Menggali Sejarah Kota Malang di FMK VI
Jika sebelumnya kebanyakan dari pengunjung Festival Malang Kembali (FMK) hanya berjalan-jalan, foto-foto, dan berbelanja saja, diharapkan di FMK VI ini pengunjung memperoleh informasi sejarah Kota Malang yang disugukan secara gratis oleh panitia FMK. Oleh karena itu, Festival Malang Kembali VI tahun 2011 ini bertemakan Discovering Heritage, menemukan warisan budaya Kota Malang! Banyak sekali pengetahuan yang dapat kita pelajari dari sini, antara lain sejarah pariwisata, sejarah ekonomi dan industri Kota Malang, museum pusaka budaya, sejarah pendidikan, dll.
Seperti yang telah tertulis di salah satu baleho galeri pariwisata tentang keputusan Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rak-jat Daerah Gotong Rojong Kotapradja Malang tahun 1962 yang menetapkan Kota Malang menjadi:
1. Kota pelajar
2. Kota industri
3. Kota pariwisata
(Sumber: Kotapradja Malang 50 tahun, 1 April 1964).
Dan di tahun 1954, Malang dinominasikan menjadi ibu kota negara RI selain Jakarta, Bandung, Magelang, dan Bogor. Itulah sedikit ulasan mengenai sejarah pariwisata Kota Malang.
Di galeri sejarah ekonomi dan industri, lokasi B, Pasar Pon, diceritakan mengenai tata Kota Malang yang mendukung pertumbuhan ekomoninya. Sekitar tahun 1800-an, setiap Belanda memasuki wilayah baru, selalu berkeinginan membentuk citra kolonial di tempat tersebut dengan membangun sebuah alun-alun sebagai pusat kota. Dari sudut pandang ekonomi, penataan tersebut diartikan untuk kepentingan ekonomi kolonial, dalam mengumpulkan hasil-hasil bumi yang sebenarnya tujuan utamanya adalah kontrol semua aspek kehidupan penduduk.
Diawal abad 20, aktivitas komersial yang ada saat itu terdiri dari beberapa tempat yaitu untuk penduduk asli masih terkonsentrasi di kampung-kampung kecil (Kebalen, Jodipan, Talon, Klojen Lor) sedangkan kalangan Cina terkonsentrasi di sekitar Pasar Cina (sekarang Pasar Besar Pecinan), Arab disekitar masjid yang Kauman. Pemukiman Belanda berada di titik-titik kontrol kegiatan ekonomi, nilai komersial yang tinggi dan keamanan yang terjamin seperti di Tongan, Talon, Kayutangan dan Klojen Lor.
Selain di lengkapi dengan foto-foto kegiatan pasar jaman dulu, ada juga daftar alamat kantor di Malang tahun 1930-an.
Di museum pusaka budaya antara lain kita dapat mempelajari tentang rekonstruksi desa adat 1890, pembuatan pande pusaka; gelar upacara adat wetengan, bocah, sedekah bumi, bersih desa, tolak balak, nyadran, dan slametan omah; gelar jaran kencak, larung sesaji, simbol dan filsafat wayang, dll.
Semoga dengan adanya FMK tahun ini dan tahun yang akan datang dapat menambah informasi bagi kita mengenai Kota Malang, sehingga kita menjadi lebih bangga dan mencintai Kota Malang ini.









Leave a Reply