Kepada Kawan
Penglihatan saya mengenai Bung Hatta sebagai kepala keluarga, saya harus katakan bahwa apa yang saya kemukakan adalah pengamatan dari jauh.
Sebagai kepala keluarga beliau mempunyai pegangan yang kokoh, yaitu kehidupan beragama. Cerminan kehidupan beragama dapat dilihat pada cara beliau mengatur tata hidup sehari-hari. Selain beliau tekun menjalankan ibadat sesuai dengan ajaran Islam, beliau pun menunjukkan kesederhanaannya.
Kepentingan material bagi beliau tampaknya bukan tujuan utama dalam hidupnya. Cita-cita hidup baik dan teratur lebih diutamakan. Pandangan beliau terhadap kehidupan beragama sungguh luas. Toleransi beliau terhadap agama-agama lain yang dianut rakyat kita tampak jelas. Pernah saya mendengar ucapan beliau bahwa setiap umat beragama, apa pun agamanya, menyembah Tuhan yang satu, Tuhan Yang Maha Esa. Itulah sebabnya tiap orang yang berlainan agama oleh beliau diladeni secara sama dalam pergaulan ataupun dalam pertemuan sehari-hari. Pegangan hidup beragama tampaknya oleh Bung Hatta ditanamkan dalam tata hidup keluarga Hatta.
Begitu pula cara hidup beliau yang dikenal cermat dan teratur tampaknya tertanam pula dalam pergaulan rumah tangga. Meskipun demikian, beliau sering juga menunjukkan toleransi beliau dengan maksud menggembirakan keluarganya.
Pada suatu hari sekadar untuk menunjukkan kesetiakawanan saya terhadap Bu Rachim dan Bu Rahmi, saya mengundang mereka makan di restoran kecil, tentunya putri-putri Bung Hatta pun diundang. Bung Hatta sendiri yang dikenal serius dan tidak begitu “doyan” makan di restoran, artinya makan sekadar untuk makan, tidak berani saya mengundangnya.
Akan tetapi ketika Bu Rahmi bercerita kepada Bung Hatta mengenai undangan saya itu, reaksi beliau adalah di luar dugaan. Spontan beliau ingin pula ikut serta makan bersama. Sudah barang tentu saya bukan saja merasa gembira, tetapi lebih merasa terhormat. Saya dapat menduga bahwa kesediaan beliau ikut bersama-sama kami bersantap di restoran sederhana itu adalah disebabkan toleransi beliau untuk menggembirakan kami semua.
Dalam rangka pembinaan persahabatan, Bung Hatta selalu menunjukkan perhatian terhadap peristiwa-peristiwa suka ataupun duka yang dialami oleh sahabat atau kenalan beliau. Pada tahun 1979 Bung Hatta diberitakan kesehatannya banyak terganggu. Di bulan April 1979, tepatnya tanggal 24 April 1979, saya mengawinkan anak saya. Peristiwa penting bagi keluarga saya itu saya beritakan kepada keluarga Hatta. Yang saya harapkan hanyalah doa restu Bung Hatta dan Ibu Hatta. Bung Hatta tidak saya harapkan datang pada resepsi, mengingat keadaan kesehatan beliau. Akan tetapi apa yang terjadi? Bung Hatta beserta Bu Hatta datang pada resepsi pernikahan anak saya itu.
Tampak sekali perhatian Bung Hatta terhadap hubungan kekeluargaan antara Bung Hatta di satu pihak, dan keluarga kami di pihak lain.
Melihat Bung Hatta naik-turun tangga di Gedung Wanita Kuningan dengan harus dipapah, kami sekeluarga sungguh terharu. Ini sekadar contoh kecil yang menunjukkan betapa besar hasrat Bung Hatta untuk membina persahabatan antara sesama manusia.
Ny. D Walandouw, Pribadi Manusia Hatta, Seri 9, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply