Menantu Pertama
Ketika saya berkenalan dengan Meutia, saya masih tinggal bertetangga dengan keluarga Heru Sutoyo. Keluarga ini sudah lama kenal dengan Meutia, Gemala, dan Halida. Melalui keluarga ini, juga hobby saya akan musik, saya berkenalan dengan ketiga gadis putri Bung Hatta itu. Melalui jalan yang singkat, termasuk melalui jasa baik Ibu Ratmini Soedjatmoko, saya diterima baik oleh keluarga Hatta dan akhirnya menjadi menantu Bung Hatta.
Upacara perkawinan kami kelihatan agak besar-besaran. Memang demikian adanya. Kesederhanaan Bung Hatta menolak upacara semacam itu. Beliau marah menentang keberlebihan itu, tetapi beliau kalah suara. Uda Hasjim (Hasjim Ning) dan Pak Wangsa membujuk agar Bung Hatta “tahu beresnya” saja. Beliau diungsikan di rumah Uda Hasjim agar tidak merasakan kebisingan itu dan ikut campur.
Uda Hasjim dan Pak Wangsa dapat memaklumi kenyataan, saat itu ialah pertama kali mantu anak perempuan tokoh di rantau alam budaya Minangkabau. Yang membuat ramai perkawinan itu adalah masyarakat Minang di Jakarta.
Semula saya sendiri masygul, saya yang berasal dari keluarga sederhana dan tidak berada, merasa asing dan membenarkan sikap Bung Hatta. Tetapi saya kemudian harus belajar bertoleransi serta memahami hasrat murni masyarakat Minangkabau, bahkan masyarakat yang lebih luas lagi, yang sekadar ingin memanjakan tokohnya, ingin berbuat sesuatu untuk pujaannya.
Bung Hatta menempatkan diri sebaik-baiknya. Pada upacara perkawinan itu beliau tidak mengenakan pakaian adat. Beliau ikut menetapkan, pagi hari pengantin berpakaian Minangkabau dan malam hari berpakaian Jawa.
Tanggal perkawinan, kami berdualah yang menetapkan, tanggal 14 Juli 1973, bertepatan dengan ulang tahun ibu saya. Setelah upacara perkawinan lewat, kami (saya dan Meutia) menyampaikan hadiah kepada ibu saya yang membuat beliau tersedu-sedu. Hadiah ini adalah suatu foto ibu dan almarhum ayah saya yang dicetak di atas piring. Foto ini merupakan gabungan dari dua foto. Ibu saya belum melihatnya sebelum itu. Bung Hatta ikut memandang tajam foto itu, untuk mengenali besannya.
Sri- Edi Swasono, Pribadi Manusia Hatta, Seri 3, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply