Mengenal Tanaman Tempoe Doeloe
Jumat 20 Mei 2011, kami berangkat menuju Festival Malang Kembali (FMK) VI yang di gelar di sepanjang Jalan Ijen dengan rasa penasaran. Kami ingin segera tahu apa saja yang disajikan dalam gelar budaya masyarakat Malang kali ini. Sampai di lokasi hari masih pagi, pengunjung belum ramai, bahkan beberapa stand masih belum dibuka. Kami masuk dari arah Simpang Balapan, pemandangan tempo dulu mulai terlihat. Semua stand di FMK memang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai rumah-rumah rakyat tempo dulu.
Setelah melewati puluhan stand, di depan Gedung Perpustakaan Malang, kami menemukan sebuah stand milik UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi. Di stand ini, banyak dipamerkan jenis-jenis tanaman yang sudah langka terutama “polo pendhem” dan “polo gumantung”. Orang-orang tempo dulu menyebut tanaman yang buahnya terbenam di dalam tanah, seperti: ubi kayu, garut, ganyong, talas, kacang tanah, dan sebagainya sebagai polo pendhem. Sedangkan polo gumantung biasa digunakan untuk menyebut tanaman yang buahnya menggantung pada pohonnya, seperti: pepaya, mangga, pisang, nangka, rambutan, dan sebagainya.
Sebagian besar masyarakat sekarang terutama anak-anak dan pemuda sudah tidak mengenal lagi tanaman polo pendhem dan polo gumantung apalagi tanaman tersebut sudah langka. Beberapa jenis polo pendhem seperti: ubi kayu, talas, ketela, kacang tanah, dan kentang memang masih banyak dibudidayakan oleh masyarakat sehingga masih mudah ditemukan dipasar-pasar tradisional, tetapi ada beberapa jenis polo pendhem seperti: gadung, garut, ganyong, uwi, gembili, dan suweg sudah tidak dibudidayakan oleh masyarakat umum, sehingga anak-anak sekarang sudah sulit untuk mengenalinya. Demikian juga dengan polo gumantung seperti: kepuh, keben, mundu, lo, kepel, angke, dan sebagainya. Oleh sebab itu, UPT Balai Konservasi Kebun Raya Purwodadi berupaya melestarikan dan mengenalkannya kembali kepada masyarakat luas terutama anak-anak dan pemuda. Mereka berharap kekayaan alam nusantara ini tidak punah karena ketidakpedulian generasi penerusnya untuk memelihara dan melestarikan tanaman tersebut.
Nah, kalau Anda berkunjung ke stand ini, silahkan belajar dan mengenal kembali tanaman-tanaman tempo dulu yang semakin tersisihkan oleh pohon-pohon beton. Anda tidak perlu malu-malu untuk bertanya, karena staf UPT Balai Konservasi Kebun Raya Purwodadi, dengan ramah akan menjelaskan tentang tanaman yang Anda tanyakan mulai dari nama lokal, nama latin, sampai pada jenis dan kegunaannya. Seperti halnya Bapak Matrani, yang kebetulan saat itu sedang bertugas menjaga stand ini, dengan sangat piawai beliau menjawab semua pertanyaan pengunjung. Wah, ilmu beliau tentang tanaman memang luar biasa. Bagi Anda yang ingin belajar lebih banyak dan lebih rinci lagi, Bapak Matrani mempersilahkan Anda untuk datang langsung ke Kebun Raya Purwodadi, Jl. Raya Malang-Surabaya Km 65 Pasuruan Jawa Timur.


















Leave a Reply