Memarahi Residen Belanda
Beliau tidak pernah marah kepada polisi rendahan bangsa kita sendiri, sebaliknya beliau dapat marah besar kepada orang Belanda. Peristiwanya, seingat saya adalah demikian: Pada waktu beliau akan berangkat ke Batavia (Jakarta), Uda Hatta minta agar Residen menghadap beliau, karena semua buku-buku Uda yang akan dibawa ke pengasingan belum seluruhnya dimuat dalam kapal yang akan membawa beliau ke sana. Beliau marah kepada orang Belanda itu karena tidak mengurus buku-buku Uda dengan baik.
Gramatika bahasa Belanda Uda sangat baik, beliau tidak mau belajar bahasa Belanda yang kasar. Sebaliknya, residen Padang adalah seorang Belanda keturunan boer (petani), yang bahasa Belandanya kasar. Karena bahasa Belanda Uda baik dan halus, maka beliau mengerti betul bahwa residen berasal dari kaum petani yang kebetulan diangkat oleh Belanda sebagai residen, suatu jabatan tinggi di masa itu.
Dengan muka merah dan kata-kata yang keras dan lantang, dibentaknya residen Belanda itu sebagai berikut, “Dari bahasa Belandamu saya tahu, siapa kamu sebenarnya. Kamu hanya seorang petani kecil. Sekarang sebagai pejabat tinggi, padahal yang kamu perintah lebih pintar dari kamu.” Perkataan itu tentu saja diucapkan dalam bahasa Belanda oleh Uda.
Kata-kata Uda Hatta itu tidak pernah kami lupakan, dan selalu nenek kami memberi saran kepada kami bahwa cucu teladan beliau adalah benar.
Belanda sebagai penjajah hanya mengambil keuntungan saja dari negeri kita, untuk dibawa ke negerinya sendiri.
Hatta dibuang oleh Belanda ke Boven Digul di Irian Jaya, lalu dipindahkan ke Bandaneira. Di waktu beliau berada di sana, kami tidak selalu dapat surat dari Uda. Hanya sekali-sekali beliau mengirim oleh-oleh dan menanyakan keadaan kami di rumah, berhubung surat-menyurat dibatasi oleh Belanda.
Ny. Julinar Idris Koestono, Pribadi Manusia Hatta, Seri 1, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply