedisiplinannya, tetapi di dalam rumah tangga, Ayah tidak pernah memberikan suatu indoktrinasi tentang bagaimana dan apa disiplin itu. Ayah lebih banyak bersikap memberi contoh, sehingga mau tidak mau kami pun agak terpengaruh oleh perbuatan Ayah tersebut. Bilamana kami mengatakan akan kembali dari pesta pada jam sepuluh malam, maka biasanya kami tidak pernah berani melewati jadwal waktu yang telah kami ucapkan sendiri. Rasanya kami tidak tega untuk mengecewakan perasaan orang tua yang mencintai kami, oleh karena itu kami berusaha agar berlaku yang sebaik-baiknya.
Mengenang masa pendidikan kami di kala kanak-kanak, kami ingat betul bahwa Ayah maupun Ibu tidaklah pernah menjadwalkan acara belajar kami. Paling tidak, orang tua hanyalah menyarankan bahwa kami boleh bermain bilamana pekerjaan rumah kami sudah selesai.
Pada suatu hari, saya pernah menghadap Ayah dan menunjukkan rencana belajar saya yang secara ketat. Saya susun sendiri sebagai persiapan belajar menjelang ulangan umum.
Saat itu Ayah menelitinya dengan cermat, akhirnya ayah menasihati saya, “Gemala kurang beristirahat, tampaknya tidak ada keseimbangan antara kerja berat menghafal dan istirahat. Coba agak diubah dan tunjukkan kembali pada Ayah!” Akhirnya setelah saya ubah, barulah ayah mengatakan setuju.
Saya menilai, bahwa ayah tidak setuju jika orang terlampau rajin tetapi tidak memperhatikan kesehatan badannya. Ayah juga menasihati bahwa manusia tidak akan mampu terus-menerus memeras otak, tanpa waktu istirahat yang seimbang. Bila ingin mendapat hasil yang maksimal maka masalah kerajinan dan kesehatan haruslah dibuat seimbang. Atas hal ini, Ayah memang betul-betul ’satunya kata dengan perbuatan’. Kehidupan Ayah yang terus-menerus bersifat meneladani, menunjukkan bukti nyata.
Gemala Rabi’ah Chalil Hatta, Pribadi Manusia Hatta, Seri 2, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply