Nazir Pamontjak Pulang ke Indonesia
Dipenghujung tahun 1928, Nazir Pamontjak, salah seorang kawan Bung Hatta dalam kasus penangkapan mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda tersebut, pulang ke Indonesia. Selagi saya masih menjadi anggota Partai Nasional Indonesia ranting Tanah Abang, saya sengaja datang untuk bertemu dengan Nazir Pamontjak tersebut dan berhasil.
Dalam perjumpaan pertama dengan Nazir Pamontjak ini, saya memperkenalkan diri bahwa saya berasal dari Minangkabau dan menjadi anggota Partai Nasional Indonesia yang berdomisili di Jakarta. Dari perjumpaan ini saya mendapat informasi langsung dari seorang yang pernah berperan dalam Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda pada tahun 1924, yang merupakan seorang kawan dekat Bung Hatta.
Saya mendapatkan pinjaman bundel-bundel Hindia Putera dan majalah Indonesische Vrij, dua majalah Indonesische Vereeniging dan Perhimpunan Indonesia. Nazir Pamontjak meminjamkannya kepada saya dengan perjanjian agar kedua majalah tersebut harus dikembalikan padanya.
Saya pelajari tulisan-tulisan Bung Hatta dalam lembaran Hindia Putera yang berjudul Drainage. Dalam bundel-bundel itu saya dapati pula Gedenkboek van de Indonesiche Vereeniging, dengan tulisan Bung Hatta yang berjudul Indonesia in de Wereldgemeenschap dan Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen di dalamnya. Tulisan-tulisan tersebut sangat menarik.
Pada tahun-tahun 1928, 1929, dan 1930, saya memusatkan pikiran saya mempelajari ajaran Dr. Soetomo, Dr. Wahidin, H.O.S. Tjokroaminoto, H.A. Salim, Dr. Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Surjaningrat, Ir. Soekarno, dan Drs. Mohammad Hatta. Saya dapat mengikuti kebenarannya sebagai alat perjuangan politik menuju Indonesia merdeka, versus kolonialisme.
Perjumpaan saya dengan Nazir Pamontjak sebagaimana saya sebutkan di atas, menyebabkan saya berniat akan mengadakan korespondensi dengan Bung Hatta secara pribadi. Secara serius Nazir Pamontjak memberi alamat Bung Hatta di Den Haag. Akhir tahun 1928, saya mulai surat-menyurat secara pribadi dengan Bung Hatta. Hasilnya, Bung Hatta mengirim majalah Indonesie Vrij tahun 1924 mengenai tulisannya tentang Indonesia merdeka, sebagai berikut:
“Cepat atau lambat, pada suatu waktu, bangsa yang terjajah akan merebut kembali kemerdekaannya. Itu adalah hukum besi sejarah dunia. Cuma suasana dan keadaan, betapa gerakan kemerdekaan itu terjadi, akan ditentukan oleh mereka yang berkuasa. Sebagian besar tergantung pada mereka, apakah lahirnya kemerdekaan itu sejalan dengan pertumpahan darah dan air mata, ataukah berjalan dengan proses perdamaian.
Negeri Belanda menentukan sepenuhnya, bagaimana Indonesia akan merdeka, apakah dengan jalan kekerasan atau dengan jalan damai. Tetapi, dengan memperhatikan sikap sebahagian besar rakyat Belanda, seperti pada debat dalam Tweede Kamer (Parlemen Belanda) pada tahun 1925 tentang undang-undang yang akan mengatur susunan pemerintahan Hindia-Belanda, saya khawatir bahwa jalan pertamalah yang akan ditempuh.
Bahwa penjajahan Belanda akan berakhir, bagi saya itu sudah pasti. Itu hanya soal waktu, dan bukan soal ya atau tidak. Janganlah Nederland memukau diri sendiri bahwa kekuasaannya akan kokoh sampai akhir zaman.”
Begitulah keyakinan Bung Hatta mengenai akan datangnya Indonesia merdeka dengan pasti. Beliau yakin seyakin-yakinnya bahwa perjuangan kemerdekaan tersebut akan berhasil dengan gemilang.
Dalam Kongres Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial yang diadakan pada tahun 1927 di Brussel, Belgia, Bung Hatta berpidato dengan judul ‘Tujuan dan Politik Pergerakan Nasional di Indonesia’.
Pidato beliau ini diucapkannya dalam Bahasa Inggris, tetapi yang penting kita ambil dalam pidato Bung Hatta itu ialah sebagai berikut:
“Setelah Indonesia mencapai kemerdekaan sepenuhnya, sebaiknya bentuk negara adalah negara serikat atau negara kesatuan. Susunan pemerintahannya harus kuat dari bawah, dengan tujuan mendidik rakyat mengatur pemerintahan negara secara demokrat, yang bersendi Kedaulatan Rakyat sepenuhnya, kuat dan berwibawa.”
Begitu pikiran-pikiran politik, konsep politik Bung Hatta mengenai Indonesia merdeka telah dilontarkan ke dunia internasional. Pidato beliau yang dipandang penting dan Bung Hatta meyakini sebaik-baiknya bahwa apa yang telah dipidatokan akan didengar oleh dunia internasional.
Bermawy Latief, Pribadi Manusia Hatta, Seri 6, Yayasan Hatta, Juli 2002.
Leave a Reply