Masa Dwitunggal yang Betul Tunggal
Justru setelah cease-fire, meletuslah pergolakan antara kita sendiri yang menggoncangkan sendi-sendi negara, konfrontrasi antara pihak pemerintah dan oposisi, antara “Sayap Kanan” dan “Sayap Kiri”.
Suasana persatuan menghadapi agresi Belanda dulu, kini berubah menjadi suasana perpecahan yang melibatkan pula badan-badan bersenjata.
Kabinet Hatta berteguh kepada empat programnya: berunding atas dasar Renville, mempercepat pembentukan Negara Indonesia Serikat, rasionalisasi dan rekonstruksi, terutama terhadap TNI.
Dulunya, sebelum Perjanjian Renville ditandatangani, Kabinet Amir sudah menyiapkan RUU Organisasi Kementrian Pertahanan dan Angkatan Perang, dan rencana perubahan organisasi serta pimpinan TNI. Pengusul-pengusul mosi tersebut mengambil bagian dalam mempersiapkannya, juga himpunan perwira dewasa itu seperti Yudhagama (Suryadrama, Simatupang, dan lain-lain) dan perwira-perwira aliran muda (S. Raharjodikromo dan kawan-kawan). Maka keluarlah dekrit.
Pak Dirman dan Pak Urip menghadap ke istana, karena rencana organisasi serta mutasi-mutasi pimpinan tertinggi itu tidak dirundingkan dengan mereka. Ternyata kedua Bapak TNI itu tidak sepenuhnya menyetujui rencana tersebut sehingga rencana itu kemudian diralat.
Pada tanggal 14 Februari 1948, di hadapan sidang BP KNIP, Wakil Presiden Mohammad Hatta menyatakan sebagai berikut: “Rasionalisasi adalah salah satu pokok program Pemerintah. Pemerintah bermaksud mengadakan perbaikan dalam susunan negara dan alat negara serta mencapai sedikit perimbangan antara pendapatan dan belanja negara. Rasionalisasi tidak hanya mengenai pemindahan tenaga dari usaha yang tidak produktif ke usaha yang produktif, tetapi juga memperbaiki efektifnya susunan bentuk tata usaha dan administrasi negara. Selama ini penempatan tenaga tidak terbagi sama rata, kadang-kadang berat di pucuk.”
Selanjutnya dikatakan oleh Wakil Presiden Hatta bahwa rasionalisasi ini, istimewa terhadap Angkatan Perang, harus dilakukan dengan tegas dan nyata, karena banyak terdapat pemakaian tenaga yang tidak lagi produktif. Kalau tidak, negara akan mengalami inflasi besar-besaran yang menyusahkan hidup rakyat. Keadaan ini sangat mendesak, ternyata Badan Pekerja sendiri menerima mosi Bahrudin untuk memperbaharui dan mengefektifkan bentuk dan susunan tentara kita.
Pemerintah akan menyiapkan dasar-dasar untuk menjadikan tentara kita menjadi tentara milisi. Tentara milisi lebih baik daripada tentara gajian, karena milisi menanamkan rasa kewajiban untuk mempertahankan Tanah Air.
Tentara tetap menjadi kern-kader. Segala tindakan menuju rasionalisasi tidak boleh menimbulkan pengangguran yang pada dasarnya merugikan masyarakat. Bagi tenaga yang dikeluarkan dari jabatan, harus dibangun sumber usaha baru yang memberikan penghidupan layak baginya.
Dalam pertemuan dengan Bung Hatta bersama Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) Suryadarma, saya mendukung pelaksanaan reorganisasi. Pengalaman gerilya telah cukup membuktikan berbagai kekurangan pertahanan rakyat kita. Maka saya diminta untuk merumuskan pengalaman itu. Saya simpulkan sebagai berikut:
1. Serangan tentara Belanda dengan persenjataan modern tidak mungkin dapat dilawan. Paling tidak hanya bisa memperlambat terjadinya pembumihangusan, untuk memperoleh kesempatan mengungsikan pasukan-pasukan, peralatan, para pegawai dan rakyat ke kantong-kantong pedalaman.
2. Pokok perlawanan adalah perang gerilya. Di satu pihak agresif terhadap musuh, dan di lain pihak dapat menegakkan de facto Republik dalam arti militer dan sipil, berdasarkan kantong-kantong yang berintikan desa-desa. Untuk itu, di samping fungsi tempur, diadakan juga fungsi pembinaan teritorial melalui kader-kader teritorial, pada tingkat kecamatan dan tingkatan di atasnya.
Pasukan diadakan dalam dua jenis. Pertama, batalyon-batalyon teritorial dengan persenjataan sekadarnya untuk pertahanan daerah. Kedua, batalyon-batalyon mobil untuk tugas-tugas ofensif. Pasukan-pasukan asal daerah-daerah Renville “di-Wingate-kan” kembali ke situ untuk menyusun kantong-kantong Republik, sehingga merata tersusun di seluruh pulau.
Dengan cara itu, Belanda takkan mempunyai cukup pasukan, sehingga terdesak kepada strategis defensif dan makin terdesak. Baik Bung Hatta maupun Pak Dirman dapat menerimanya. Tetapi, tentulah strategi ini membawa korban-korban, diiringi rasa “habis manis sepah dibuang” yang menimbulkan ketegangan antara kita. Di satu pihak, Pemerintah konsisten kepada politiknya, di lain pihak Panglima Besar membapaki anak-anak buahnya.
Dengan itu terjadi pula rentetan ketegangan antara kedua pimpinan itu. Sebagai yang muda, sayalah yang mondar-mandir antara beliau-beliau itu, seakan-akan sebagai bola ping-pong yang bolak-balik terpukul. Sampai-sampai Pak Dirman meninggalkan Yogya waktu Menteri Pertahanan melantik pejabat-pejabat tinggi. Kami terpaksa bersiasat untuk mendapat waktu dari Presiden untuk menerima Pak Dirman, juga menyiasati Pak Dirman supaya pergi ke istana.
Namun segala persoalan menjadi beres setelah meledak pemberontakan PKI. Di masa itu Dwitunggal betul-betul tunggal, berbicara dengan Bung Hatta sama dengan berbicara dengan Bung Karno.
Mengenangkan masa itu, masih terasa kegentingan sehari-hari, dari bulan-bulan itu sampai bulan September 1948, saat meletusnya Pemberontakan Madiun. Masih terasa suasana rapat-rapat dengan Bung Hatta, mengenai rasionalisasi-reorganisasi, di samping memecahkan persoalan rutin yang tak habis-habisnya, seperti insiden-insiden di garis demarkasi, seperti soal biaya dan perlengkapan satuan-satuan, dan soal-soal yang lebih sengit, dengan adanya demonstrasi-demonstrasi bersenjata di berbagai kota yang menentang rasionalisasi, adanya culik-menculik sampai bunuh-membunuh yang meningkat di Solo, sampai akhirnya Panglima Sutarto terbunuh, dan seterusnya.
Pemogokan-pemogokan buruh, aksi petani, soal tanah konsensi di Klaten, meningkat kepada perlucutan-perlucutan terhadap Brimob, serangan terhadap asrama-asrama Siliwangi, terus meningkat menjadi Wild West di Solo, menuju Pemberontakan PKI 18 September 1948 di Madiun.
A.H. Nasution, Pribadi Manusia Hatta, Seri 7, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply