Marah yang Bijak
Bapak sangat taat menjalankan agama. Beliau tidak pernah meninggalkan sembahyang lima waktu, kecuali pada saat-saat akhir hidupnya ketika beliau dirawat di rumah sakit.
Dalam hal sembahyang Jumat, setiap kali beliau merasa sanggup menjalankannya, pasti beliau berangkat ke Masjid Matraman, meskipun dilarang oleh Pak Wangsa atau Ibu Rahmi. Hanya kalau kesehatan beliau tidak memungkinkan, dengan terpaksa beliau menuruti nasihat dokter, Pak Wangsa, dan Ibu untuk tidak pergi bershalat Jumat.
Walaupun hari hujan tetap saja beliau pergi. Juga beliau tidak pernah absen, meskipun ada undangan makan siang dari seorang duta besar. Bapak malahan tidak senang dan agak marah kalau diundang makan siang pada hari Jumat.
Dalam kehidupan sehari-hari, terhadap orang rumah maupun kepada tamu-tamu, bapak selalu baik. Bahkan kepada pembantunya, bapak tidak pernah lupa mengucapkan terima kasihnya jika dibantu. Kalaupun ada hal yang menyebabkannya marah, maka kemarahannya tidak diutarakan dengan suara yang keras, tetapi cukup dengan menunjukkan nada kesal dalam pembicaraannya. Biasanya menyangkut hal yang berkenaan dengan waktu, umpamanya seseorang datang terlambat dari janji semula.
Oleh karena itulah semua pembantu pegawai beliau menyayangi beliau sepenuh hati, dan bisa ikut sakit hati kepada seseorang yang mungkin membuat jengkel bapak atau menyusahkan bapak, apakah itu salah satu pembantu, ataupun orang lain.
Abdul Madjid, Pribadi Manusia Hatta, Seri 4, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply