Olahraga Naik Sepeda
Untuk menjaga kesehatan beliau, dan kalau cuaca mengizinkan, Bung Hatta dan saya naik sepeda sehabis sembahyang Subuh, berkeliling Yogya yang masih sepi. Senantiasa saya atur supaya jalan yang kami ambil tiap kali berubah-ubah, supaya dengan demikian juga terjaga keselamatan Bung Hatta. Bung Hatta paling tidak suka kalau pengawal terlalu banyak dibawa-bawa untuk menjaga keselamatan beliau, apalagi untuk hal yang hanya dimaksudkan sebagai berolahraga naik sepeda. Bung Hatta selalu tersenyum melihat pegawai-pegawai negeri yang masih duduk-duduk di depan rumah dengan memakai piyama atau sarung, kemudian segera lari ke dalam rumah waktu mereka melihat dan mengenal Bung Hatta yang lewat. Di waktu-waktu serupa inilah Bung Hatta kelihatannya relaxed, yang sangat beliau perlukan untuk dapat bekerja seterusnya dengan tidak ada henti-hentinya.
Kalau ada kesempatan, Bung Hatta juga sangat menghargai waktu istirahat di Kali Urang pada tiap-tiap akhir minggu. Berhubung beliau tinggal di sana hanya satu malam, biasanya keluarga lainnya tidak turut, untuk menghindarkan susah-payah mengangkut perabot-perabot meja dan dapur dan rombongan pembantu/pelayan, yang biasanya dibawa dari Yogya. Tentu sewaktu-waktu keluarga Bung Hatta juga turut beristirahat di Kali Urang untuk seminggu atau lebih, sedangkan Bung Hatta dapat turun ke Yogya kalau perlu.
Di Kali Uranglah Bung Hatta ada kesempatan untuk mengadakan gerak badan jalan kaki, yang sangat beliau gemari, karena sudah menjadi kebiasaan di zaman pembuangan di Bandaneira. Kadang-kadang ada juga kenal-kenalan yang mau turut mengiring Bung Hatta berjalan kaki, tetapi ternyata tidak mampu menuruti “tempo” Bung Hatta.
R. Batangtaris, Pribadi Manusia Hatta, Seri 7, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply