Membagi Disiplin Masyarakat
Bung Hatta saya panggil dengan sebutan Uda, artinya abang. Beliau dari kecil hidup sangat rapi dan teratur. Segala diatur dengan rapi, begitu juga uang jajan sehari-hari yang diberikan nenek. Uang ini beliau susun begitu rupa, di atas meja tulis beliau, agar nantinya kalau sudah cukup dimasukkan ke Postspaarbank (bank tabungan pos). Menurut beliau, dari uang itulah Uda membeli buku-buku untuk meneruskan sekolahnya.
Bila ada yang menukar susunan uang itu, maka Uda pasti tahu. Begitu telitinya Uda Hatta, juga mengenai barang-barang yang lainnya. Uda adalah cucu teladan dari nenek kami. Dalam segala hal, Uda tidak mau acak-acakan.
Menyoal masalah kedisiplinan, Uda Hatta mengatakan pada saya bahwa dalam masyarakat ini terdapat tiga golongan. Pertama, golongan yang berdisiplin dan teratur. Kedua, golongan yang acak-acakan dan mengikuti angin. Ketiga, golongan yang sama sekali tidak mau berdisiplin atau bernorma.
“Jadi, “ kata Uda, “Kita harus bisa menempatkan tiap-tiap orang dalam golongan yang mana, agar kita dengan dada lega menghadapi tiap-tiap golongan mereka itu.”
Beliau sebagai pembimbing keluarga besar ini, tidak pernah membeda-bedakan dalam kasih sayang. Hanya mengenai tabiat dan tingkah laku orang yang ada penggolongan bagi beliau. terhadap seorang yang lebih tua, Uda Hatta merasa terhormat dan sayang.
Ny. Julinar Idris Koestono, Pribadi Manusia Hatta, Seri 1, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply