Nyontek Nih….. Yee
Setiap ada kesempatan dan waktu luang, Andrie gemar dan rajin menulis kata-kata bijak di buku harian maupun di kertas coretan yang sebagian ditempel di tempat-tempat yang mudah dibaca atau dilihat oleh dirinya sendiri. Tujuan penulisannya adalah untuk menandai sebuah peristiwa dan menyemangati dirinya. Memerintah diri sendiri untuk tetap bersemangat dan pantang putus asa. Manfaat menulis ini ditularkan Andrie kepada peserta seminar untuk mulai menuliskan pengalaman dan setiap target, tahunan, bulanan, bahkan harian sebagai bahan evaluasi dan memantapkan semangat juang demi meraih cita-cita.
Di tempat kos Andrie terbilang tempat mangkal teman-teman dengan berbagai kalangan. Suatu malam, saat Andrie sedang mandi, ada seorang yang diam-diam masuk ke kamar dan duduk sambil menuliskan, menyontek, mencatat kata-kata yang ditulis Andrie yang tertempel di tembok. Ternyata menurutnya, kata-kata yang Andrie tulis bagus sekali, cocok dengan kondisi dia saat itu, bisa bikin lebih semangat dan kata-katanya membantu dia menguatkan dalam menghadapi masalah yang sedang dihadapi.
Andrie sangat senang dan bangga karena kata-kata yang dibuatnya ternyata juga bisa bermanfaat membantu menyemangati orang lain, terutama teman sendiri.
Dari peristiwa itu, timbul sebuah pemikiran cerdas. Bila kata-kata yang aku buat untuk menyemangati diri sendiri, ternyata juga dibutuhkan temanku, bisa jadi di luar sana pun, banyak pula orang yang juga membutuhkan. Maka timbullah ide untuk membuat kartu ucapan penyelip buku berisi kata-kata bijak, motivasi, dan pastinya mengandung pesan moral positif yang bisa dijual di toko.
Tetapi bagaimana caranya membuat sebuah kartu ucapan? Dan semua gerakan berusaha itu tentu membutuhkan modal, modalnya mesti mencari di mana? Akhirnya untuk mencari modal, dipasanglah iklan baris di surat kabar untuk menerima murid baru melatih kungfu secara private.
Ternyata sambutan untuk mengajar kungfu cukup bagus, dan terbentuk grup kecil, dihitung dari penerimaan dari satu grup tidak cukup terkumpul modal yang di harapkan, maka di buka grup kedua, ketiga, dan seterusnya. Sungguh pekerjaan yang tidak ringan karena Andrie langsung terjun sendiri melatih. Di luar kegiatan melatih setiap sore hingga malam hari, Andrie yang biasanya di bantu oleh saya sepulang kuliah, mulai meneliti, memilih, dan menyusun kata-kata mutiara yang pernah ditulis yang sekiranya cocok dibuat kartu, men-design bentuk kartu dan gambar yang akan digunakan.
Ada sebuah pertanyaan yang mendasar saat itu, yaitu merek dagang apa yang akan digunakan, yang gampang diingat, enak dibaca, singkat, dan memiliki arti yang bagus? Akhirnya Andrie memberi merek dagangnya Harvest (didapat dari nama Golden Harvest). Harvest berarti panen. Dengan logo serumpun padi menguning dan sedang merunduk siap untuk di panen. Maka filosofinya adalah: “Hanya dengan memberi kita baru mendapat”. Jika hendak berhasil, dalam bidang apa pun, harus dimulai dengan memberi, memberi, dan memberi, yang artinya bekerja, bekerja, dan bekerja, baru ada pengharapan untuk memetik hasilnya.
Langkah berikutnya, kami mendatangi percetakan untuk menanyakan syarat pembayaran dan prosedur pembuatan kartu yang kita inginkan. Ternyata begitu barang yang kami pesan diantar, biaya cetakan harus di bayar lunas. Wah, jelas ini membuat kami berpikir ulang, barang selesai cetak, belum juga di jual, harus dibayar lunas di muka. Hitung punya hitung, uang yang kami kumpulkan rasanya tidak bisa mencukupi untuk membayar utang.
Masalah terpecahkan berkat teman yang baik hati, King Yuwono. Andrie akan dikenalkan dengan percetakan Sastra Tjitra, Pak Gani nama bosnya. Dengan berbesar hati kami membuat janji untuk bertemu dengan Pak Gani dan berangkat ke percetakan. Sesampai di sana, kami menceritakan niat kami untuk membuat kartu, menanyakan syarat dan prosedur cetaknya. Singkat kata, Pak Gani menyetujui membantu kami meski ternyata percetakan tersebut tidak melayani order kecil seperti pesanan kami. Dan Pak Gani menyelesaikan orderan kami di sub kan ke rekanan mereka.
Selanjutnya setelah kami bertumbuh menjadi lebih besar, kami mulai disibukkan mencari supplier untuk membuat dislay agar kartu-kartu bisa dipajang di toko. Setelah semua siap, kami berangkat dan mulai memasuki toko-tokok untuk menawarkan barang dagangan.
Melewati hari ke hari, penolakan demi penolakan harus kami terima dengan lapang dada, dengan berbagai macam alasan penolakan. Saya sendiri sudah hampir putus asa melanjutkan perjuangan yang serasa tidak berujung ini, tetapi melihat semangat Andrie yang luar biasa,saya tidak berani menunjukkan kecemasan dan was-was yang mendera di dalam hati.
Hingga suatu sore, tidak jauh dari tempat Andrie melatih kungfu, ada sebuah toko, Andrie pun datang ke toko itu dan berniat menawarkan barangnya. Entah kebetulan atau keberuntungan, dia bertemu langsung dengan pemilik toko yang cukup ramah, sambil menawarkan barang Andrie pun bercerita tentang siapa dirinya yang sedang belajar kerja. Tampaknya iseng saja si bos bertanya tentang film, produk dan diskon yang didapat. Diskon yang diberikan 40%, ditawar oleh pemilik toko menjadi 50% dengan catatan mengejutkan: bila oke, dibayar kontan! Akhirnya pun disetujui. Andrie pun pulang ke kos dengan gembira sekali!
Sungguh, semangat juang pantang menyerahnya, ketegaran, antusiasme, optimisme, keuletan, ketabahan, keyakinannya, dan kepercayaan diri yang digenggam erat itu akhirnya membuahkan hasil! Tidak tersisa satu persen pun untuk ragu-ragu, takut dan cemas akan kegagalan.
KEKUATAN ANTUSIAS
Tiada halangan yang dapat membendung
Antusias seseorang
Yang telah memiliki kesadaran akan kekuatan
Potensi dirinya
Dan tahu tentang cara efektif yang dapat dilakukan
Untuk mencapai apa yang menjadi keinginannya.
Memiliki kekuatan antusias dan keyakinan di kehidupan kita untuk meraih apa yang kita inginkan karena seperti kata pepatah “You can become a person you want to be”, Anda bisa menjadi seseorang seperti yang Anda inginkan!
Sumber: Andrie Wongso, Sang Pembelajar

Leave a Reply