Lautan Api
Soekarno-Hatta selalu merupakan Dwitunggal Republik Indonesia yang berarti Proklamator Republik Indonesia. Dapat saya tambahkan bahwa mereka bukan saja merupakan Dwitunggal dalam soal-soal kenegaraan saja, tetapi yang menyolok adalah bahwa beliau-beliau memang merupakan Dwitunggal dalam hati, yang setia kawan. Pernah saya dengar, meskipun kebenarannya saya tidak tahu, bahwa pada waktu Bung Hatta mengadakan rapat dengan Bung Karno di Lapangan Ikada Jakarta dalam fungsi sebagai Dwitunggal Soekarno-Hatta yang disegani oleh tentara Jepang, dalam rapat raksasa itu Bung Hatta mengatakan dengan semangat berapi-api, “Lebih baik menjadi lautan api daripada dijajah oleh penjajah.”
Sebagai Dwitunggal dalam hati, contohnya adalah sebagai berikut: ketika Jepang menyuruh Bung Karno dan Bung Hatta pergi ke Tokyo, Bung Karno kemudian disuruh pulang sendiri ke Indonesia, sedangkan Bung Hatta diminta tinggal di Tokyo, mungkin mau dihukum. Namun Bung Karno tidak mau, beliau hanya bersedia kembali ke Indonesia asalkan bersama-sama dengan Bung Hatta. Bagi Bung Karno dan Bung Hatta, lebih baik mereka tinggal di Tokyo daripada harus berpisah.
Ucapan “lebih baik menjadi lautan api daripada dijajah oleh penjajah” ini saya tiru pada waktu pasukan Malaby (Sekutu) datang ke Surabaya untuk melucuti senjata-senjata arek-arek Suroboyo, pada malam hari. Dengan menyandang pedang sebagai tanda komando dan berpakaian hitam, saya memberi perintah sambil berdiri di atas mobil. Di dalamnya ada mahasiswa kedokteran gigi (Shika Dai Gaku) serta petugas pejuang tokoh Pemuda Rakyat Indonesia (PRI) yang memegang mike di mobil radio Surabaya.
Lalu saya berbicara menirukan Bung Hatta , “Lebih baik menjadi lautan api daripada dijajah oleh penjajah!!!”
Prof. Dr. Moestopo, Pribadi Manusia Hatta, Seri 7, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply