Merayakan Sukses Setiap Hari
Ada seorang sahabat yang suka berbagi lelucon. Di sebuah kesempatan merayakan ulang tahun orang tuanya yang berumur lanjut, dilarang menyanyikan lagu dengan bait, “Panjang umurnya, panjang umurnya…” Ketika ditanya alasannya, sahabat tadi menyebut kalau orang tuanya sudah sakit-sakitan dan menderita. Mendoakan agar dia berumur panjang sama dengan memperpanjang penderitaan.
Awalnya terdengar aneh, setelah didengarkan ada rasa maklum dari dalam sini. Kendatipun masih tersisa bekas-bekas tawa dan candanya. Dan tawa-canda tidak lain dari bentuk perayaan kehidupan. Ketika manusia tertawa, ada yang melakukan perayaan di dalam sini. Pertanyaannya kemudian, “Mungkinkah ada hidup yang pekerjaan setiap harinya hanya melakukan perayaan?” Sebuah pertanyaan singkat dengan jawaban yang amat panjang.
Hari dimulai dengan gerakan-gerakan kehidupan yang senantiasa bergerak dalam bandul-bandul perubahan. Tidak satu pun pergerakan waktu yang ditandai oleh hidup tanpa perubahan. Yang ada hanya perubahan, perubahan, dan hanya perubahan. Perayaan-perayaan kehidupan sulit, dan bahkan teramat sulit dilakukan oleh manusia yang memiliki kriteria-kriteria tetap. Sebab, dengan kriteria tetap manusia langsung tertendang oleh perubahan. Tatkala kriterianya memenuhi syarat, maka perayaan terjadi. Ketika kriterianya tidak memenuhi syarat-syarat perubahan, maka terpental jauhlah manusia dari perayaan.
Disinari cahaya-cahaya pengalaman seperti ini, tidak sedikit manusia yang mulai belajar hidup seperti alam yang tidak mengenal kriteria. Alam sebagaimana diwakili oleh langit, matahari, bintang, bulan, samudra, gunung, dan tumbuh-tumbuhan sudah lama sekali hidup tanpa kriteria. Matahari tidak bertanya apakah Anda orang baik atau tidak, ia memberi cahaya. Pohon tidak menemukan syarat dan kriteria, ketika berteduh di sana pasti teduh. Bulan juga serupa, ia tersenyum pada siapa saja. Lebih-lebih laut, apa pun yang datang pasti diterima.
Mungkin ketiadaan kriteria ini juga yang membuat mereka berumur lebih abadi. Sehingga betul kata seorang penutur kejernihan, alam ada lebih dari sekadar alasan mendukung keberadaan manusia. Alam ada juga untuk menunjukkan jalan-jalan pulang.
Dalam bahasa-bahasa seniman yang metaforistik, Raechelle Rubenstein pernah mengutip pendapat indah seorang seniman besar, “The beauty of the sea and mountains, they were as if united in sexual intercourse.” Keindahan samudra dan pegunungan, seolah-olah mereka bersatu dalam pelukan-pelukan yang amat mesra. Sehingga, alam (sebagaimana diwakili gunung dan samudra) seperti sedang menunjukkan jalan pulang pada manusia: berpelukan mesra dengan kehidupan!
Tidak saja dengan sukses berpelukan, dengan gagal pun berpelukan. Tidak saja orang baik yang jadi teman, orang tidak baik pun jadi teman. Tidak saja tawa yang menggoda, luka pun sama menggodanya. Tidak saja naik yang menantang, turun pun menantang. Tidak saja diberi pangkat menggembirakan, ketika dipensiunkan pun sama menggembirakannya. Tidak saja hujan menghadirkan keteduhan, panas pun sama teduhnya. Tidak saja kehidupan bermakna, kematian pun bermakna.
Tatkala semua bentuk dualitas dan negasi yang bertentangan, dipeluk sama mesranya oleh tangan-tangan manusia, maka setiap hari adalah perayaan. Ini bisa mudah, bisa juga susah. Amat tergantung pada seberapa kuat cengkeram pikiran -lengkap dengan keserakahannya untuk memilih- dalam kehidupan seseorang. Bila pikiran mencengkeram amat kuat, susah jawabannya.
Salah seorang manusia yang pernah sampai di tataran merayakan sukses setiap hari bernama Chogyam Trungpa, dalam Crazy Wisdom ia pernah menulis: “Experiences are not particularly regarded as painful or pleasurable… they just are. Even fear is a very wise message.” Pengalaman tidak berkerangka menyenangkan atau menyedihkan, pengalaman adalah pengalaman, ia hadir sebagaimana adanya. Bahkan ketakutan pun bisa membawa pesan-pesan kebijaksanaan.
Siapa saja yang berhasil melihat pengalaman, sejarah, pengetahuan, legenda, memori sebagaimana adanya, ia memasuki wilayah berpelukan mesra dengan kehidupan. Untuk kemudian ditunjukkan jalan-jalan pulang. Tanda-tanda awalnya berupa hidup yang dirayakan setiap hari. Jangankan makan makanan enak, bernapas pun sebuah perayaan. Jangankan berbaju indah dan mewah, tanpa busana pun menyebut diri penuh keberuntungan. Jangankan berlimpah harta dan takhta, dalam ketiadaan harta dan takhta pun ia merasa bersyukur.
Gary Zukav adalah manusia lain yang juga sudah sampai di sini. Dalam karyanya The Seat of the Soul, ia pernah menulis, “An authentically empowered human being is clear in his perception and thinking. Clarity is the perception of wisdom. It is seeing with wisdom.” Manusia-manusia otentik bersahabat dengan kejernihan. Persepsinya bersih dan bening. Melihat dengan kebijaksanaan, itulah keseharian hidupnya.
Tatkala seluruh penglihatan diterangi kebijaksanaan, pelukan-pelukan mesra dengan kehidupan semakin erat. Semakin erat pelukannya, semakin sering hidup menjadi perayaan. Di sebuah titik, tidak ada satu pun langkah yang gelap. Semuanya serba terang benderang. Seperti berjalan di lorong terang, penglihatan jelas, rasa takut menghilang, harapan tidak lagi mendikte, bahkan keindahan terlihat di sana-sini. Adakah kehidupan yang lebih meriah dari kehidupan yang hanya berisi perayaan?
Sumber: Jejak-jejak Makna, Gede Prama
Leave a Reply