Menghargai Pendapat Anak

Adalah suatu hal yang menguntungkan bahwa karier kami betul-betul merupakan hasil pilihan kami sendiri, tanpa adanya unsur paksaan dari orang tua. Kakak Meutia memilih studi antropologi, saya memilih bidang kesehatan dan si bungsu Halida mempelajari studi politik
Saya teringat akan kenangan, betapa bebasnya Ayah dan Ibu menyerahkan pilihan karier itu pada saya. Setamat saya dari SMA, saya mendaftarkan diri pada Fakultas Kedokteran Hewan pada Institus Pertanian Bogor, dan pilihan kedua pada Fakultas Kedokteran pada Universitas Indonesia. Saat saya ribut dengan pendaftaran dan testing, Ayah tidak mengatakan apa-apa, beliau tenang sekali. Sewaktu saya akhirnya diterima di kedua tempat tersebut, barulah saya bingung sendiri, mau ke mana sebaiknya. Di sini barulah Ayah menanyakan ketetapan putusan saya. Akhirnya pertimbangan saya jatuh untuk kuliah di Jakarta saja, menjadi mahasiswa FKUI.
Saya sempat mengenyam masa pendidikan selama satu setengah tahun, namun saya merasa bahwa bidang kedokteran kurang cocok bagi saya. Suatu saat secara kebetulan saya mendapat informasi mengenai bidang medical record atau pencatatan medis. Pada waktu masih belum berkembang di Nusantara tercinta ini.
Saat itu saya katakan pada Ayah bahwa saya ingin mengembangkan suatu ilmu yang baru di Indonesia. Saya ungkapkan bahwa di negara ini sudah terdapat beribu-ribu dokter, dan kalaupun saya memang dapat menyelesaikan studi menjadi dokter, hal itu hanya akan menambah satu angka saja, dan belum tentu pula saya mampu menjadi dokter yang baik. Tetapi bilamana saya bisa mengembangkan cabang ilmu pengetahuan yang baru, maka setidak-tidaknya saya memberikan lapangan kerja baru bagi banyak orang, dan yang terpenting, menerapkan bidang pekerjaan ini di Indonesia.
Saya coba meyakinkan Ayah, bahwa bidang medical record ini dibutuhkan kepentingannya bagi seluruh rumah sakit ataupun puskesmas. Bidang ini membuat seseorang untuk terus mendalami masalah anatomi di samping jugamempelajari segi administrasi dari data medis yang telah terkumpul. Data statistik morbiditas ataupun mortalitas hanya dapat dilaporkan secara baik kepada Pemerintah bila setiap unit kesehatan mempunyai ‘Bagian Pencatatan Medis’ dengan baik.
Saya tanyakan pada Ayah, “Bukankah secara tidak langsung, usaha semacam ini juga dapat diartikan sebagai turut berpartisipasi dalam ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’?” Saat itu Ayah hanya tersenyum mendengarkan uraian saya.
Kemudian Ayah mengatakan, bahwa Ayah tidak mencegah keinginan saya itu, hanya saja untuk usaha semacam itu diperlukan keuletan dan kemauan untuk merintis dari bawah lagi. “Hanya orang yang terus berusahalah yang akan menikmati hasil jerih payahnya!”
Sungguh gembira rasanya bahwa Ayah dan Ibu tidak menunjukkan rasa kecewa dengan perubahan karier saya. Tampaknya mereka sungguh menghargai cara berpikir praktis atas pandangan saya itu.
Melalui perjuangan yang cukup panjang, akhirnya saya berhasil memperoleh beasiswa dari Pemerintah Australia (Melalui dana Colombo Plan), dan tinggal di Sydney, Australia selama hampir tiga tahun. Sebelum saya pergi, Ayah dan Ibu menasihati agar saya belajar dengan baik dan mengambil manfaat sebanyak-banyaknya pengalaman di negeri orang.
Lalu Ayah yang manis budi itu mengatakan, “Bilamana Gemala perlu tambahan biaya mengingat kecilnya bea siswa tersebut, maka kabarilah Ayah, nanti Ayah akan mengusahakan kekurangannya.”
Mendengar kata-kata Ayah itu, rasanya hati saya sedih sekali. Bagaimana tidak, kami semua mengetahui bahwa keuangan pensiun Ayah saja sudahlah tidak cukup, apalagi harus memikirkan kehidupan anaknya di negara yang taraf hidupnya tinggi, mana mungkin?
Saya katakan pada ayah. “Hal itu tidak perlu, sebab beasiswa toh sudah ada. Lebih baik Ayah simpan saja uang itu untuk keperluan lain yang lebih dibutuhkan, bukankah Halida masih harus terus bersekolah?”
Akhirnya, Ayah mengerti juga keinginan saya, dan terbukti, bahwa selama di Australia, belum pernah Ayah mengirimi saya uang. Saya sangat menghargai sikap Ayah ini, sebab beliau mau ataupun tidak mau mendidik saya untuk rajin menghemat. Ini merupakan latihan bagi saya dalam menempuh hidup secara seadanya saja.
Lebih daripada itu, Ayah selalu menasihati saya agar keuangan yang sedikit itu diatur sebaik mungkin sehingga bila ada sisa dapat ditabung. Memang, sesungguhnya Ayah adalah penabung yang sangat ulung. Kehidupan beliau jauh dari kemewahan, membuat kita, anak-anak sangat menghargainya. Buat Ayah, kepercayaan yang kuat kepada Tuhan Yang Maha Esa sudah menimbulkan kebahagiaan bagi kehidupannya. Beliau tidak pernah mempersoalkan kurangnya uang pensiun, apa pun diterimanya tanpa banyak bicara.
Gemala Rabi’ah Chalil Hatta, Pribadi Manusia Hatta, Seri 2, Yayasan Hatta, Juli 2002
nama ayah ,ibunya siapa
Nama ayahnya: Mohammad Hatta
Nama ibunya: Rahmi Hatta