Korektor yang Teliti
Sekalipun Bung Hatta bukan seorang penerbit, dalam menjalankan teknik penerbitan malah saya banyak ‘belajar’ tidak langsung dari beliau. Paling senang bila kami menerima naskah Bung Hatta, ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik, padat dan lugas, tidak berbunga-bunga. Diketik di atas kertas kwarto spasi rangkap, rapi, bersih dan sudah dalam keadaan siap cetak. Akan tetapi saya jadi berkeringat bila sudah selesai dicetak.
Meskipun percobaan cetak pertama dikoreksi sendiri oleh beliau, dan cara beliau mengoreksi begitu teliti, bukan saja koma dan titik yang dikoreksi dengan seksama, tetapi juga sampai ke soal spasi.
Seperti kebanyakan buku-buku terbitan Indonesia, spasi pada paragraf baru biasanya tidak menentu, kadang lebih renggang daripada baris-baris yang lain. Ini ditolak oleh Bung Hatta. Semua spasi harus sama, meskipun untuk paragraf baru. Dan ternyata memang demikian inilah penerbitan buku yang baik, seperti yang kemudian saya pelajari dari buku-buku bermutu terbitan luar. Selain daripada isi, juga tipografi, sampai kepada fisik buku menjadi perhatian beliau. Kami sangat berhati-hati bila menerbitkan buku-buku Bung Hatta. Dan inilah salah satu pelajaran berharga yang saya peroleh dari beliau.
Belum pernah Bung Hatta bertanya berapa honorarium yang akan dibayarkan untuk buku-bukunya itu, atau sudah berapa banyak perhitungan honorarium untuk beliau. Yang selalu ditanyakan, berapakah buku itu akan dijual, dan tidakkah harga itu akan memberatkan masyarakat dan mahasiswa? Keinginan beliau, buku dapat dijual dengan harga lebih murah sehingga dapat dijangkau oleh semua lapisan rakyat.
Yang sangat merisaukan Bung Hatta ialah bilamana dalam buku yang diterbitkan itu terdapat salah cetak. Ketika pidato Bung Hatta yang diucapkan pada upacara pengukuhan jabatan guru besar luar biasa dalam politik perekonomian pada Universitas Pajajaran Bandung diterbitkan oleh Tintamas, Teori Ekonomi, Politik Ekonomi dan Orde Ekonomi (1967), mulanya terdapat banyak salah cetak. Bukan main marahnya beliau, sampai-sampai beliau minta dimusnahkan saja buku itu. Demikian juga dengan Memoir edisi pertama, Memoir yang sekarang beredar lengkap dengan indeks, 597 halaman. Edisi yang sebelumnya, yang tanpa indeks, 566 halaman dan tanpa foto Bung Hatta di halaman pertama, dibekukan dari peredaran.
Dalam Alam Pikiran Yunani jilid kedua cetakan kelima, karena kelancangan pihak percetakan, terdapat sedikit kesalahan, pada nama Mohammad Hatta oleh percetakan dilengkapi dengan gelar Dr. sehingga baik pada sampul atau pada judul halaman dalam, tertulis Dr. Mohammad Hatta. Bung Hatta marah sekali kepada saya, kenapa mesti ditambah-tambah gelar segala? Untuk apa? Yang jelas Bung Hatta tidak suka disebut gelar kesarjanaannya atau gelar apa pun.
Suatu sikap Bung Hatta yang saya kagumi adalah betapapun beliau marah karena hal-hal yang prinsipil, namun beliau tak pernah dendam. Sesudah itu sikapnya seperti sediakala, seperti tak pernah terjadi apa-apa. Demikian inilah sikap seorang pemimpin dan seorang pendidik yang baik.
Pertemuan-pertemuan saya dengan Bung Hatta selanjutnya sudah tidak lagi begitu formal. Sering saya datang tanpa memberi tahu lebih dulu. Jika kebetulan ada waktu terluang, saya diterima dan sering kami mengobrol soal-soal sejarah dan kebudayaan. Perhatian Bung Hatta cukup besar pada soal bahasa. Sekali-sekali kami bicara soal agama. Ternyata perhatian beliau dalam soal ini juga cukup besar. Jarang sekali negarawan besar itu bicara soal politik jika tidak saya dahului. Biasanya bila Bung Wangsa yang baik hati itu ikut nimbrung, maka pembicaraan sering menyikut-nyikut soal politik praktis.
Ali Audah, Pribadi Manusia Hatta, Seri 9, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply