Menaklukkan Momok Pelajaran Hafalan dengan Mempelajari Cara Menggunakan Otak Sejak Dini
Salah satu penyebab anak sulit belajar adalah kebiasaan mereka menjejalkan berlembar-lembar catatan hanya dalam satu malam menjelang ujian. Ibarat orang yang sudah kekenyangan tapi masih terus dipaksa makan dan makan. Akibatnya, selezat apa pun makanan yang tersaji rasanya pasti jadi tak enak lagi.
Otak anak kesulitan “menggambarkannya” atau memvisualisasikan apa yang telah dipelajarinya. Walaupun anak Anda dikategorikan cerdas, tapi kalau daya ingatnya rendah, mana mungkin ia bisa menjadi yang terbaik di kelas? Karena pelajaran yang sudah dipelajari olehnya semalaman tetap tidak bisa “terpatri” dengan baik di otaknya.
Hal itu bisa terjadi karena keterbatasan otak menerima semua informasi. Sebab dari kecil kita sudah terbiasa belajar dengan cara membaca semua materi pelajaran sekaligus. Tapi, biasanya habis ujian kita langsung lupa. Itu bukan pembelajaran namanya. Yang namanya belajar, kita akan ingat terus apa yang dipelajari.
Kelemahan tersebut bisa ditangkis dengan melakukan peta pikiran (mind mapping). Saat ini, masih jarang orang yang diajarkan cara menggunakan otaknya di sekolah (bahkan mungkin tidak pernah). Bahkan hampir semua orang di belahan dunia mana pun belajar tanpa merujuk ke cara kerja otak. Otak sebagai organ paling vital dalam belajar sama sekali tidak dipelajari terlebih dahulu cara bekerjanya oleh para pendidik dan anak didik.
Apalagi ternyata otak didesain untuk mencari makna. Sel-sel saraf otak akan tumbuh ‘hebat’ apabila diberi tantangan dan rangsangan-rangsangan baru. Bahkan hasil riset Roger Sperry (ahli biologi peraih hadiah Nobel dalam bidang fisiologi dan kedokteran tahun 1981) yang menunjukkan bahwa otak memiliki dua belahan yang masing-masing bekerja secara sangat berbeda. Pada dasarnya, otak kiri bersifat rasional dan otak kanan lebih emosional. Menurut penelitian pula, otak amat berespon baik terhadap kata-kata kunci, gambar, warna, serta adanya asosiasi secara langsung. Tugas merespon ini dilakukan oleh kedua otak tadi.
Tokoh-tokoh brilian seperti, Albert Einstein, Leonardo Da Vinci, Pablo Picasso, dan Winston Churcill pun ternyata menggunakan gambar-gambar yang mirip suatu catatan pelajaran mereka saat sekolah. Dari situlah Tony Buzan sang penemu teknik peta pikiran (mind map) mempelajari bahwa dalam menyerap informasi, orang-orang jenius itu memanfaatkan kedua bagian otaknya. Caranya dengan menggunakan gambar-gambar atau apa yang disebut dengan memori fotografi. Jadi bagaikan seorang fotografer yang mampu merekam momen atau situasi dalam foto.
Menurut Tony Buzan, dengan memanfaatkan gambar dan teks ketika seseorang mencatat atau mengeluarkan ide yang ada di dalam pikiran, maka kita telah menggunakan dua belahan otak secara sinergis. Apalagi jika dalam peta pikiran itu kemudian ditambahkan warna-warna dan hal-hal yang memperkuat emosi.
Dengan kata lain, peta pikiran merupakan sebuah jalan pintas yang bisa membantu siapa saja untuk mempersingkat waktu sampai setengahnya untuk menyelesaikan tugas. Bahkan teknik temuan Buzan ini bisa dilakukan dalam aktivitas apa pun dan saat belajar mata pelajaran apa pun. Misalnya menyusun daftar belanja, mengingat resep, menyusun makalah, presentasi, rapat, menyiapkan pesta, dan lain sebagainya.
Peta pikiran juga bisa digunakan untuk membuat catatan dengan cara membuat pengelompokan atau pengkategorian setiap materi yang dipelajari. Intinya meringkas apa yang tengah dipelajari. Setiap kategori dipastikan akan lebih mudah diserap karena di dalam otak sudah terdapat bagian yang bertugas menyimpan materi.
Peta pikiran dibentuk oleh kata, warna, garis, dan gambar. Menyusunnya pun tak sulit, bisa dilakukan anak hingga dewasa dan diterapkan untuk keperluan apa saja. Anak 4 tahun saja sudah bisa membedakan gambar dan mengimajinasikan atau mengasosiasikan yang merupakan hal-hal dasar dari peta pikiran. Tulisan atau kata-kata bukanlah syarat utama yang harus ada dalam peta pikiran.
Jadi, bila sejak kecil anak dibiasakan menggunakan peta pikiran, kapasitas otaknya pun akan bertambah. Anak akan terbiasa menghasilkan ide-ide. Disamping terlatih memecahkan masalah atau mencari solusi dari cara berpikir yang simultan dan kreatif. Peta pikiran membantu anak membuat catatan pelajaran lebih menarik, mudah diingat sekaligus mudah dimengerti.
Sumber: Gembira Belajar dengan Mind Mapping hal.6-7, Femi Olivia
Leave a Reply