Milik Ayah yang Paling Berharga

Ketika saya harus mengurus penerbitan majalah ilmiah di kampus dengan Pertamina pada tahun 1976, saya berkesempatan pula melihat perpustakaan Prof. Mohammad Yamin S. H. yang telah berpindah ke Pertamina. Pada saat perpustakaan beliau itu dibeli, Pertamina sedang berada dalam “zaman kejayaannya”.
Apa yang saya lihat sungguh menyedihkan. Perpustakaan itu tidak sebagaimana yang seharusnya, buku-buku tidak teratur menurut katalog, bahkan pada satu sisi yang panjang, terjemur oleh sinar matahari yang menembus langsung dari jendela tak bertirai. Perpustakaan ini jelas tidak terawat, bahkan tak ada tenaga khusus yang ditugaskan mengurusnya sepenuhnya.
Pada saat itu langsung terlintas di pikiran saya, betapa akan sangat menyedihkan apabila perpustakaan Ayah menemui nasib yang sama. Sejak itu saya bertekad, bagaimanapun juga, anak-anak Hatta harus merawat sendiri buku-buku Ayah, milik pribadi beliau yang bagi Ayah sendidri tak ada taranya.
Pada suatu hari Ayah memanggil saya ke ruang kerjanya. Dengan mimik yang biasa, beliau berkata, “Meutia, pilihlah buku-buku dari bibliotik Ayah di atas yang berguna bagi studi Meutia.”
“Buat apa Yah?” saya bertanya.
“Buat Meutia sendiri. Sebab kalau Ayah meninggal nanti, mungkin kalian bermaksud menjual buku-buku Ayah untuk biaya hidup Ibu dan kalian. Meutia kan tahu, pensiun Ayah….
Belum sampai selesai kalimat itu, saya sudah merasa bahwa beliau mau mengatakan bahwa pensiun Ayah takkan cukup untuk membiayai hidup kami, terutama Ibu, yang ditinggalkan. Kalau kini ada keluarga yang masih membantu, bagaimanakah bila Ayah meninggal nanti?
Karena saya sudah merasa tahu akhir kalimat itu, saya cepat memutus beliau, “Jangan Ayah! Saya tidak mau ambil buku Ayah dari atas. Buku-buku Ayah tidak boleh kami jual. Masih banyak barang lain yang bisa kami jual kalau memang diperlukan.”
Ayah tertegun memandang saya sehingga saya merasa “risau” karena menyangka beliau tertegun karena saya potong kalimatnya, yang hampir tak pernah saya lakukan sebelumnya. Maka saya mencoba menjelaskan kepada ayah, mengapa saya tidak setuju, “Ayah tahu, apa yang terjadi dengan buku-buku Yamin? Tidak terurus, menyedihkan… Saya dan adik-adik seharusnya wajib mengurus bibliotik Ayah nanti.” Ayah agak cerah wajahnya mendengar keterangan saya. Lalu saya lanjutkan, “Kalau toh ayah mau memberi saya buku, saya minta yang ayah punya dua.”
Ayahku, betapa mulia hatinya! Buku-buku yang merupakan benda-benda kesayangannya melebihi barang apa pun, yang dikumpulkannya sejak beliau berusia 19 tahun, direlakannya untuk kami jual guna biaya hidup bila ayah sudah meninggal. Bukan rumah yang lebih dulu direlakannya untuk kami jual, melainkan buku kesayangannya. Mungkin beliau berpikir bahwa buku hanya sangat bernilai bagi ayah, sedangkan bila Ayah meninggal nanti, keluarga lebih membutuhkan rumah sebagai tempat berlindung. Padahal Ibu dan adik-adik pasti juga sependapat dengan saya, tak rela menjual buku-buku ayah untuk kepentingan kami sendiri dari segi materi. Menjelang tidur pada malamnya, terkenang kembali saya pada kata-kata ayah itu, dan tak terasa air mata pun menetes terharu.
Waktu ayah mengatakan soal buku itu, apa yang terbayang di kepala saya hanyalah nasib buku-buku Prof. Yamin, sehingga tanpa berpikir panjang lagi saya menolak tawaran buku dari ayah yang sesuai dengan bidang saya. namun kemudian, ada hikmah lain dari penolakan saya itu. Kalau dulu saya menerima, bukankah tak mustahil keluarga lain merasa dianak-tirikan? Bagaimana perasaan adik-adik kalau hanya saya yang memperoleh, terutama perasaan Halida? Bidang studinya ilmu politik, cukup banyak buku Ayah yang bisa dipergunakannya. Lalu, kalau buku-buku Ayah sudah dikurangi, apa lagi yang istimewa dari “perpustakaan pribadi Mohammad Hatta” , yang selalu terkenal sebagai perpustakaan pribadi terbesar di Indonesia?
Percakapan antara saya dan ayah itu tetap saya simpan bagi diri saya sendiri sammpai ayah wafat. Tidak saya ceritakan kepada siapapun. Saya takut bahwa jika orang luar mengetahui, mereka akan menganggap bahwa ayah memang bermaksud menjual perpustakaannya, barang yang paling dicintainya. Saya takut pula bahwa hal itu bahkan akan menimbulkan ide tertentu pada orang luar yang tidak saya kehendaki, juga tak dihendaki Ibu dan kami semua!
Syukurlah bahwa sejak itu, bila orang menanyakan kepada ayah tentang buku-buku belialu sesudah ayah meninggal nanti, beliau selalu menjawab, “Ketiga anak saya yang memutuskan.” Kepada Pak Wangsa beliau juga antara lain menyebut nama saya untuk mengurus buku beliau. Sudah tentu ini bukan berarti saya menguasainya sendiri, melainkan saya diberi kewajiban mengambil keputusan terakhir setelah musyawarah dengan adik-adik, tentang apa yang akan dilakukan terhadap buku Ayah sesudah beliau wafat. Dan keputusan saya sejak dulu masih tetap sama : anak-anak Hatta mengurus perpustakaan ayahanda kami sendiri, sebagai tanda bakti kami kepada orang tua. Beliau telah memberikan pendidikan yang tinggi bagi ketiga anaknya, karena itu kami akan dapat mempergunakan buku-buku itu, selain memeliharanya, sesuai dengan bidang ilmu yang kami miliki. Keyakinan saya semula benar, Ibu dan adik-adik, suami dan ipar saya, setuju bahwa kami merawat sendiri buku-buku Ayah sebagai tanda bakti kami kepada beliau yang telah tiada.
Saya juga bersyukur bahwa tidak lama kemudian sesudah percakapan kami itu, Ayah memberikan kepada saya buku antik, The History of Java karangan Thomas Stamford Raffles, jilid I dan II, terbitan tahun 1817, karena Ayah memiliki 2 seri. Beliau rupanya ingat akan permintaan saya tersebut di atas. Buku itu dianggapnya sebagai hadiah ulang tahun saya yang ke-30, meskipun tidak tepat diberikannya pada hari itu. Tentu saja buku ini tidak ternilai artinya bagi saya.
Syukur alhamdulillah bahwa kurang dari tiga tahun sesudah itu, Pemerintah mengadakan peraturan baru tentang besarnya pensiun Ayah. Maka saya berkata ” Sekarang betul-betul Ayah tidak perlu lagi memikirkan tentang buku Ayah, dengan adanya pensiun baru ini.” Maksud saya, mengingatkan kembali tentang percakapan kami itu. Ayah tersenyum gembira.
Meutia Farida Swasono, Pribadi Manusia Hatta, Seri 2, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply