M Yunus dan Bank Desa
Bunda Theresa dan M Yunus adalah dua tokoh dunia fenomenal yang memiliki kepedulian tinggi pada kemiskinan. Bunda Theresa menjalankan misinya memberikan perhatian untuk “si lapar, si telanjang, si gelandangan, si pincang, si buta, si lepra, dan semua orang yang merasa tak diinginkan, tak dicintai, tak diperhatikan dalam masyarakat, orang yang telah menjadi beban bagi masyarakat, dan ditolak oleh siapa pun.
M Yunus adalah seorang ekonom yang menyangkal teori ekonomi yang dipakai selama bertahun-tahun. Dalam hukum ekonomi, bank akan memberikan pinjaman jika sang peminjam memiliki 5 C yaitu: Collateral, Character, Capital, Capacity, dan Condition yang dipandang layak. Yunus memberikan pengertian tentang pentingnya menyalurkan pinjaman untuk orang miskin. Namun paradigma perbankan memang profit minded mustahil bagi orang miskin untuk mendapatkan modal dari bank. Bagi Yunus, orang-orang miskin justru adalah entrepreneur ekonomi sejati. Karena, apabila diberi modal, persoalannya bagi mereka adalah survival alias bagaimana bertahan hidup, sehingga mereka akan bersungguh-sungguh berusaha.
M Yunus melalui programnya memberi pinjaman tanpa agunan kepada orang-orang miskin. Menurut Yunus, kemiskinan terjadi bukan karena kemalasan tetapi karena permasalahan struktural, ketiadaan modal. Sistem ekonomi yang berlangsung membuat kelompok masyarakat miskin tidak mampu menabung. Akibatnya, orang miskin tidak dapat melakukan investasi bagi pertumbuhan usahanya. Rentenir memberikan bunga tinggi bagi peminjam sehingga, bagaimanapun juga orang miskin bekerja keras dirinya tak dapat keluar dari garis kemiskinan.
Pria kelahiran Chittagong, Bangladesh pada tanggal 28 juni 1940 ini akhirnya mendirikan Grameen Bank sebagai sebuah alternatif pemberdayaan kelompok miskin di Bangladesh pada tahun 1976. Tidak kepada sembarang orang Yunus dan Grameen Bank menyalurkan pinjamannya. Sebagai bagian dari usaha pemberdayaan, Yunus memberikan pinjaman kepada wanita dalam nilai yang kecil dan tidak menggunakan jaminan. Salah satu target utama dari pinjaman yang diberikan Grameen adalah mereka yang tidak memiliki tanah. Karena kelompok masyarakat dalam kategori tersebut sama sekali tidak memiliki akses untuk mendapatkan kredit.
Sebelum Grameen Bank didirikan, M Yunus belajar memahami masalah yang terjadi pada orang miskin. Selama dua tahun ia bersama mahasiswanya berkeliling desa. Ia mencari tahu kenapa orang yang bekerja 12 jam sehari, 7 hari seminggu tidak punya cukup makanan untuk makan? Masalah kemiskinan cukup mudah untuk dimengerti namun tidak mudah untuk menemukan solusinya. Muhammad Yunus menemukan pencerahan ketika pada salah satu acara berkeliling desa bertemu dengan seorang wanita pembuat bangku dari bambu. Namun, karena ketiadaan modal wanita tersebut meminjam kepada rentenir untuk membeli bambu sebagai bahan baku. Setelah bangku tersebut jadi harus dijual kepada rentenir dan dia hanya mendapatkan selisih keuntungan sekitar 1 penny.
Grameen menggunakan sistem sistem “kelompok solidaritas”. Kelompok-kelompok ini mengajukan permohonan pinjaman bersama-sama dan setiap anggotanya berfungsi sebagai penjamin anggota lainnya, sehingga mereka dapat berkembang bersama-sama. Keberhasilan model Grameen ini telah menginspirasikan model serupa dikembangkan di dunia berkembang lainnya, dan bahkan termasuk di negara maju seperti Amerika Serikat.
Bank Grameen dalam bahasa Bengali artinya Bank Desa. Modal bank ini 94% dimiliki nasabahnya yang kaum miskin dan sisanya dimiliki pemerintah. Bank tersebut mampu menyalurkan pinjaman puluhan juta dollar tiap bulannya. Cakupannnya juga meluas dengan memberikan pinjaman untuk rumah dan proyek irigasi.
Sumber:
http://satriadharma.com/index.php/2007/08/12/muhammad-yunus-dan-grameen-bank/
http://sosbud.kompasiana.com/2010/11/01/muhammad-yunus-dan-semangat-orang-kaya-filantropis/
http://hendrasyahputra.com/2010/03/01/dari-muhammad-yunus-untuk-kaum-miskin-2/comment-page-1/
http://www.binaswadaya.org/index.php?option=com_content&task=view&id=103&Itemid=37&lang=in_ID
www.tokoh-indonesia.com
Leave a Reply