Pasien yang Berdisiplin Tinggi
Bapak adalah seorang pasien yang sangat memperhatikan apa yang dinasihatkan oleh dokter-dokter yang merawat beliau. Bapak tidak pernah mengeluh, meskipun tiga kali sehari jarinya ditusuk untuk diambil darahnya.
Beliau juga tidak pernah mengeluh jika harus disuntik lebih dari sekali sehari. Di samping itu, belum pernah Bapak mengaduh-aduh kesakitan sebagaimana halnya yang saya hadapi pada pasien-pasien lainnya selama 15 tahun bertugas sebagai perawat.
Kawan-kawan perawat dan saya sendiri selalu memperhatikan bahwa beliau selalu tepat minta diteteskan obat mata. Bapak juga selalu tepat waktunya dalam minum obat. Semua jadwal perawatan dilakukan dengan teratur. Jika sudah pada waktunya suster belum juga datang untuk mengantarkan obat, maka beliau menyuruh kerabat yang menjenguk untuk menanyakan obatnya kepada suster, atau membunyikan bel.
Bapak antara lain menderita penyakit gula, sehingga beliau harus mengurangi rasa asin dalam makanan. Oleh sebab itu, makanan beliau hampir tawar rasanya, baik waktu di rumah sakit maupun waktu di rumah. Biarpun begitu, beliau selalu makan dengan baik, dan tampaknya lahap, sehingga menimbulkan rasa lapar bagi orang lain yang melihat beliau makan. Namun jika kita mencicipi makanan yang beliau makan, rasa lapar itu akan segera hilang lenyap, karena makanan yang tampaknya enak itu rasanya tawar kurang garam. Tak terlihat sedikit pun kekesalan pada wajah Bapak. Bagi beliau, makan adalah untuk kesehatan, dan kurang dari sekadar memuaskan selera.
Demikianlah Bapak Hatta, pasien yang sangat mematuhi larangan dokter maupun saran-saran dokter. Kemauan beliau untuk sembuh sangat besar dan patut ditiru oleh pasien-pasien lainnya.
Walaupun begitu, pada satu peristiwa pernah juga saya melihat beliau tidak sabar. Sebabnya adalah karena makanan terlambat datang, padahal sebagaimana contoh di atas, Bapak adalah orang yang paling tidak suka pada keterlambatan. Ketika itu, setelah Bapak bersembahyang, tiba waktunya makan siang. Bapak melihat ke arlojinya. Saya bersiap-siap akan menyediakan makanan, namun pada hari itu ada “kesalahan teknis”: makanan dari rumah sakit terlambat datang sebab gas pada dapur diet rusak.
Sambil duduk di kursinya, Bapak berucap demikian padaku, “Suster, kalau sudah begini, mau diapakan lagi saya?” sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Beliau tampak marah. “Coba panggil Pak Wangsa”, katanya melanjutkan.
Saya segera menuju kantor Pak Wangsa di samping rumah, dan beliau pun datang. “Oh ya, Bung, menurut RSCM, gasnya mati. Sudah ditelepon, sebentar lagi makanan datang.” Pak Wangsa tak lama kemudian meninggalkan kamar kerja Bapak dengan berkata, “Sabar ya suster!”
Sepeninggal Pak Wangsa, Bapak Hatta mengatakan kepada saya, “Bagaimana suster… RSCM, gas mati saja tidak punya ganti.” Namun beliau tampak tenang kembali setelah makanan datang.
Ny. Saudah Husyn, Pribadi Manusia Hatta, Seri 12, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply