Pelindung Yayasan
Hubungan persahabatan saya dengan Bung Hatta tambah erat lagi setelah beliau bersedia menjadi pelindung Yayasan Idayu, yaitu setelah Bung Karno meninggal dunia. Bung Hatta bersedia menjadi pelindung Yayasan Idayu atas permintaan Bapak Soemarmo, Ketua Badan Pelaksana Yayasan Idayu, teman seperjuangan dan kawan beliau sejak dari zaman Yogya dulu.
Bung Hatta senang sekali dengan buku-buku dan segala usaha Yayasan Idayu. Yayasan tersebut, yang menurut sejarahnya memakai nama ibunda Bung Karno, sebab ada hubungannya dengan Bung Karno.
Pada tahun sesudah 1965, apa-apa yang berbau Soekarno atau berhubungan dengan Soekarno, ditakuti orang, dijauhi orang, dianggap bisa merupakan bahaya. Kita bisa didemonstrasi bila menunjukkan simpati terhadap Soekarno. Sangat mencekam bertahun-tahun lamanya. Ini suatu kenyataan. Orang takut terang-terangan mengemukakan hal-hal yang baik tentang Soekarno.
Tetapi lain dengan Bung Hatta. Belum selang berapa lama Bung Karno wafat, Bung Hatta diminta kesediaannya untuk menjadi Yayasan Idayu. Secara spontan beliau menyatakan bersedia. Suatu sifat yang luar biasa, padahal suasana anti-Soekarno masih memuncak ketika itu. Sebagai salah seorang pendiri dan pengurus Yayasan Idayu, kami bisa bekerja lebih tenang.
Ada lagi yang saya ingat. Bila Bung Hatta diundang datang ke Yayasan Idayu atau ke rumah pribadi saya, beliau selalu datang. Tidak pernah beliau tidak hadir. Saya agak heran, kok begitu besar simpati pribadi beliau kepada Yayasan Idayu maupun kepada saya dan keluarga. Simpati beliau itu sungguh-sungguh, jelas tidak main-main atau pura-pura. Kalau beliau tidak senang terhadap sesuatu, terang-terang beliau mengatakan tidak senang. Simpati beliau terhadap pribadi saya dan keluarga diikuti oleh seluruh keluarga beliau, termasuk menantu-menantu.
Masagung, Pribadi Manusia Hatta, Seri 9, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply