Mengunjungi Kebun Kopi di Kalibaru Cottages dan Pengolahannya di Glenmore Banyuwangi
Minggu 16 Agustus 2009, rombongan KSU Pointer tiba di Hotel Kalibaru Cottages. Setelah beristirahat, kami dipandu oleh Bapak Pairi dan seorang temannya untuk mengunjungi kebun kopi yang terletak di area hotel. Kegiatan ini merupakan salah satu Tour Mini Plantation yang diadakan oleh pihak hotel. Bapak Pairi menjelaskan bahwa pohon kopi yang berada di dalam dan di luar area hotel adalah jenis robusta dan arabica. Perbedaannya adalah kopi robusta memiliki ukuran biji besar, sedangkan kopi arabica memiliki ukuran biji kecil.
Kopi robusta hidup di daerah dengan ketinggian di bawah 600 meter di atas
permukaan air laut, sedangkan kopi arabica hidup di daerah dengan ketinggian di atas 600 meter di atas permukaan air laut. Kopi robusta mengalami musim panen sekali dalam setahun yaitu antara bulan Juli-September. Bibit pohon kopi robusta yang terdapat di dalam area Kalibaru Cottages tersebut diperoleh dari dalam hutan, untuk kemudian setelah berusia produktif (6 tahun) dicangkok dengan cara di stek dengan batang pohon kopi robusta lain berjenis 38 atau 42, dan hasilnya bisa dipanen dalam jangka waktu 1 tahun.
Selasa 18 Agustus 2009, rombongan melanjutkan tour tentang kopi yaitu mengunjungi pabrik pengolahan biji kopi yang berada di Desa Glenmore Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi. Di dalam pabrik pengolahan biji kopi ini terdapat kebun kopi, kebun karet beserta pengolahannya, dan kakao beserta pengolahannya. Pada saat kunjungan tidak ada proses pengolahan biji kopi, hanya ada salah satu karyawan pabrik yang mengolah beberapa biji kopi untuk dikonsumsi sendiri oleh beberapa karyawan pabrik pengolahan tersebut. Adapun hasil pemaparan yang diutarakan oleh Pak Kamto (pemandu) tentang proses pengolahan kopi, yaitu: yang pertama biji-biji kopi digiling untuk memisahkan kulitnya. Kemudian biji-biji tersebut direndam selama 9 jam dengan diberi air yang mengalir.
Selanjutnya kulit dari biji kopi tersebut akan lepas dengan sendirinya, mengapung dan terbawa oleh aliran air yang mengalir sedangkan bijinya akan tetap tinggal di dalam dan oleh masyarakat sekitar kulit dari kopi tersebut bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar dalam pembuatan gula jawa. Proses selanjutnya adalah biji-biji kopi yang tinggal di dalam diambil dengan menggunakan mesin penyedot yang kemudian dioven. Setelah dioven biji-biji kopi tersebut disortir untuk memilih kualitasnya. Biji kopi hasil pengolahan memiliki kualitas bagus apabila memiliki ciri-ciri keras, sedangkan biji kopi yang kualitasnya kurang bagus memiliki ciri-ciri bagian dalam dari biji tersebut berlubang (bahasa Jawa: kopong).
Dalam kesempatan kali ini rombongan tidak melanjutkan tournya ke kebun kopi seperti yang direncanakan akibat dari keterbatasan waktu.











Leave a Reply