Menjelajahi Kawasan Bumi Perkemahan Raden Soerjo Batu
Pada hari Sabtu 27 Juni 2009, KSU Pointer mengadakan jelajah alam ke Bumi Perkemahan Raden Soerjo Batu. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 07.00-17.00 ini diikuti oleh 12 orang dari KSU Pointer dan 1 orang dari PrimkopPOS dibantu 2 orang pemandu. Rute yang dilalui adalah kawasan hutan lereng utara Gunung Welirang. Jarak yang ditempuh 14 km dalam waktu 7 jam. Peserta dianjurkan makan buah yang disediakan KSU Pointer agar kondisi badan tidak menurun.
Pukul 07.00 kami berangkat dari KSU Pointer menuju lokasi. Memasuki kawasan Bumiaji udara mulai terasa dingin, tetapi dinginnya udara seolah terlupakan dengan adanya pemandangan yang indah. Hamparan tanah yang luas tertata rapi, sayuran yang hijau segar, kebun apel, tanaman bunga, dan rumah-rumah tempat budidaya jamur memberi kesan tersendiri dalam perjalanan kami menuju lokasi. Teman-teman yang biasa mabuk perjalanan karena jalan berliku jadi terbius oleh pemandangan tersebut sehingga melupakan perutnya yang sedang mual-mual.
Pukul 08.00 kami tiba di pendopo Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo tepatnya di dekat Pemandian Air Panas Cangar. Kami segera mempersiapkan diri, tetapi pemandu belum datang. Sambil menunggu kedatangan pemandu, kami melakukan senam pemanasan dipimpin oleh salah satu peserta. Sesaat setelah senam selesai pemandu datang, kami berdoa bersama kemudian pukul 08.30 kami memulai perjalanan menuju lereng utara Gunung Welirang.
Rombongan berjalan beriringan dengan seorang pemandu di depan dan seorang lagi di posisi paling belakang. Perjalanan dimulai dengan mendaki tanjakan-tanjakan dengan kemiringan sekitar 75⁰. Tanjakan ini membuat semua peserta berjalan dengan napas terengah-engah, meskipun sudah menarik nafas dalam-dalam rasanya udara tidak mau memenuhi paru-paru, detak jantung berdegub kencang, dan keringat mulai mengalir membasahi tubuh. Belum mencapai 500 meter dari garis start, seorang peserta tidak sanggup lagi untuk melanjutkan perjalanan dan harus kembali ke tempat parkir. Beberapa puluh meter kemudian jumlah peserta berkurang lagi karena ada seorang peserta yang tidak bisa melanjutkan perjalanan. Dua peserta lainnya mengantarkan ke tempat parkir, dan peserta lain menunggu sambil beristirahat. Setelah peserta lengkap, kami melanjutkan perjalanan menyusuri lereng utara Gunung Welirang. Pemandu berpesan agar peserta tidak terpisah jauh dari rombongan karena kami akan menyusuri hutan dengan melewati jalan-jalan yang sudah jarang digunakan sehingga tertutup tumbuhan hutan, atau membuka jalan baru untuk mencari jalan terdekat menuju atas lereng.
Pak Min, begitulah panggilan seorang pemandu yang berada di barisan paling depan. Lelaki yang mempunyai nama lengkap Marimin ini sudah berusia 73 tahun, tetapi kelincahannya dalam menjelajah alam jauh di atas kami yang rata-rata masih berusia sepertiga dari usianya. Berjalan tanpa alas kaki melewati batu, kayu, dan semak tanpa rasa takut atau khawatir sesuatu akan melukai kakinya. Begitulah Pak Min setiap harinya, mungkin alas kaki justru akan menghambat perjalanannya. Pak Min sudah biasa keluar masuk hutan dan naik turun gunung. Semua deretan gunung di kawasan ini telah ia jelajahi termasuk Gunung Arjuno, Gunung Kembar, Gunung Pasar Dieng, Gunung Watu Agal Agil, dan Gunung Biru. Bahkan perjalanannya naik turun Gunung Arjuno sudah tak terhitung lagi. Perjalanan paling jauh yang pernah ia tempuh adalah perjalanan ke Gunung Biru yang berjarak kira-kira 40 kilometer dari kawasan Bumi Perkemahan Raden Soerjo. Pantas saja para pemandu dari Tahura tidak ragu lagi menggandeng lelaki ini untuk mengantar para penjelajah alam menuju tempat-tempat yang mereka inginkan.
Setelah tanjakan terakhir, jalan mulai landai, kami terus berjalan beriringan memasuki hutan belantara.Tertinggal satu menit saja dari peserta yang di depan, hilang sudah mereka dari pandangan mata, dan kami harus berteriak untuk menghentikan langkah mereka. Benar-benar tidak terbayangkan, memasuki hutan dengan pohon-pohon besar berdiameter 1-1,5 meter, sunyi, yang ada hanya suara-suara kami sendiri yang sedang berbincang mengagumi keindahan alam. Sesekali terdengar kicau burung dengan merdunya. Sepanjang perjalanan kami menemukan banyak sekali pohon-pohon tumbang yang sebagian sudah lapuk dan ditumbuhi jamur seperti jamur kuping, jamur kayu, dan beberapa jamur lain yang kami belum tahu namanya. Kami jumpai pula tanaman lumut dan anggrek yang jarang sekali kami temui di tempat lain.
Perjalanan dilanjutkan dengan merayap. Menurut pemandu, ini merupakan satu-satunya jalan untuk cepat sampai di atas karena jalan lain yang lebih landai harus ditempuh dalam waktu yang lebih lama. Untuk mempermudah perjalanan kami, Pak Min membuka jalan baru. Dengan menggunakan sabitnya Pak Min membabat tanaman-tanaman liar yang menghalangi jalan kami. Untuk menopang tubuh pada waktu berjalan, Pak Min membuatkan kami tongkat dari batang kayu yang banyak tumbuh di sekitar kami. Meskipun kami sudah membawa tongkat, masih ada saja peserta yang beberapa kali harus terperosot, karena tanah di hutan tersebut sangat gembur sehingga mudah longsor waktu dipijak. Medan benar-benar berat, kami takut tergelincir dan jatuh ke dalam jurang. Para peserta saling memberi semangat, kami semua berharap untuk sampai di atas dengan selamat. Tahap demi tahap kami lalui dan akhirnya kami sampai di atas. Kami beristirahat sejenak di persimpangan jalan sambil berunding dengan pemandu mengenai jalan mana yang akan ditempuh selanjutnya. Akhirnya kami sepakat untuk mengambil rute terpendek menuju Pendopo Tahura.
Kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak. Tidak ada lagi tanjakan, yang ada hanya jalan turun dan landai. Meskipun jalannya landai, tetapi tantangan yang harus kami hadapi tidak jauh berbeda dengan perjalanan merayap ke atas lereng. Jalan setapak yang kami lalui lebarnya hanya 10-30 cm saja, jadi kami harus berhati-hati sekali dalam menapak, sedikit saja salah menempatkan kaki, kami bisa tergelincir masuk ke dalam jurang. Hiii… seram sekali, apalagi Pak Min mengatakan kalau di dasar jurang sana ada dua ekor macan tutul yang sedang tidur, waduh tambah seram saja. Di sepanjang jalan ini banyak pohon tumbang yang menghalangi jalan. Untuk melewati pohon tumbang itu dengan aman, kadang kami harus tengkurap dan memeluknya. Bagi peserta, semua akan dilakukan yang penting perjalanan aman. Saat melewati satu pohon tumbang seorang peserta salah memijakkan kaki sehingga oleng dan hampir terjatuh, untung ada peserta lain yang menolongnya sampai-sampai mukanya harus terkena pantat peserta yang akan jatuh itu. Semua yang di belakang langsung tertawa geli, ini untung atau buntung ya? Melewati pohon tumbang yang lainnya peserta ini lagi-lagi jatuh, dari tadi hobi sekali jatuh ya… Kakinya sakit, tetapi setelah diberi obat pereda nyeri dan beristirahat sebentar kami bisa melanjutkan perjalanan.
Perjalanan kami sampai di tempat yang lebih panas. Banyak pohon-pohon besar yang kering dan tumbang. Menurut Bapak Sugianto, salah seorang pemandu, hutan di area tersebut pernah terbakar sehingga banyak pohon-pohon yang mati. Kebakaran ini terjadi di malam hari pada musim kemarau tahun 2003 yang lalu. Banyak juga pohon-pohon yang dijarah oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Melewati sebuah pohon tumbang yang melintang di atas jalan, salah seorang peserta berdiri di bawahnya dan memegangi pohon itu seolah mau mengangkat dan memindahkannya ke tempat lain. Mau jadi Tarsan ya…?
Melewati tengah hari, kami mulai turun menuju penjelajahan terakhir yaitu Gua Jepang. Sesekali kami berhenti untuk menikmati pemandangan alam yang benar-benar luar biasa. Untuk menikmati pemandangan yang indah seperti ini ternyata tidak perlu jauh-jauh ke luar kota atau ke luar negeri. Beberapa fotografer kami mengabadikan pemandangan indah itu dengan bidikan kamera. Sesaat kemudian kami telah sampai di bawah lereng, di tanah yang landai dan luas kami beristirahat. Tempat ini hanya ditumbuhi pohon-pohon kecil, menurut Bapak Sugianto, sebelum dibuka menjadi lahan pertanian penduduk pada tahun 1999, area ini masih berupa hutan. Mengingat pentingnya hutan bagi kelestarian sumber air, pada tahun 2002 lahan ini ditanami pohon dan dijadikan hutan kembali.
Setelah beristirahat, kami melanjutkan perjalanan ke Gua Jepang. Menurut Pak Min, jarak ke Gua Jepang kira-kira masih satu kilometer lagi. Untuk mempersingkat waktu, pemandu mengarahkan kami untuk mengambil jalan memotong, menyusuri tepian sungai kecil yang telah kering di tepi ladang wortel. Mungkin nasib kami memang kurang beruntung, seorang peserta terperosok masuk ke dasar sungai yang sudah kering itu, dalamnya kira-kira 2,5 meter. Salah satu peserta turun, mencoba untuk membantunya naik tetapi sangat sulit. Para pemandu dan beberapa peserta sibuk mencari jalan keluar. Beberapa peserta lainnya mencari jalan turun ke dekat hutan karena tidak tahan pada sengatan matahari yang sangat terik di ladang wortel itu. Ada juga peserta yang sudah tidak bisa menahan pipis sehingga terpaksa harus pipis di ladang wortel itu. Mungkin sekalian menyiram wortel yang kekurangan air. Hiii… jorok, tetapi mau bagaimana lagi, daripada pipis di celana, semoga saja wortelnya tidak berbau pesing. Kira-kira 15 menit kemudian peserta yang terperosok ke dasar sungai berhasil keluar. Kaki kanannya terasa sakit apabila digerakkan, pelipis kirinya juga sedikit terluka. Peserta yang satu ini memang tahan banting, dia ingin sekali meneruskan perjalanan ke Gua Jepang, padahal jalannya sudah terpincang-pincang. “Rugi kalau tidak ikut ke Gua Jepang” tuturnya. Sebelum melangkah menuju Gua Jepang, ada lagi satu peserta yang pusing dan mual. Sepertinya dia sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya peserta dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama bersama seorang pemandu langsung mengambil rute menuju pendopo Tahura melalui jalan beraspal, kelompok kedua bersama seorang pemandu lagi melanjutkan perjalanan menuju Gua Jepang.
Di kawasan ini memang banyak gua peninggalan Jepang, tetapi gua-gua itu sudah banyak yang tertimbun tanah, hanya ada beberapa yang tersisa. Ada yang mengatakan kalau gua-gua itu digunakan sebagai benteng pertahanan tentara Jepang, tetapi ada juga yang bilang bahwa gua itu disiapkan untuk mengubur penduduk pribumi, entah mana yang benar. Kami mengunjungi beberapa gua yang berdekatan. Udara pengap sangat terasa waktu kami memasuki ruangan gua, di dalam sangat gelap. Kami butuh lampu penerang jika ingin masuk ke bagian gua yang lebih dalam. Rembesan air tanah dari atas gua menjadi tetesan-tetesan air yang membasahi ruangan gua.
Pukul 14.30 semua peserta telah kembali ke Pendopo Tahura, semua kelelahan. Beberapa peserta yang sakit diberi obat, beberapa peserta yang lain beristirahat sambil mencuci kaki dan tangan dengan air panas. Sebenarnya kami ingin sekali mandi di sumber air panas ini, tetapi waktu sudah terlalu sore, kami harus segera melanjutkan perjalanan pulang. Setelah cukup beristirahat kami melanjutkan perjalanan pulang. Dalam perjalanan pulang kami termenung, ini adalah perjalanan jelajah alam yang ke-13 dengan jumlah peserta 13 orang. Benarkah angka 13 itu angka sial atau ini hanya kebetulan saja? Yang jelas perjalanan kali ini adalah perjalanan paling lama yang pernah kami tempuh dan memberikan kesan tersendiri bagi masing-masing peserta. Kami menyimpan tongkat-tongkat bersejarah buatan Pak Min sebagai kenang-kenangan.
Daftar peserta jelajah alam.
KSU Pointer:
- Johanis Rampisela
- Anida Etikawati
- Lusia Sumarmi
- Herawati Sikumbang
- Sri Astutik
- Triwitarsih
- FX Rizal Hartanto
- Riyanto
- Tini Wulandari
- Citra Ayu Saputri
- Yuliatul Maghfiroh
- Ari Heriawan
PrimkopPOS:
- Nur Azizah




































Goa Jepang di Tahura R.Soerjo,indah banget,di salah satu gua ada tetesan air yang datang dari atap…rugi dech, kalau gak kesana. Untuk peserta yang mukanya kena pantat, gimana ya rasanya?
Wow seru banget dan banyak cerita y disana. pemandangannya juga luar biasa. pengen kesana… hik..hik.. tapi gimana ya apa aku masih sanggup kesana. sedang fonis dokter tidak mengijinkan.
pengin juga kesana
Pengalaman ikut jelajah alam ke lereng Gunung Welirang yang mengesankan…gimana tidak rencana masuk sungai tuh ga ada, ehh…tiba-tiba kebelet pipis daripada ntar diliat mbah Min lagi jongkok di ladang wortel…ta nyebur aja ke sungai mumpung sungainya kering…wakakaka, terima kasih P.Jo (atas bantuan dan segalanya), Mas Ari (yg bantu keluar dr sungai), Mbak Tini, Mbak Nida (yg bantu jalan thetah) dan teman2 lainnya.
Terima kasih juga atas partisipasi Mbak Nur. Kakinya sudah sembuh? Baru pertama kali ikut sudah dapat musibah, semoga tidak kapok untuk mengikuti jelajah alam di Pointer.