Kalau Antibiotik Lupa Diminum
Saat memberi resep antibiotik, biasanya dokter akan menuliskan berapa kali seorang pasien harus mengonsumsinya dalam waktu sehari. Ada yang cukup sekali saja, ada pula yang harus 3-4 kali sehari.
Idealnya, waktu untuk meminum antibiotik adalah sama. Frekuensi tiga kali sehari berarti antibiotik diminum setiap 8 jam sekali. Tengah malam pun kalau memang jadwalnya untuk minum antibiotik ya harus bangun. Itu yang ideal.
Kesulitan bisa timbul kalau antibiotik harus dikonsumsi setelah makan. Menjadi sulit karena jam makan bisa berbeda-beda waktunya. Jika sarapan pada pukul 07.00, makan siang pukul 12.00, dan makan malam pukul 19.00, berarti jarak antara konsumsi obat berbeda-beda. Ada yang jaraknya pendek, ada pula yang panjang.
Namun, kebanyakan antibiotik disarankan dikonsumsi sebelum makan agar penyerapannya lebih baik. Kecuali beberapa jenis antibiotik yang bisa menimbulkan iritasi, seperti golongan kuinolon untuk infeksi saluran pernapasan atas atau infeksi saluran kemih. Antibiotik golongan tersebut menimbulkan mual, sehingga biasanya disertai dengan obat omephazole.
Bagaimana kalau pasien lupa mengonsumsi obat antibiotik? Obat yang mestinya diminum tiga kali sehari, hanya diminum dua kali saja? Menyikapi hal ini, dr. Hudyono, MS, Sp.OK, membolehkan antibotik diminum dua tablet pada waktu berikutnya.
“Boleh dosisnya dobel selama efek samping obat tersebut ringan dan lupanya tidak terus-menerus. Dan yang pasti, antibiotik diminum pada hari yang sama atau tidak lebih dari 24 jam,” kata staf pengajar dari FK Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta ini.
Penggunaan dosis ganda ini harus hati-hati, sebaiknya atas saran dokter. Yang jelas, sangat tidak dianjurkan untuk terus-terusan menggandakan dosis obat. Sebab, semakin sering lupa, efektivitas obat akan menurun.
Belum lagi kemungkinan efek samping yang mungkin muncul, seperti lambung terasa perih bahkan timbul diare. Diare merupakan salah satu efek samping bila mengonsumsi antibiotik berlebihan.
Kalau enggan menggandakan dosis, lupakan saja satu antibiotik yang tidak dikonsumsi itu. Hanya saja, perlu diingat bahwa efikasinya juga bakal menurun meski tak terlalu banyak karena batasannya masih dalam rentang toleransi.
Namun, bila dibandingkan dengan pasien yang teratur minum antibiotika hasilnya jauh lebih baik pasien yang teratur minum obat.
Sumber: http://health.kompas.com/read/2010/11/13/11472768/Kalau.Antibiotika.Lupa.Diminum
Leave a Reply