Kesedihan Itu Sebuah Kehormatan
“Sedikit jumlah manusia yang memiliki pengalaman tangan pertama diterjang badai ganas kehidupan. Lebih sedikit lagi yang mau menempatkan badai ganas tadi sebagai vitamin-vitamin kehidupan.”
Aceh, itulah sebuah tempat yang amat merobek-robek hati nurani di akhir 2004 dan di awal 2005. Bagaimana tidak merobek, menyusul gempa besar gelombang tsunami menghempas demikian dahsyatnya. Untuk kemudian menghempas apa saja di depan gelombang lautan tanpa memilih-milih. Di depan kuasa alam seperti ini, apa pun yang dimiliki manusia-dari kekayaan, pengetahuan, kearifan, sampai dengan kecongkakan-seperti tidak berarti apa-apa. Melihat tayangan-tayangan gambar di televisi, koran, majalah, internet, semuanya berujung pada yang satu: hati yang tersobek-sobek. Apa pun jawaban manusia dalam hal ini, dari marah, geram, dendam sampai dengan ikhlas total, tetap tidak bisa cepat mengubur emosi-emosi hati.
Ada teman yang menangis, ada sahabat yang bertobat, ada rekan yang baru sadar pentingnya bersembahyang.
Mereka yang memiliki uang menyumbangkan uang, mereka yang memiliki barang berbagi barang, mereka yang hanya punya tenaga juga berangkat ke sana berbagi tenaga, mereka yang memiliki radio menggunakan radionya untuk memompa semangat sahabat-sahabat di Aceh, demikian juga televisi hampir semuanya berebut mengungkapkan simpati sekaligus empati.
Tetapi kendati sudah demikian banyak yang bisa dilakukan manusia di dalam maupun di luar negeri, tetap tidak bisa mengobati bagian-bagian dari hati yang terlanjur luka, robek serta tersayat. Semakin banyak berita yang terbaca, semakin banyak telinga mendengar berita, semakin banyak lidah mengucapkannya, semakin lebar luka hati di sana-sini. Bukan soal jumlah manusianya yang demikian banyak. Bukan soal kerusakannya yang demikian dahsyat. Bukan soal Aceh bagian dari anak negeri. Semua serba bukan. Seperti sedang mengatakan kalau lidah ini kehilangan panjangnya untuk bisa menyuarakan semua jeritan hati. Tiba-tiba saja ada yang menetes dari lubang-lubang mata yang terlalu lama kering.
Ada yang menyebutnya dengan sebutan cengeng. Ada yang memberinya nama kesedihan yang mendalam. Ada juga yang rela memberinya judul kurang tegar. Entahlah, kadang judul itu membantu, kadang judul itu membelenggu. Tiba-tiba saja, ada bagian tertentu memori yang mengingat nasihat seorang guru: “Language is not the door to reality, but silence“. Bahasa dan kata-kata bukanlah pintu membuka realita, hanya hening dan sepi yang bisa membantu dalam hal ini. Pertanyaannya kemudian, “Adakah kesedihan dan duka tsunami yang mendalam ini hanyalah pintu pembuka menuju hening?”
Ah, tidak semua hal mesti ditanyakan. Sebagian hal memang sebaiknya dilatih di dalam, dilaksanakan dalam keseharian, dan apa pun hasilnya diterima dalam keheningan. Mengenai latihan, sekolah dan guru-gurunya memang ladang-ladang latihan kehidupan. Cuman, sehebat-hebatnya sekolah dan guru, ia hanya menyisakan jejak-jejak latihan yang amat terbatas. Dan pengalaman duka langsung yang mendalam, baik melalui kecelakaan, kematian, orang-orang dekat, maupun diterjang langsung sama gelombang tsunami, meninggalkan jejak-jejak latihan yang lama sekaligus mendalam.
Sedikit jumlah manusia yang memiliki pengalaman tangan pertama yang diterjang badai ganas kehidupan. Lebih sedikit lagi yang mau menempatkan badai ganas tadi sebagai vitamin-vitamin kehidupan. Disebut vitamin kehidupan, karena badai ganas kehidupan ini sebenarnya sedang hadir sebagai bagian dari upaya memperkuat manusia. Seperti otot-otot tubuh manusia. Bila ia tidak digunakan, tidak pernah dicoba dan hanya tidak sepanjang waktu, lama-lama ototnya lemas dan lumpuh.
Hal yang serupa juga terjadi dengan otot-otot kejiwaan manusia. Dan badai ganas kehidupan seperti tsunami, sebenarnya hadir sebagai bagian dari langkah-langkah meyakinkan untuk membuat manusia-manusia kuat dan berotot. Bila ini perspektif memandangnya, maka bukan tidak mungkin di sebuah waktu kelak, akan ada orang Aceh yang muncul sebagai tokoh kehidupan yang membanggakan. Bukan karena apa-apa, melainkan karena pernah mengalami lewat tangan pertama, otot-otot kejiwaannya diperkuat oleh badai tsunami yang demikian dahsyat.
Ada sahabat yang bertanya, “Apakah semua manusia yang diterjang badai kehidupan akan menjadi kuat?” Ah, bertanya lagi, bertanya lagi. Dalam bahasa seorang guru, “Ignorance is not a handicap, knowledge is“. Pengetahuan sering kali menjadi penghalang-penghalang perjalanan. Berjalan dalam ketidaktahuan membantu manusia untuk senantiasa segar bugar dalam memandang kehidupan - itulah yang banyak dilakukan oleh manusia yang berhasil menempatkan badai sebagai vitamin. Modalnya hanya dua S: silent and surrender. Hening dan ikhlas!
Hening itu perlu, karena hanya hening yang membuat pandangan senantiasa bersih dan jernih. Ia bebas dari pemerkosaan-pemerkosaan pikiran kalau hidup harus begini dan harus begitu. Mestinya begini dan mestinya begitu. Sebagaimana adanya, itulah kata magis bagi pencinta-pencinta keheningan. Ikhlas lain lagi. Alam memang guru mengagumkan dalam hal ini. Ia hanya mengenal sebuah hukum berulang-ulang: kerja, kerja, dan kerja. Soal hasilnya, tidak ada sikap lain terkecuali ikhlas.
Entah ada sahabat yang pernah mencobanya atau tidak. Sejumlah guru yang sudah berjalan cukup jauh dalam hening dan ikhlas pernah berbisik, “Kesedihan itu serangkaian kehormatan!” Hanya orang-orang terpilih yang layak dihormati badailah, kemudian didatangi, dipeluk, dan dibuat bertumbuh oleh badai. Salam duka untuk Aceh, Nias, Sumatera Utara, Srilanka, India, Vietnam, dan seluruh sahabat yang diterjang tsunami. Mudah-mudahan semua bisa memeluk kesedihan sebagai serangkaian kehormatan.
Gede Prama, Kebahagiaan Yang Membebaskan ” Menghidupkan Lentera di dalam Diri”, PT Gramedia Pustaka Utama, 2006
Leave a Reply